BERTARUNG Dengan MAUT

BERTARUNG Dengan MAUT
17. Licik


__ADS_3

Para warga semakin banyak yang berdatangan. Ingin menyaksikan duel Ki Jalal sesepuh kampung yang merupakan ayah Gendis, gadis desa yang menjadi akar permasalahan yang belum bisa di pastikan kebenaran ucapan dan tuduhannya kepada Seto . Salah satu pemuda desa yang saat ini menjadi pesakitan di desa kemangi. Dan lebih hebat lagi Arini dokter muda berparas cantik berbody aduhai yang menjadi sasaran pandangan mesum Ki Jalal. Ayahnya Gendis, dan akan menjadikan Arini istri ke empatnya. Tentu saja hal itu menjadi polemik bagi ke tujuh pemuda itu


Dilema yang mengaliri jiwa jiwa mereka saat ini. Antara bertahan dan selamat atau mati mengenaskan di desa terkutuk itu.


"Ki Jalal, dan kalian semua para warga kampung, aku akan bertarung dengan sesepuh kalian di sini...


Dan klian yang akan menjadi saksi, jika aku kalah , aku akan. bertahan di desa ini dan mungkin menjadi istri keempat Ki Jalal." ucap Arini lantang " dan jika aku menang, kalian harus membiarkan kami bertujuh untuk pergi dari desa ini tanpa ada hambatan sedikitpun dari kalian!" lanjut Arini tegas.


Ki Jalal menyunggingkan senyuman "Kalah atau menang, aku tidak akan membiarkan kalian lolos dari desa ini!" cibirnya dalam hati.


"Arini, kau benar-benar gila!" Axel menarik lengan Arini "Aku tak mungkin membiarkanmu melakukan ini!" pemuda itu menyakinkan gadis belia itu, "Aku yang akan menghadapinya!" lanjutnya tegas.


"Mereka menginginkanku, terutama Jalal ingin aku duel dengannya." jawab Arini tenang.


"Arini mereka licik Ar, kalaupun dirimu berhasil mengalahkan Jalal..dan menang, mereka tetap tidak akan mengijinkan kita pergi, tentu mereka takut kalau sampai terdengar polisi, maka dari itu mereka tidak akan melepaskan kita pergi!" Angga menimpali.


"Iya Ar, sebaiknya cari solusi yang lain'" Cika ketakutan


"keputusan Mereka sudah bulat, tak mungkin mereka menerima saran yang lain." Arini berkata tenang.


Di peluknya Cika dengan erat..seolah akan berpisah untuk selamanya.


Telaga mata Arini basah. Dia tidak yakin apakah bisa, tapi tak ada pilihan lain selain bertarung. Bertarung.


Iya bertarung


Untuk mempertahankan harga dirinya sebagai seorang perempuan.


sebagai perempuan merdeka, perempuan yang punya hak menentukan pilihan, bukan perempuan yang hnya menjadi pelampiasan ***** laki-laki mesum seperti Jalal.


Darahnya bergejolak.

__ADS_1


Amarahnya menjuntai


Arini merasa di remehkan, merasa di injak-injak harga dirinya sebagai perempuan merdeka.


Di pandangnya satu persatu sahabatnya hingga tatapan terakhirnya jatuh pada Axel. Keduanya bertatapan dalam. Sangat dalam. Ada kehangatan disana. Kerinduan disana. Sesuatu yang tak pernah mereka utarakan, namun dapat mereka rasakan bagaikan daya magnet yang saling kuat saling tarik menarik.


Arini menghambur dalam pelukan Axel.


Ia menangis. Tangis yang tak pernah terurai dari bibirnya. Axel memeluknya dengan erat. Mereka semakin erat. Seolah tak akan pernah berpisah.


"Axel, maafkan aku,....maafkan jika aku tak bisa pulang bersamamu" suara Arini terbata.


"Tidak Ar, tidak. Kita akan pulang bersama sama dengan teman-teman kita, tak satupun dari kita akan tertinggal di desa ini." Axel menyakinkan.


"Haaaiiiii......." suara Ki Jalal terdengar marah


"Aku akan mencincang tubuhmu anak muda, kalau kau tidak melepaskan pelukanmu di tubuh calon istriku!" suara Jalal penuh amarah.


"Bedebah, bangsat kau," ucapnya murka "akan aku tebas batang lehermu dengan golokku ini, akan aku gantung kepalamu di gerbang desa, biar semua orang yang masuk ke desa ini tidak akan berani macam-macam lagi di desa ini seperti temanmu yang merusak anak gadisku" ucapnya dengan suara bergemuruh


Hendra yang mendengar ucapan Ki Jalal sontak kaget, namun berusaha menutupinya dengan semakin memanaskan suasana ,"Sudah Ki, hajar saja mereka!" umpannya cepat.


Yang semakin membuat Ki Jalal menjadi semakin panas.


Axel yang telah terbakar amarahnya maju beberapa langkah di ikuti Arini dan lainnya. Warga semakin banyak berdatangan. Ingin menyaksikan peristiwa langka di desa mereka. Pertarungan duel pemuda kota dan sesepuh mereka Ki Jalal yg terkenal di desanya.


"Axel, tenanglah, twnagkan hatimu. Ki Jalal tidak ada apa-apanya denganku," ucap Arini tenang dengan suara nyaring. Pancingannya mengwna. Ki Jalal seperti kebakaran jenggot mendengar ucapan Arini


"Perempuan Kota, jangan kau buat aku semakin marah, bisa saja golokku ini merobek kulit putih mulusmu itu" ancam Ki Jalal.


"Oowww, menakutkan sekali mendengarnya Ki Jalal. Tapi aku ingin. Bukti Ayo buktikan Ki Jalal,!" tantang Arini.

__ADS_1


Membuat wajah Ki Jalal semakin merah padam.


"Aku akan bertarung, kalian carilah sela untuk menyelamatkan diri!" ucap Arini pelan kepada ke enam temannya. Mereka mengangguk.tanpa bisa berkata -kata.


"Ayolah... jangan menatapku seperti itu, kalian menatapku seperti seakan tidak akan pernah bertemu denganku," seloroh Arini sambil menyunggingkan senyum. maha manisnya.


Arini maju beberapa langkah dan berdiri tepat di hadapan Ki Jalal.


ke enam teman lainnya berdiri terpaku dengan pikiran masing-masing yang tidak menentu.


Langkah Arini semakin dekat dan berhenti dengan jarak 1 meter di hadapan Ki Jalal.


Lelaki 50 tahunan itu semakin terpesona dengan daya pikat Arini yang menebar kuat seakan membius kelelakiannya. Matanya menjelajah setiap inci seluruh lekuk tubuh Arini. Ckckxkxkk..luar biasa. Dia memang sangat cantik. Aku harus mendapatkannya. Gumamnya dalam hati tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya.


'Ki Jalal, jangan sampai kau kalah karena daya pikatnya!" teriakan Jmbeong mengejutkannya dan membuka kesadarannya kembali


"Sial, hampir saja aku tak berdaya!" ruruknya dalam hati.


Axel dan Angga merasa jijik dengan apa yg di lihat keduanya. Geraham Angga bergemerwtak begitu pula Axel. Kedua lelaki yang diam diam saling bertaruh untuk mendapatkan hati Arini itu jengah dengan apa yang di lihatnya.


"Bagaimana Ki Jalal?" tanya Arini tenang "apa kau siap bertarung?" lanjutnya lagi.


"Ooooww tentu saja aku siap. bertarung, dan juga siap untuk menjadikanmu istriku," jawab Ki Jalal tegas.


Gendis yang menyaksikan hal itu menjadi panas, tentu dia tidak akan rela jika ayahnya menikahi gadis yang mungkin seumuran dengan dirinya "aku akan mencari cara agar ayah tidak bisa menikahi gadis itu," sungutnya dalam hati.


Arini berdiri tegak menantang. Tatapan matanya tajam. Nyalang.Di hadapannya Ki Jalal yang berdiri menatapnya dengan penuh siaga.


Sliiiinnggg!!!!


Ki Jalal menarik golok dari sarungnya yang terselip di pinggangnya.

__ADS_1


Arini mundur beberapa saat dengan kuda kuda siaga. Kaki kirinya sedikit mundur ke belakang. Ekor matanya mengikuti kilatan golok Ki Jalal.


__ADS_2