BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Malu mengakui


__ADS_3

Siang itu Dimas sudah bersiap-siap ke kafe untuk menemui Hafsyah. Mereka akan bertemu di kafe siang itu. Sejak tadi Dimas merasa gugup karena ia sudah berniat ingin mengatakan pada Hafsyah hari itu juga.


Dimas sedikit gelisah sesekali menatap jam yang ada dipergelangan tangannya.


'Lima menit lagi Hafsyah akan sampai,' bathin Dimas.


"Huffftt!" Dimas menghembuskan nafas kasarnya karena gugup.


"Tenang Dimas semua akan Baik-baik saja ok," ucap Dimas menyemangati diri sendiri.


Terlihat Hafsyah berjalan mendekat. Dimas semakin gugup dibuatnya Dimas mencoba tersenyum pada Hafsyah yang sedang menatapnya.


"Hai Dim, Assalammualaikum," sapa Hafsyah.


"Wa'alaikumsalam Syah," jawab Dimas berdiri dan menggeser satu kursi untuk Hafsyah.


"Bagaimana keadaanmu Syah?" tanya Dimas.


"Alhamdulillah baik Dim, kamu sendiri?" tanya Hafsyah berbasa basi.


" Eh ya, Alhamdulillah aku juga baik Syah," kikuk Hafsyah.


"Terima kasih ya Dim, sudah menolongku, mungkin jika tidak ada dirimu entah apa yang terjadi padaku."


'Kau ini Syah selalu saja bicara seperti itu, aku sangat senang bisa menolongmu dan aku tulus membantumu,' batin Dimas.


"Ya Syah, santai aja, hanya kebetulan kok," ucap Dimas sesantai mungkin.


"Oiya, mau makan apa?" tanya Dimas.


"Ga Dim, aku minum aja, aku sudah kenyang soalnya," tolak Hafsyah .


"Ya sudah,"


Dimas pun segera memanggil pelayan yang ada didekat mereka. Dimas menyebutkan pesanan yang di inginkan. Tak lama seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Dimas dan Hafsyah segera meminumnya. Hening tak ada percakapan diantara mereka. Dimas menatap Hafsyah lekat.


"Syah, apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Dimas serius.


Hafsyah menaikan alisnya karna bingung. Sungguh Hafsyah tidak mengerti maksud perkataan Dimas barusan


" Maksudmu Dim?" tanya Hafsyah bingung.


Dimas menghela nafasnya lalu menatap lekat Hafsyah.


"Syah, aku sudah tau semuanya," ujar Dimas dingin.


Hasyah terkejut ia bahkan tak menyangka Dimas akan berkata seperti itu padanya.


"Maaf Dim, jika kau hanya ingin bicara seperti ini sebaiknya aku pulang saja," ucap Hafsyah menunduk.


"Syah, kenapa kau menyembunyikan ini semua bahkan kau juga berbohong pada orang tuamu sendiri Syah, aku tau pernikahanmu tidak Baik-baik saja. Iya kan," cerca Dimas bicara tiada henti


"Dimas cukup! jika kau ingin membahas permasalahan rumah tanggaku, aku akan Benar-benar pergi," ucap Hafsyah yang merasa terganggu privasinya terusik oleh Dimas.


"Kenapa Syah, kenapa kau menyembunyikan ini padaku, bukankah aku sahabatmu sedari kecil?" tanya Dimas merasa sedih dan menunduk.


"Apa urusanmu Dimas, ini rumah tanggaku tidak sepatutnya kamu ikut campur dalam rumah tanggaku," ucap Hafsyah lirih


Hafsyah segera berdiri hendak pergi. Namun Dimas berusaha menghentikan langkahnya.


"Karena aku mencintaimu Hafsyah, aku menyayangimu dari dulu hingga detik ini rasa ini tak pernah berubah bahkan semakin bertambah," jujur Dimas pada Hafsyah.


Bagai mendengar petir di siang bolong. Hafsyah tak menyangka Dimas sahabat kecilnya menaruh perasaan padanya. Hafsyah diam tak bergeming. Hafsyah kehilangan Kata-katanya.

__ADS_1


"Syah sudah lama aku mencintaimu dan malam itu aku berniat ingin melamarmu tapi aku terlambat karena orang tuamu telah menerima lamaran dari orang lain," ucap Dimas menjelaskan


Lagi Hafsyah hanya bisa terdiam ada rasa sesak dihatinya. Namun Hafsyah sendiri bingung dengan perasaannya terlebih setelah mendengar pengakuan Dimas padanya.


***


Di tempat lain Bima terlihat gelisah ia sama sekali tak bisa fokus dalam rapatnya. Berkali-kali klien menjelaskan dan meminta pendapatnya namun Bima hanya terdiam membuat sekertarisnya lah yang harus menjelaskannya.


Merasa percuma dan gelisah yang kian memburu membuat Bima memutuskan meninggalkan rapat. Bima pergi meninggalkan rapat tanpa sepatah katapun membuat klien dan yang lainnya menatap bingung.


Bima melangkah keluar pergi menuju ruang kantor kerjanya. Bima mengacak rambutnya dengan frustasi ia bingung dengan perasaannya. Entah kenapa Bima sangat penasaran dengan pertemuan Hafsyah dan Dimas siang ini. Membuat dirinya gelisah tak menentu.


"Kenapa aku segelisah begini? Rasanya aku ingin sekali mengetahui apa yang mereka bicarakan," ucap Bima terlihat mondar mandir di dalam ruanganya.


"Apa aku datangi saja mereka," ucap Bima lagi.


"Ah tidak! Ini sangat memalukan, apa kata mereka jika aku ketahuan mengikuti mereka, lalu aku harus bagaimana aku juga ingin tau ada hubungan apa mereka,apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka bicarakan," ucap Bima merasa bingung tapi penasaran.


"Tunggu! Kenapa aku jadi ingin tau tentang wanita kampung itu, apa benar aku mulai menyukainya apalagi melihat senyumnya membuat jantung ini berdebar tak karuan, atau aku hanya peduli saja bukan mencintainya tapi peduli karna dia kan istriku, hah! istri, sejak kapan aku menganggapnya istri, ucap Bima bertubi-tubi bingung.


" Agh Sial!" umpat Bima


Tiba-tiba bima menemukan ide yang cemerlang. Ada senyum tipis di wajahnya.


"Dengan cara ini, pasti berhasil dan mereka tidak akan curiga," ucap Bima yang masih saja berbicara pada dirinya sendiri. Tanpa sadar, Bima tersenyum karena ide gilanya itu.


Bima melangkah cepat keluar dari ruangannya. Bima segera menuju kafe tempat Dimas dan Hafsyah berada. Bima tau kafe itu karna Hafsyah sebelumnya sudah meminta izin dan menyebut nama kafe itu jadi tidaklah sulit bagi Bima untuk menyusulnya. Tanpa Bima sadari ada sepasang mata yanf mengawasi gerak geriknya.


***


"Mau sampai kapan kau bertahan dan kau menutupinnya Syah," ujar Dimas masih menatapnya dengan tatapan sendu.


"Maaf Dim," ucap Hafsyah lirih.


"Sudahlah Dim, semua sudah berlalu dan kini aku sudah menjadi milik orang lain, carilah kebahagiaanmu sendiri, aku yakin kamu pasti akan menemukan kebahagiaan bersama wanita lain," ucap Hafsyah menerawang lurus ke depan.


"Dengan meninggalkanmu pada lelaki b******n itu!" umpat Dimas seketika.


"Cukup Dim! au bilang cukup! Tiidakkah kau tau orang yang kau sebut itu adalah suamiku," sela Hafsyah merasa kesal dengan umpatan Dimas barusan.


"Ya, suami yang tak menganggap istrinya ada, bahkan dengan banggannya dia memperlihatkan kemesraan kekasihnya didepanmu " Ucap Dimas kesal


Hafsyah menatap Dimas tak percaya


'Darimana Dimas tau semua ini,' batin Hafsyah bingung.


"Sudah cukup. Aku akan pulang," ucap Hafsyah kemudian melangkah pergi.


Namun dengan sigap Dimas mencegat langkah Hafsyah. Dimas menghalangi langkah Hafsyah. Hingga mereka saling menatap diam.


Bima yang melihat itu merasa geram dan ingin sekali Bima meninju wajah Dimas saat itu juga. Dadanya serasa sesak melihat istrinya bersama orang lain.


Bima berjalan menghampiri mereka.


"Syah kali ini izinkan aku membahagiakanmu, suamimu itu tidak mencintaimu Syah ia bahkan menduakanmu, kamu tau itukan, mau sampai kapan kau bertahan dan menutupinnya dari orang tuamu Syah," ucap Dimas lagi.


Hafsyah menangis dalam cadarnya. Semua yang dikatakan Dimas memang benar dan itu membuat Hafsyah menangis dalam cadarnya.


" Hmm!" dehem Bima.


Hafsyah dan Bima menatap orang yang berdehem dilihatnya Bima dengan tatapan dingin tak terbaca.


"Mas disini," ucap Hafsyah memalingkan matanya agar tak Bima tak melihatnya menangis

__ADS_1


"Kau mengikuti kami," ucap Dimas penuh selidik.


"Sejak kapan aku hobi mengikuti kalian," ucap Bima datar.


"Aku kesini sedang makan siang dengan klien ku " Ucap Bima lagi


"Mas, maaf ini aku akan segera pulang " Ucap Hafsyah


"Ayo pulang denganku." Bima menarik tangan Hafsyah membuat Hafsyah tertarik begitu saja


Dimas yang melihat Hafsyah diperlakukan seperti itu tak tinggal diam


"Hei Bima, tidak bisakah kau bersikap lembut sedikit," tegur Dimas pada Bima.


"Apa urusanmu." kini Bima menatap tajam pada Dimas.


"Sudah aku katakan padamu, ini akan menjadi urusanku jika menyangkut dengan Hafsyahku," lantang Dimas.


Hafsyah menatap wajah Dimas sekilas kemudian menunduk.


"Yang kau bicarakan itu istriku dasar tidak tau malu kau!" umpat Bima.


"Aku akan mengambilnya darimu." tantang Dimas dengan berani dan mantap.


"Lagipula sejak kapan Hafsyahku menjadi istrimu bukankah dirimu tak pernah mengakuinya hah!" ucap Dimas menatap tajam pada Bima.


" Oya? menyedihkan." senyum Bima nampak mengejek Dimas.


"Ayo kita pulang," ucap Bima lagi kemudian menarik tangan Hafsyah dengan kasar


"Hei lepassin Hafsyah," lantang Dimas Benar-benar kesal melihat Bima yang Semena-mena pada Hafsyah.


Saat mereka menatap tajam satu sama lain. Seseorang mendekati mereka


"Sayang ... apa yang kau lakukan disini," ujar Nadin pada Bima.


Semua terhenyak menatap Nadin. mereka menjadi pusat perhatian yang ada di kafe tersebut.


'Ah wanita ini, selalu saja datang tak tepat waktu.' umpat batin Bima.


"Kau sendiri ngapain kesini," ucap Bima dingin lurus menatap Dimas dan Hafsyah.


"Aku tadi ke kantormu sayang, lalu aku liat kau seperti Terburu-buru pergi dan aku mengikutimu ternyata kamu kesini," ucap Nadin Polos.


Dimas dan Hafsyah menatap Bima bergantian. Bima mengerti tatapan mereka padanya


'S**t! ketahuan aku berbohong pada mereka,' batin Bima menahan malu. 'aku akan sangat malu pada mereka terutama Hafsyah. batin Bima lagi lalu merutuki dirinya sendiri yang terlihat jelas menahan malu pada mereka berdua.


Tak ingin Nadin berkata banyak lagi. Bima langsung menarik tangan Nadin dan membawanya keluar. Hafsyah menatap Bima sedih


Dimas mendekati Hafsyah yang masih terdiam melihat kepergian suaminya bersama wanita lain.


"Apa lelaki seperti itu yang kau pertahankan ?" Ucap Dimas pada Hafsyah


"Bagaimnapun dia tetap suami dim " Ucap Hafsyah lirih


"Dengan kamu menderita dan kau diam saja," ucap Dimas gemas.


"Ya, inilah takdirku mungkin pernikahan seperti ini yang harus kujalani," ucap Hafsyah melangkah pergi


Dimas mematung menatap Hafsyah dengan tatapan sedih melihat kekasih hatinya diperlakukan seperti itu. Sungguh Dimas tidak terima dan tidak rela.


'Hatimu terbuat dari apa Hafsyahku sayang. Kau berhak bahagia Syah, bagaimanapun kau layak mendapatkan suami terbaik selain Bima sungguh Bima tidak pantas menjadi suamimu kau bidadariku Syah dan kau tetap menjadi Bidadari hatiku sampai kapanpun.' batin Dimas merasa pilu.

__ADS_1


Dimas melangkah pergi dengan lemah membayangkan kehidupan pernikahan Hafsyah selama ini. Dimas bertekad ingin mengambil hati Hafsyah kembali dan membuka mata hatinya.


__ADS_2