
Terik sinar matahari mulai menampakkan kesombongannya ketika Axel dan teman temannya tersadar sesaat setelah cukup lama terbengong mengingat ucapan Ki Marta yang masih terngiang di telinga mereka.
Angga melirik jam tangannya. Pukul 7.30 pagi. Ia menarik napas lega sesaat merasakan segarnya udara di sekitar rumah itu.
Pandangannya tertuju ke mobil yang didalamnya ada Cika dan Arini. Dia tersentak "Arini" mengejutkan Axel dan lainnya.
Cepat dia melangkah menuju Pajero putih dan diikuti lainnya.
Axel buru buru membuka pintu mobil dan dengan cepat mengangkat tubuh Arini dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Untuk kesekian kalinya ia merasakan aliran listrik yang cukup kuat mengaliri darahnya saat menyentuh tubuh Arini. Dipandangnya wajah Arini yang membuatnya merasa tenang dan damai.
Angga hanya menghela napas melihat Axel yang telah mendahuluinya membawa Arini ke dalam rumah.
Sial!
Rutuknya kesal
"Lagi-lagi aku kalah cepat, apa sih maunya Axel, dari dulu selalu menghalangiku mendekati Arini," dengusnya gusar.
×××××××××
__ADS_1
Rumah besar itu mempunyai 3 kamar tidur yang didalamnya ada ranjang berseprai putih dan sarung bantal juga berwarna putih. Di sudut kamar ada lemari kayu jati yang masih nampak kokoh tidak dimakan rayap. Setiap kamar ada kamar mandi di dalamnya. Ketiga kamar itu letaknya berjauhan berjarak 6 meter dengan posisi saling berhadapan. Yang dibelah oleh ruang tengah. Ada dapur yang lengkap dengan peralatan masaknya. Di tengah ruang tamu ada 1 set kursi jati yang sudah mulai pudar warna semprotan catnya.
Di sudut ruang tamu bufet kecil yang isinya hanya beberapa acesoris dari kayu. Pemilik rumah ini sepertinya pecinta furniture berbahan kayu. Tapi rumah siapa ini. Kalau rumah Ki Marta kenapa Ki Marta tadi malah mrnunjukkan letak posisi rumahnya ada diujung jalan sana.
Axel membagi kamar untuk teman temannya. Angga Pram dan Celio di sudut kanan dekat dapur. Cika dan Arini di kamar yang dekat dengan ruang tamu sedangkan dirinya satu kamar dengan Hans yang letaknya berhadapan dengan kamar Angga. Setelah selesai berkemas dan memeriksa sekeliling rumah, mereka pun merebahkan tubuhnya masing maaing di kamar yang sudah di bagi.
Cika yang satu kamar dengan Arini masih gelisah memandangi sahabatnya yang masih belum tersadarkan diri. Cepat ia membuka kotak obat dan memeriksa isinya.
Ammmpuuuunnnnn...
Cika menepuk jidatnya, ternyata ia salah memberikan obat kepada Arini, pantas saja ia tak bangun bangun ternyata obat tidur yang telah diberikannya ke Arini. Mana dosis tinggi lagi. Ya Tuhannnn... bodohnya aku. Rutuknya kesal dalam hati.
Di pegangnya kening dan lengan Arini. Panasnya mulai turun. Semoga saja ia cepat terbangun. Mana dari tadi meracau tak tentu arah lagi...
Ketukan dipintu kontan mengejutkannya.
"Siapa?" tanyanya perlahan.
"Aku Axel"
Jawab suara di balik pintu.
__ADS_1
"Ooo Axel, maauklah pintu tidak di kunci!"
Cekleekk
Suara gagang pintu di tekan ke bawah.
Axel perlahan masuk mendekati Cika yang duduk di tepi ranjang menunggui Arini
"Bagaimana keadaan Arini?"
"Panasnya sudah turun. Tapi ia belum bangun juga" jawab Cika pelan
"Kenapa begitu, memangnya apa yang sudah kamu berikan ke Arini sewaktu kami meninggalkan kalian berdua" tanya Axel penuh selidik.
Taaap
Pertanyaan itu sesaat membuat Cika tersekat. Apa yang harus aku katakan. Axel pasti akan marah jika aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku sudah memberikan obat tidur dosis tinggi ke Arini. Pikirnya jengah.
"Kenapa kamu diam?" tanya Axel lagi.
"A aku ..... " ucapnya terbata
__ADS_1
"Kenapa kamu gugup", Axel semakin curiga.
Tatapan Axel yang tajam dan dingin seolah olah akan menguliti Cika saat itu juga. Sesaat suasana menjadi lengang. Keduanya diam dengan pikiran mansing masing.