
Saat Dimas akan mendekati posisi Hafsyah. Suara dentuman terdengar dengan keras begitu saja di depannya.
Brakkkkgg!!!
Sara dentuman mobil bersamaan orang yang terlempar jauh ke depan dengan kerasa dan bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Terlihat jelas oleh mereka yang ada di sana.
Hafsyah yang terjatuh ke samping jalan, menimpa dua sahabatnya Fina dan Rere begitu syok dan terkejut. Hafsyah syok dengan apa yang terjadi hingga Hafsyah masih di posisi terduduk, Begitupun Fina dan Rere yang segera membantu Hafsyah untuk berdiri perlahan.
Dimas sudah mendekati Hafsyah dengan suara nafas yang terputus-putus karena berlari cepat untuk menggapai Hafsyah. Dimas mendekati Hafsyah yang masih terlihat bingung. Dimas menghela nafas lega.
"Syukurlah kau tidak apa-apa Syah," ucap Dimas khawatir sambil menatap Hafsyah dari atas kebawah melihat keadaanya.
Fina dan Rere terdiam melihat ekspresi Hafsyah. Hafsyah masih terlalu fokus menatap kedepan menatap orang yang sudah tak berdaya karena menolongnya.
"Syah kau tidak apa-apa kan?" tanya Rere dan Fina bersamaan.
Hafsyah masih terdiam membisu menatap seseorang yang tergeletak disana dengan mata tak berkedip.
Nadin menghentikan laju mobilnya dengan mendadak. Nadin juga benar-benar terkejut dengan apa yang di lihatnya barusan. Niat hati ingin mencelakai Hafsyah justru seseorang telah menyelamatkannya dan Nadin tau siapa orang itu.
Nadin segera berlari menghampiri tubuh yang sudah bersimbah darah. Nadin nampak histeris dan menangis sejadi-jadinya disana.
"Dasar lelaki bodoh!" umpat Nadin sambil menangis. "Kenapa kau halangi aku untuk mencelakainya dan kenapa justru kau menolongnya ...!" teriak Nadin pada Bima yang tersungkur tak berdaya dengan darah mengalir di tubuhnya.
Bima meringis menahan sakit brusaha membuka matanya meski berat dan sakit disekujur tubuhnya.
"Sudah aku katakan padamu Nadin. Jangan ganggu Hafsyah," lirih Bima disela-sela rasa sakitnya.
"Aku membencimu Bima. Gara-gara wanita kampung itu kau meninggalkanku!" teriak Nadin cepat tak mau disalahkan.
Bima hanya menggeleng lemah dan perlahan.
Hafsyah tersadar kemudian segera berlari menuju Bima berada. Dimas Rere dan Finapun segera menyusul langkah Hafsyah karna mereka tak ingin ada hal lain lagi yang mencelakai Hafsyah secara tiba-tiba.
"Mas Bima," ucap Hafsyah dengan bibir gemetar hebat.
Bima tersenyum menatap Hafsyah. Ada senyum bahagia dihatinya karna namanya telah dipanggil oleh orang yang selama ini ia rindukan dalam hidupnya.
"Haf ..syah ..." lirih Bima dengan suara yang terputus-putus.
Dimas mencekal tangan Nadin untuk segera berdiri. Dimas menatap tajam pada Nadin.
"Selama ini aku selalu diam padamu. Tapi kali ini, tidak bisa kubiarkan.kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" tegas Dimas pada Nadin.
Nadin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak Dim, tidak! aku tidak sengaja," bela Nadin tidak ingin disalahkan dan di penjara karena perbuatanya.
Dimas hanya tersenyum kecut.
"Kau bilang tidak sengaja?!" tekan Dimas pada Nadin. "Dari kejauhan aku sudah melihat laju mobilmu mengarah kemana beserta kecepatanmu. Kau ingin mencelakai Hafsyahku dan itu terlihat jelas dimataku. Kau bilang itu semua tidak sengaja hah!!" bentak Dimas kesal pada Nadin. Membuat Nadin hanya bisa menangis dan menunduk.
"Aku sudah menghubungi polisi dan ambulan Dim," ujar Fina.
__ADS_1
"Bagus! Jangan harap kau bisa lari dari sini," ucap Dimas dengan mata cukup tajam dan mencrengkam erat tangan Nadin.
Nadin menggeleng, menangis dan mengiba memohon untuk dilepaskan.
"Kali ini tindakkanmu sudah diambang batas dan kriminal. Dasar wanita ******!" gertak Rere ikut geram.
Nadin terpaku dan terdiam ia merenungi tindakkannya barusan.
"Maafkan aku," lirih Nadin.
Hafsyah mendekati Bima yang masih tergeletak tak berdaya.
"Haf ...syah ... maafkan aku," ucap Bima terbata-bata.
Hafsyah terduduk menatap Bima dengan airmata yang sudah membasahi cadarnya.
"Aku sudah memaafkanmu Mas ...jauh sebelum kau mengucapkan ini," ucap Hafsyah dengan derai airmata.
Bima tersenyum lega. Ada airmata yang jatuh dipelupuk matanya. Meski wajah dengan bercampur darah. Hafsyah bisa melihat jelas airmata Bima yang jatuh.
Hafsyah memberanikan diri mengusap airmata Bima yang menetes. Bima tersenyum getir diperlakukan seperti itu oleh mantan istrinya.
"Terima ka ...sih Haf ..syah," lirih Bima dengan suara terputus-putus.
Hafsyah mengangguk cepat.
Dimas melihat pemandangan itu. Ada rasa yang tak bisa ia gambarkan di hatinya. tanpa terasa airmata mengalir begitu saja diwajah tampannya.
Rere dan Fina pun ikut terharu melihat pemandangan didepannya.
Hafsyah pun menatap lekat Bima.
"Dim ...mas," lirih Bima memanggil pada Dimas.
Hafsyah menatap Dimas dan memberi kode pada Dimas untuk mendekat.
Dimas duduk bersebelahan dengan Hafsyah.
"Di ... mas maafkan aku," mohon Bima menatap lekat Dimas.
Dimas tersenyum dan mengangguk.
"Aku sudah memaafkanmu dan terima kasihku karna telah menyelamatkan Hafsyahku." terang Dimas.
Bima menggeleng pelan.
"Tidak Dim ..aku tidak melakukan apa-apa untuk kalian terutama pada Haf ..syah," ucap Bima lirih menatap Dimas dan Hafsyah bergantian.
"Aku justru telah menyakiti Hafsyah..dannn kau benar Dim Haf ... syah seperti sosok Bi ...da ....da ...ri dan aku telah mengabaikannya selama ini," suara Bima mulai terputus karena rasa sakitnya yang semakin terasa dan mendera. Nampak Bima semakin tersengal dengan nafas yang terputus-putus.
Hafsyah menggeleng.
"Bertahanlah Bim..ambulan sedang menuju kemari." ucap Dimas tak tahan melihat penderitaan Bima.
__ADS_1
Nadin semakin menangis histeris dan memohon ampun pada Bima karena kesalahannya.
Bima tersenyum kecil lalu menatap Nadin sekilas.
"Nadin ...maafkan aku juga," lirih Bima.
Nadin hanya menggeleng dan menangis tak mampu berkata apa apa lagi.
Semua terdiam hingga beberapa detik.
"Haf ... syah," panggil Bima dengan suara lirih dan menatap Hafsyah.
"Ya,"jawab Hafsyah.
"Boleh aku melihat senyummu." ucap Bima tiba-tiba memohon.
Semua terkejut begitupun Hafsyah dan Dimas yang tak menyangka Bima meminta hal seperti itu.
Bima masih menatap mereka bergantian. Sarat matanya terlihat memohon dan menyedihkan membuat siapa saja yang melihatnya trenyuh dan tak tega. Begitupun Dimas dan Hafsyah.
"Ku ...mo ...hon ...untuk yang terak ...hir kali Syah..." pinta Bima lagi tak kuasa menahan rasa sakit yang serasa sudah di ubun-ubun. Dengan suara semakin tercekat dan terputus-putus.
Dimas dan Hafsyah saling berpandangan. Kemudian Dimas menarik nafasnya perlahan. Lalu menatap Hafsyah.
"Lakukan Syah ..." ucap Dimas mengangguk lirih pada Hafsyah.
"Tapi Dim.." ucapan Hafsyah terhenti karena Dimas menyela ucapanya.
"Tidak apa-apa Syah, dan aku akan mengalihkan pandanganku," ucap Dimas lagi lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Hafsyah.
Hafsyah menarik nafasnya perlahan dan memejamkan matanya. menyibakkan cadar separuhnya keatas agar Bima bisa melihat senyum Hafsyah untuk yang terakhir kali sesuai permintaannya. Hafsyah tersenyum sekilas.
Bima menatap Hafsyah lekat dan tersungging senyum dibibir pucatnya.
"Sen ...yum itu," lirih Bima terbata. Ada senyum bahagia di wajah saat bisa melihat senyum di wajah Hafsyah secara langsung. Tanpa penyekat atau pun cadar yang menghalanginya. Senyum yang sama yang selalu membuat jantung Bima berdetak sangat kencang selama ini.
Hafsyah segera menurunkan cadarnya agar tertutup seperti semula.
"Terima ka ...sih Haf ...syah, Dimas," lirih Bima lalu menatap Dimas dengan tatapan sendu.
"Dim tolong bim ..bing ...aku," pinta Bima dengan suara semakin llirih dan terbata-bata.
Hafsyah menangis begitupun Nadin yang kembali histeris. Rere dan Fina hanya menunduk karena prihatin atas apa yang menimpa pada mereka.
"Kau harus kuat Mas," ucap Hafsyah menyemangati. Bima menggeleng dan tersenyum getir disana.
Dimas menghadap Bima lagi dan kemudian membimbing Bima perlahan.
Kini Bima telah berpulang keharibaan-Nya dengan tenang. Dimas menghela nafasnya perlahan lalu menatap Hafsyah.
"Dia sudah tenang disana Syah," ucap Dimas memberitahukan pada Hafsyah.
Hafsyah terdiam tak bergeming Hafsyah menatap jasad Bima yang sudah tak bernyawa didepan matanya.
__ADS_1
"Innalillahi wainna'ilaihi roji'un ..." ucap mereka bersamaan.
'Selamat jalan mas Bima. Aku sudah memaafkanmu dan mengikhlaskan kepergianmu,' batin Hafsyah lirih memejamkan matanya kemudian menatap langit seolah seseorang ada disana.