
Axel menghentikan mobilnya di depan sekumpulan orang orang yang berdiri menghadang di jalan.
Seorang dari mereka mendekati mobilnya. Lalu mengetuk pintu mobil. Axel menurunkan kaca mobilnya.
Lelaki dengan wajah yang kurang bersahabat itu menatapnya dengan nanar. "Turun!" ucapnya pedas.
Axel pun turun diikuti ke 4 temannya yang ada di mobil satunya.
"Ada urusan apa kalian kemari?" tanya lelaki berperawakan tinggi tegap dengan tampang tak bersahabat yang tak jauh dari laki laki yang baru mengetuk pintu mobilnya.
Dito, Hans, Pramu, Angga dan Celio mendekati Axel.
Sementara Cika masih berdiam di dalam mobil. Menjaga Arini yang masih belum tersadar dari pingsannya.
"Maafkan kami bapak bapak, kami sedang melakukan perjalanan jauh. Tapi sayangnya di tengah perjalanan teman kami sakit dan dia belum sadarkan diri hingga sekarang. Kami bermaksud mencari tempat untuk beristirahat, sampai keadaan teman kami membaik dan pulih dari sakitnya", ucap Pram tenang.
"Iya, kami bermaksud mencari penginapan atau rumah yang disewakan untuk kami beristirahat, apakah ada di desa ini". timpal Hans kemudian.
__ADS_1
Orang - orang yang berkerumun itu saling pandang.
"Apa ucapanmu bisa dipercaya anak muda. Kalau memang temanmu ada yang sakit tunjukkan ke kami mana orangnya!" ujar lelaki berkulit gelap dengan brewok memenuhi wajahnya.
Axel bergerak membuka pintu mobil dan menunjukkan kepada lelaki itu. Hmmm.. gumam lelaki itu ketika melihat Cika dan Arini secara bergantian. Tatapannya nanar ke arah tubuh Arini yang tegolek tak sadarkan diri. Pikiran kotor menari dalam benaknya. Sesaat kerongkongannya tercekat.
"Bagaimana Jambrong, apa benar ada yang sakit?" suara lelaki agak serak mendekati mereka.
"Iya Ki Marta, ada yang sakit, perempuan, dia tak sadarkan diri" jawab Jambrong.
"Anak muda, kalau begitu kalian boleh tinggal dirumahku sementara waktu. " ucapnya menawarkan jasa.
"Sudah tidak usah ragu. Tinggal saja di rumahku untuk beberapa waktu. Rumah itu cukup besar. Cukup untuk kalian bertujuh. Ada 3 kamar dirumah itu" ucap Ki Marta menyakinkan" Lagipula teman kalian sepertinya sangat lemah. Dia harua segera mwndapat pertolongan" timpalnya lagi meyakinkan ke lima pemuda yang ada di depannya yang masih tampak ragu.
Axel dan Angga saling berpandangan.
"Baiklah Ki, kami terima tawarannya". ucap Angga kemudian.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo ke rumah itu" ucap Ki Marta tenang
"Apakah jauh dari sini Ki?" tanya Dito menyelidik.
"Tidak. Tidak jauh. Bawa saja mobilnya bisa di parkir dihalaman rumah." ucapnya datar.
Sesaat mereka saling berpandangan.
^^^^^^^×××××^^^^^^
Mobil mereka berhenti tepat di depan rumah. Rumah besar bercat putih terkesan kokoh dan rapi. Halaman rumah yang cukup luas Terlihat sangat terawat.
Ki Marta turun dari mobil dan berjalan ke pintu.Yang diikuti kelima pemuda tersebut Setelah membuka pintu diapun mempersilahkan ke lima pemuda itu untuk masuk.
"Anak muda beristirahatlah disini sampai temanmu keadaannya membaik. Dan ingat satu hal jangan melakukan hal hal yang tidak pantas di desa ini karena bisa membahayakan nyawa kalian. Dan jaga kedua teman perempuan kalian itu. " ucapan Ki Marta bermakna sangat dalam.
"Maaf Ki, saya belum paham apa maksud ucapak Ki Marta barusan" tandas Angga penuh curiga.
__ADS_1
Ki Marta hanya tersenyum tipis."Kalian pasti paham makaudku" ucapnya sambil beringsut mundur. " Aku pamit dulu. Jaga diri kalian" ucapnya pelan. "Rumahku ada diujung jalan sana, jika kalian perlu sesuatu pergilah kerumahku, aku akan membantu kalian semampuku." ucapnya sambil berlalu dari hadapan kelima pemuda itu yang masih terbengong.