
Di tengah malam yang hening setelah sholat tahajud Hafsyah sudah ingin tidur dan istirahat kembali. Namun mata terasa enggan untuk menutup. Hatinya serasa makin gelisah dan khawatir entah apa yang membuat hatinya gelisah. Hafsyah mencoba lagi untuk bisa tidur namun kantuk itu tak kunjung datang membuat Hafsyah kembali beranjak dari tidurnya. Hafsyah berniat mensucikan diri kemudian mengambil Mushaf di atas nakasnya, lalu membacanya dengan tartil dan penuh penghayatan.
Diwaktu yang sama ditengah malam gelap gulita. Seseorang menangisi kebodohan dan penyesalannya selama ini. Bima menangis di atas sajadah merenungi segala kekeliruannya karna sudah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai suami. Malam itu Bima bersimpuh menangis dan memohon pengampunan dari Rab-Nya karna dosa-dosanya.
Bima merasakan semakin rindu akan sosok Hafsyah yang selama ini Bima abaikan. Bima merasa tak ada lagi harapan untuk kembali semangat seperti dulu. Rasa penyesalan yang semakin mendalam membuat dirinya enggan menjadi hidup seperti biasa. Ia akan selalu kembali tak berdaya saat dirinya mengingat dan melihat bayangan-bayangan sosok Hafsyah di apartemennya. Hingga akhirnya ia tak tahan dan menjual apartemen itu untuk kemudian uangnya ia sumbangkan kepanti asuhan seluruhnya. Kini Bima hanya akan menjalani hidup seperti orang yang selalu takkan lepas dengan penyesalan itu. Dan hari esok Bima memutuskan ingin menemui Hafsyah dan berbicara dengannya meski hanya sebentar.
***
Pagi menjelang dengan begitu teduhnya. Seteduh embun pagi dan udara yang masih murni. Hembusan angin sejuk dan udara pagi menerpa wajah Hafsyah saat Hafsyah sedang merasakan nikmat Syukur yang ia dapatkan hingga detik ini.
Hafsyah merentangkan kedua tangannya merasakan hembusan angin sejuk di pagi hari hingga membuat rambutnya tergerai dengan indahnya karna tiupan angin.
Umi Hafsyah tersenyum melihat putrinya sudah ada didepan jendela kamarnya.
"Sayang ... ayo kita sarapan dulu," tutur umi Hafsyah lembut.
Hafsyah memalingkan wajahnya pada umi Hafsyah lalu tersenyum.
"Iya mi," sahut Hafsyah.
"Sayang ... pernikahanmu tiga hari lagi akan di laksanakan. Apakah kamu akan terus bekerja?" tanya umi Hafsyah serius.
"Hmm ya mi," jawab Hafsyah datar.
Umi Hafsyah merasa bingung dengan tingkah anaknya yang seperti biasa-biasa saja. Hafsyah mengerti tatapan Uminya.
"Bukan begitu mi, maksud Hafsyah tugas Hafsyah belum selesai jadi Hafsyah ingin nanti ketika cuti menikah Hafsyah tidak meninggalkan tugas yang terlalu banyak," ujar Hafsyah cepat.
Umi Hafsyah terlihat menghela nafas.
"Sayang ... Umi tau kau belum sepenuhnya mencintai Dimas tapi percayalah Dimas akan selalu bisa membuatmu bahagia."
Hafsyah terhenyak mendengar ucapan uminya.
Ibu dan anak itu saling menatap satu sama lain.
"Kau ingat! perjuangan Dimas dalam mendapatkanmu? Umi bahkan masih ingat betul bagaimana Dimas memperlakukanmu dengan sangat istimewa dan umi bisa melihat pancaran cinta yang tulus dimata Dimas padamu. Jujur Syah ... Umi merasa bersyukur karna akhirnya ada lelaki yang benar-benar mencintaimu yang akan selalu membahagiakanmu ketika kami sudah tak ada lagi didunia ini," terang Umi Hafsyah menitikkan airmata,yang sangat ingin mengutarakan isi hatinya sejak Dimas mendekati Hafsyah.
Hafsyah mengangguk dan menangis haru kemudian memeluk uminya dengan erat. Memang Hafsyah mengakui dan menyadari betapa besar Cinta Dimas untuknya selama ini. Hal itulah yang membuat Hafsyah berani menerima khitbah Dimas waktu itu.
Hanya saja Hafsyah merasa hatinya sedang gelisah entah apa Hafsyah pun tak tau.
'Maafkan aku umi,jika aku selalu membuat kalian khawatir dan kecewa tapi aku sendiri juga bingung dengan hatiku yang akhir-akhir ini merasa gelisah dan khawatir.' gumam Hafsyah dalam hati.
__ADS_1
"Ya sudah, kita sarapan dulu ya, nanti keburu Dimas datang menjemput," goda Umi Hafsyah pada putrinya.
Hafsyah mengangguk dan tersenyum malu.
Benar saja setelah selesai sarapan dan Hafsyah akan bersiap berangkat Dimas sudah ada didepan pintu. Membuat orang tua Hafsyah tersenyum pada Dimas.
"Mari Nak Dimas masuk dulu," ajak Abi Hafsyah.
"Maaf bi sepertinya kita harus cepat-cepat berangkat sudah telat juga," tolak Dimas halus.
"Ya sudah kalian hati-hati," ucap Abi Hafsyah.
"Oiya Dimas hari ini kalian jadi mencoba gaun pengantin dilanggannan butik umi ?" tanya umi pada Dimas.
Dimas melirik Hafsyah seolah meminta persetujuan darinya. Hafsyah mengangguk perlahan.
"Ya mi kami akan kesana setelah pulang ya."
"Ya kalian harus mencobanya umi tunggu."
"Ya mi, kami pamit ya Abi umi," ucap Hafsyah.
"Assalammualaikum," ucap mereka berdua sambil mencium takzim tangan mereka kemudian pergi.
***
Setelah selesai dari pekerjaannya. Mereka berniat mendatangi kesebuah butik langganan uminya Hafsyah untuk memcoba baju pengantin disana. Dimas sangat senang dengan pilihan Hafsyah. Dimas merasa apapun yang dipilih Hafsyah semuanya akan terlihat cantik dan indah saat akan dipakai Bidadari hatinya. Ya, bidadari itu dialah Hafsyah Bidadari pujaan hati Dimas yang selama ini ia gaungkan namanya disepertiga malam disetiap doa-doanya Dimas.
"Apakah ini cocok?" tanya Hafsyah pada Dimas.
Dimas tersenyum mendengar apa yang diucapkan Hafsyah padanya.
"Masya Allah Hafsyah ... kau sangat cantik memakai gaun apapun. Sebenarnya bukan gaunnya yang membuat dirimu semakin cantik, tapi akhlak dan kepribadian dirimulah yang seperti Bidadari surga turun kebumi ini," rayu Dimas pada Hafsyah. Kali ini Dimas bisa memuji Hafsyah secara langsung tanpa takut dan ragu. Terlebih hati Dimas merasa yakin Hafsyahlah calon istri di masa depannya.
Hafsyah tersipu malu.
"Apa yang di katakan pak Dimas itu benar!" celetuk karyawan butik tiba-tiba.
Hafsyah terkejut dan menjadi tambah malu. Sedang Dimas makin tersenyum senang.
"Benarkan apa yang aku katakan?" tanya Dimas pada karyawan butik itu.
Karyawan butik itu mengangguk mantap pada Dimas dan Hafsyah.
__ADS_1
Hafsyah sudah mencoba 3 gaun pengantin. Membuat Hafsyah sedikit lelah. Dimas memperhatikan Hafsyah yang terlihat lelah.
"Apa kau ingin kita makan dulu?" tawar Dimas pada Hafsyah.
"Iya," jawab Hafsyah.
Mereka berjalan menuju sebuah restoran untuk makan.
***
Sepasang mata mengawasi mereka dengan hati semakin pilu. Bima benar-benar semakin menyesal. Kini Bima hanya bisa memandangnya dari jarak jauh dan hanya bisa mengawasi tanpa bisa berbicara ataupun menyentuh.
"Ahh ... bodohnya aku ini. Aku harus berbicara padanya sungguh aku sudah tak tahan. Aku harus bertemu dan berbicara padanya," lirih Bima.
Saat Bima akan melangkah mendekati Hafsyah dan Dimas, gawai Bima berbunyi.
"Hai Bima apa kabar?" jawab seseorang disana yang ternyata Nadin.
Bima membuang tatapannya kearah lain.
"Baik!" jawab Bima datar.
"Bim, nanti aku ketempatmu ya aku kangen," ucap Nadin manja diseberang sana.
"Nadin, sudah aku katakan padamu berkali-kali kita tidak ada hubungan apa-apa lagi kau dengar!" bentak Bima pada Nadin.
"Tapi Bim tidak bisakah kita seperti dulu lagi," ucap Nadin memohon.
"Seperti dulu?" Bima menggeleng. "Itu tidak akan Nadin!" ucap Bima serius.
"Kenapa? Apa karna wanita kampungan itu hah ?" teriak Nadin diseberang.
"Cukup Nadin! cukup!" bentak Bima.
"Kau dengar baik-baik Bima, aku tidak akan tinggal diam aku akan membuat perhitungan dengan wanita kampung itu," ancam Nadin dengan wajah memerah padam karena amarah.
"Jika kau berani menyakitinya,aku tidak akan mengampunimu Nadin."
Nadin tertawa licik disana. Membuat hati Bima semakin khawatir pada Hafsyah.
"Nadin kau dengar,jika kau berani mengganggu atau menyakitinya maka aku sendirilah yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Camkan itu!" bentak Bima.
Gawai dimatikan Bima secara sepihak membuat Nadin mengerang kesal diseberang sana.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara wanita kampung itu. Aku takkan memaafkanmu Hafsyah sialan," geram Nadin sambil mengepalkan kedua tanganya.