
Dimas membawa Hafsyah dengan rasa yang sangat khawatir. Begitupun Rere dan Fina. Abi dan Umi menatap wajah Hafsyah sayu mereka Benar-benar tak menyangka apa yang dikatakan sahabat Hafsyah benar adanya. Umi Hafsyah terus menangisi Hafsyah sepanjang jalan.
"Sayang, kenapa kau tak pernah cerita pada kami," ucap umi Hafsyah mengelus pipi Hafsyah yang terlihat tirus.
"Apa kau sudah tak menganggap kami sebagai orang tuamu?" tanya umi Hafsyah pada Hafsyah yang masih tak sadarkan diri.
Abi menatap istri tercintanya. Ada rasa sesal yang mendalam di hatinya. Karena bagaimanapun juga ini kelalaiannya. Abi Hafsyah menghela nafasnya.
"Umi jangan salahkan Hafsyah. Mungkin yang dilakukan Hafsyah hanya ingin menjaga kehormatannya sebagai seorang istri mi."
"Tapi tidak harus seperti ini bi," sela umi Hafsyah menangis sendu.
"Sudah ... sudah mi, lebih baik kita doakan untuk kesembuhan anak kita dan semoga tidak terjadi Apa-apa pada anak kita," ucap Abi Hafsyah kembali menenangkan sang istri.
"Aamiin," serentak mereka bersamaan.
Abi Hafsyah masih berusaha menenangkan istrinya agar tak bersedih Berlarut-larut. Padahal jauh dalam lubuk hatinya Abi Hafsyah lebih sakit dari apa yang dirasakan istrinya. Namun, Abi Hafsyah sadar ia tak boleh lemah dihadapan istrinya. Terlebih Abi Hafsyahlah yang berperan besar dalam rumah tangga anaknya. Karena Abinya yang mengizinkan menikah saat orang tua Bima melamarnya. Ada rasa sesal yang begitu mendalam dihatinya.
Mereka sampai dihalaman rumah sakit. Dimas memanggil Dokter dan perawat agar segera memberi tindakan pada Hafsyah.
Setelah beberapa lama Dokter memeriksa betul keadaan Hafsyah. Kemudian keluar untuk bertemu keluarga Hafsyah.
"Bagaimana keadaan Hafsyah Dok?" tanya Dimas cemas.
Abi dan Umi juga kedua sahabatnya pun tak luput menuntut penjelasan dari Dokter yang menangani Hafsyah. Sang Dokter menatap mereka satu persatu.
"Pasien tidak Apa-apa, pasien hanya syok saja. Dan sepertinya. Beliau hanya mempunyai tekanan darah rendah itu yang membuat kepalanya sakit," ucap Dokter itu menenangkan mereka.
"Syukurlah," ucap Dimas merasa lega seketika.
"Terima kasih Dok," ucap Abi dan Umi Hafsyah serentak.
"Ya, saya permisi dulu," pamit sang Dokter.
Dokter melangkah pergi meninggalkan mereka.
Orang tua Hafsyah menemani Hafsyah diruangannya. Mereka lega karna tidak ada yang serius pada pingsannya Hafsyah. Tapi tetap saja mereka merasa khawatir pada pernikahan putri semata wayangnya.
"Abi, apa yang akan kita lakukan pada menantu kita?" tanya umi Hafsyah pada suaminya.
"Biar Abi yang urus. Umi tenanglah," ucap Abi Hafsyah kemudian keluar menghampiri Dimas, Rere dan Fina yang masih menunggu di luar.
"Rere, Fina, terima kasih sudah membantu kami," ucap Abi Hafsyah pada mereka.
"Iya bi, sebenarnya ini juga bukan karena kami. Tapi karena Dimas," ucap Fina melirik pada Dimas. Sedang Dimas terlihat menunduk dalam.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Abi Hafsyah lalu menatap Dimas yang nampak tertunduk.
"Ya benar bi, ini semua berkat Dimas," sambung Rere lagi.
Abi menatap Dimas dari atas sampai bawah. Abi menatap haru. Ada rasa bahagia pada diri Dimas saat ini. Abi Hafsyah tersenyum pada Dimas yang dibalas anggukan oleh Dimas.
"Nak Dimas, terima kasih ya. Kami Benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Hafsyah. Kami memang merasa ada yang janggal pada diri Hafsyah tapi kami tidak tau apa itu. Dan berungkali kami juga mencoba bertanya apa yang terjadi, tapi Hafsyah selalu berkata Baik-baik saja dan bahagia," jelas Abi lirih berbicara pada mereka.
"Ya bi. Dimas senang bisa membantu Abi dan Umi," ucap Dimas menunduk hormat pada abi.
"Ya sudah, kalian boleh pulang. Biar aku dan umi yang menjaga Hafsyah Sekali lagi terima kasih ya." Ucap abi tersenyum pada mereka
"Sama-sama bi," ucap mereka serempak
"Kami pulang dulu ya bi?" pamit mereka
" Ya,"
"Assalammualaikum," ucap mereka lagi
"Wa'alaikumsalam."
***
Dua hari di rumah sakit membuat Hafsyah jauh lebih baik. Dimas Rere dan Fina selalu berkunjung menemui Hafsyah untuk selalu memberi suport dan semangat pada diri Hafsyah. Hafsyah sangat bahagia dengan kehadiran Orang-orang yang Hafsyah sayangi. Terlebih orang tua Hafsyah memperlakukan Hafsyah seperti layaknya anak kecil saja. Mereka menjaga Hafsyah dengan penuh kasih sayang. Membuat Hafsyah merasa beruntung telah memiliki orang tua seperti mereka.
Dimas menatap geram. Sedang Hafsyah menunduk sedih. Abi dan Umi Hafsyah saling berpandangan. Kedatangan Bima membuat mereka semua terdiam. abi menghela nafas perlahan.
Dimas menghampiri Bima yang masih berdiri dipintu.
"Untuk apa kau kemar," ucap Dimas dingin
" Aku---- " Belum sempat menjawab pertanyaan Dimas Abi Hafsyah sudah menyela perkataan Bima.
"Nak Bima, Abi bicara berdua denganmu?" ucap Abi berusaha sebijaksana mungkin pada Bima yang sudah membuat Hafsyah tersiksa dalam pernikahannya selama ini.
" Baik bi," sahut Bima menunduk.
Mereka berjalan keluar dari ruangan Hafsyah. Di ujung lorong rumah sakit yang sepi tanpa aktivitas disana.
Abi Hafsyah menatap menantunya dengan seksama. Di lihat wajah menantunya masih ada lebam bekas pukulan Dimas dua hari lalu. Sungguh dalam hati ia pun kesal dan sangat menyayangkan sikapnya yang sudah menyakiti anak tercintanya. Abi menghela nafasnya dengan pelan. Ia beristigfar dalam hati mencoba menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk.
"Nak Bima," panggil Abi Hafsyah berusah tegar di depan Bima sang menantu yang selama ini ia banggakan.
" Ya bi," sahut Bima menunduk.
__ADS_1
Bima menatap sekilas kemudian menunduk lagi.
"Kenapa kau lakukan ini pada anakku Hafsyah?" tanya abi menatap lurus kedepan menerawang jauh.
Bima terdiam. Bima bingung harus bicara darimana. Lama Bima terdiam.
"Nak Bima," panggilnya lagi. Kali ini Abi Hafsyah menatap Bima dengan dingin.
"Ya bi," lirih Bima.
"Katakan!" tekan Abi Hafsyah sengaja menekankan Kata-katanya.
"Sa-saat itu aku sudah mempunyai kekasih sebelum dengan anak Abi. Ibu dan Ayah justru menjodohkanku," ucap Bima tergugup
"Lalu?" tanya abi Hafsyah lagi menatap Bima serius.
"Aku tidak mencintai wanita itu," ucap Bima lirih dengan tertunduk.
Abi Hafsyah menatap geram Bima. Namun ia kembali mencoba menahannya.
"Kau bahkan tidak menyebut nama anakku didepanku. Sungguh tak terbayangkan sikapmu pada anakku selama ini," ucap Abi Hafsyah sedih tanpa terasa airmata mengalir dari pipi keriputnya yang sudah mulai menua.
Bima menatap wajah Abi Hafsyah. Sungguh Bima merasa bersalah dan menyesal karna sudah menyakiti dan menghilangkan rasa kepercayaan padanya untuk menjaga Hafsyah selama ini. Bahkan hari ini tanpa sengaja Bima tak menyebut namanya di depan orang tua istrinya. Hal yang selalu dilakukan memang karena Bima jarang menyebut nama Hafsyah dalam pernikahannya.
"Maafkan aku bi," ujar Bima menunduk dan menyesal.
"Nak, jika kau bilang dari awal, kau tak mau menikahi anakku sudah pasti aku akan lebih bahagia. Kenapa tidak kau berterus terang pada kami Nak!" terang Abi Hafsyah.
"Kau tau nak Bima ?" Siang dan malam kami selalu menjaganya, membesarkan bahkan menyayanginya segenap jiwa dan raga kami. "Abi Hafsyah berkata sambil menangis mengenang Masa-masa kecil Hafsyah putrinya. "Dulu aku berniat menikahinya denganmu karna kami ingin melihat anakku bahagia bersama suami dan Anak-anaknya, hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, tapi kau .... " ucapan Abi Hafsyah terhenti karena ia tak sanggup lagi untuk meneruskan Kata-katanya.
Seketika tubuh Bima bergetar hebat airmata penyesalan menetes begitu saja di pipi lebamnya. Seketika itu juga tubuh Bima terpekur luruh kelantai. Bima berlutut dikaki Abi Hafsyah.
"Maafkan aku bi maaf," ucap Bima kini menangis pilu.
"Tidak Nak, kau tidak bersalah akulah yang bersalah. Karna aku yang telah menikahkan kalian." Ucap Abi Hafsyah lirih. Abi Hafsyah mengusap airmatanya.
"Ya sudah lupakan semua yang terjadi Nak!" ucap Abi Hafsyah mencoba ikhlas apa yang telah terjadi.
Abi Hafsyah hendak melangkah pergi. Namun sebelum langkahnya Benar- benar menjauh dari Bima Abi Hafsyah berhenti menengok kebelakang dan memandang Bima dengan raut penuh kekecewaan.
"Nak Bima, lepaskan Hafsyah anakku. Segera talak dan ceraikan Hafsyah!" pinta Abi Hafsyah menatap serius Bima yang masih berlutut dan menangis. Tanpa ingin berlama-lama Abi Hafsyah melangkah pergi.
Bima terkejut dan mendongakkan wajahnya mencoba menatap Abi Hafsyah namun Abi Hafsyah memalingkan wajahnya.
Bima terdiam dalam lorong yang sunyi. Hanya teriakan hatinya lah yang mengisi dalam dada. Bima dilema dan juga merasa merasa menyesal atas apa yang sudah Bima lakukan.
__ADS_1
"Bagaimana jika ayah dan ibuku tau," ucap Bima lirih lalu berlutut dan luruh begitu saja ke lantai.
" Ahhhhhggg ...!!!" teriak Bima merasa frustasi. Ia bahkan menjambak rambutnya sendiri di lorong rumah sakit yang kini terasa sunyi itu.