BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Dilema


__ADS_3

Bima melangkah lunglai dari lorong rumah sakit. Langkahnya berjalan melambat seiring dengan suasana hatinya yang semakin remuk redam malam itu.


Baru akan keluar dari rumah sakit Bima melihat kedua orang tuanya berjalan dengab langkah tergesa-gesah. Seketika Bima merasa syok karena terkejut. Hingga akhirnya Bima menunduk lemah dan pasrah.


'Bagaimana mereka bisa tau? dan sekarang apa yang akan terjadi,' bathin Bima menunduk sedih.


 


"Bim .. .Bima!" panggil sang Ibu. Ibu Bima memanggil namanya ketika sudah dekat


 


"Ya bu," jawab Bima lirih.


"Kau kenapa tidak memberitahukan kami tentang keadaan istrimu?" Tanya Ibu Bima


Bima mendongak menatap Ibunya. Ibu Bima terlihat kesal pada anaknya. tanpa Aba-aba lagi, Ibu Bima memukul punggung anaknya dengan geram.


"Istrimu ada dirumah sakit dan kau tidak memberitahukan kami hah!" bentak ibu Bima kesal.


Flash Back On


Orang tua Bima tau saat mereka datang keapartemen Bima sore itu. Namun, yang di kunjungi tidak ada mereka. Sampai akhirnya asisten mereka memberi tau bahwa Hafsyah ada dirumah sakit sejak dua hari lalu. Membuat orang tua Bima terkejut sekaligus merasa kesal dengan kabar itu.


"Apa-apaan anak itu, kenapa tidak mengabari kita Yah," gerutu Ibu Bima pada suaminya


"Mungkin Bima sibuk bu, jadi belum sempat mengabari kita," ucap Ayah Bima menenangkan istrinya.


"Ayo kita kesana," ajjak Ibu Bima cepat.


Flash Back Of


Bima hanya diam dan meringis menahan sakit dan perihnya didada saat ibunya memukulinya tanpa ampun dirumah sakit. Bima pasrah dan tak mengelak karna Bima memang merasa bersalah.


"Sudah bu, udah ... ini dirumah sakit jangan membuat kegaduhan disini. Kasihan orang yang disini nanti terganggu, ucap Ayah Bima mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sangat marah dan kesal pada anaknya.


Ibu Bima mereda karna ibu Bima sadar apa yang dikatakan suaminya benar. Kemarahannya akan membuat yang lain tidak nyaman.


Bima masih terlihat menunduk.


Kini mereka ada diruangan Hafsyah. Mereka Sama-sama sangat terkejut. Orang tua Bima bingung sejak kapan besannya ada disana. Membuat mereka merasa tak enak hati dan Bertanya-tanya dalam hati mereka.


Orang tua Hafsyah masih tersenyum pada mereka begitupun Hafsyah yang masih mencium takzim kedua tangan mertuannya itu.


Semua terdiam begitupun Dimas Rere dan Fina. Hingga akhirnya orang tua Bima tersadar dari lamunannya.


"Assalammualaikum bu besan," ucap Ibu Bima berusaha mencairkan suasana yang seperti tegang.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Oiya bu, sejak kapan ibu ada disini, kok ga ngabar-ngabarin kami," ucap Ibu Bima terlihat kikuk.


"Sejak dua hari lalu bu," ucap Umi Hasyah dingin lalu memalingkan wajahnya dengan cepat.


Degghh!


Orang tua Bima merasa ada yang aneh pada besannya. Tak seperti biasanya mereka bersikap dingin seperti ini.


Ibu Bima menatap Bima penuh selidik namun yang ditatapnya tetap menunduk. Membuat Ibu Bima semakin Bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf pak, boleh saya bicara berdua pada anda sebentar," ucap Abi Hafsyah pada Ayahnya Bima.


Ibu Bima dan Ayah Bima saling menatap dengan tatapan bingung dan mengangguk.


"Silahkan, mari pak?" ajak Ayah Bima keluar.


Saat mereka akan keluar. Dari arah pintu datang Nadin dengan anggunnya. Semua menatapnya terkejut. Begitupun orang tua Bima dan Bima sendiri.


'Sial! jenapa wanita ini selalu datang tak tepat waktu,' kesal Bima di dalam hatinya.


"Nadin," ucap orang tua Bima bersamaan.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Ibu Bima dengan ketus.


Nadin dan Bima hanya menunduk


"Apa, maaf?" tanya Ibu Bima bingung.


"Itulah yang akan kami bicarakan pada kalian." suara lantang Umi Hafsyah pada orang tua Bima mengejutkan semuanya.


Abi Hafsyah hanya bisa menghela nafas lalu menatap istrinya menggeleng pelan. Membuat Umi Hafsyah mengerti kode dari suaminya.


"Ada apa?" tanya ibu Bima yang semakin bingung dan tak mengerti pada mereka.


"Mari pak kita keluar saja tidak baik semua dalam ruangan ini. Karna akan sangat mengganggu kenyamanan Hafsyah yang masih di rawat," ajak Abi Hafsyah menjelaskan.


"Baik," ajap Ayah Bima


***


Di sana Abi Hafsyah menceritakan semua pada ayah Bima. Terlihat jelas mereka Sama-sama kecewa pada Bima. Ayah Bima yang terkejut hanya bisa memohon maaf yang Sebesar-besarnya pada besannya khususnya pada Hafsyah. Abi Hafsyah juga mengutarakan niatnya agar Bima segera menceraikan Hafsyah.


Ayah Bima terlihat syok ia begitu malu pada besannya juga merasa tak berguna dan gagal sebagai orang tua dalam mendidik Bima.


Lama mereka terdiam berperang dengan pikirannya Masing-masing.


"Maaf pak, apa tidak ada kesempatan untuk Bima anakku?" tanya Ayah Bima mencoba mempertahankan Hafsyah sebagai menantunya.


Abi Hafsyah menatap Ayah Bima sekilas. lalu kemudian menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Jika bapak yang di posisi saya. Apakah bapak akan diam saja melihat anak bapak diperlakukan seperti itu. Bahkan itu di lakukannya dari awal pernikahan," ucap Abi Hafsyah lirih menahan sesak didada.


Ayah Bima nampak terdiam tak bisa berkata Apa-apa lagi. Dalam hati ia pun membenarkan Kata-kata besannya. Didunia ini tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Ayah Bima menunduk sedih menyesalkan apa yang sudah terjadi. Bahkan ia merasa tidak berguna sama sekali karena ketidak tahuannya pada anaknya Bima. Membuat hatinya kian perih terasa.


Ayah Bima mencoba mengerti. Dan berusaha kuat didepan besannya. Padahal dalam hati ia sedang merasakan sakit yang sangat terasa sakittt di jantungnya.


"Baiklah pak saya izin menemani anak saya Hafsyah," pamit Abi Hafsyah pamit pada besannya yang masih berdiri terdiam.


Abi Hafsyah pergi menuju ruang Hafsyah anaknya. Disana sudah tidak ada Ibu Bima,Nadin dan Bima.


***


Di ruangan lain.


"Katakan apa yang terjadi?" tanya Ibu Bima pada mereka Bima dan Nadin.


Bima dan Nadin terdiam membisu. lama mereka terdiam, saat mereka akan berbicara Ayah Bima datang pada mereka dengan langkah perlahan.


"Ayo bu, kita pulang saja," ucap Ayah Bima dengan suara lirih kemudian menatap kecewa pada Bima.


"Ada apa yah?" tanya Ibu Bima bingung


"Sudah, cepat kita pulang, aku lelah," ucapnya lagi tanpa perduli wajah istrinya yang semakin bingung dan cemas.


Ibu Bima yang melihat keadaan suaminya sangat memprihatinkan mengulurkan niatnya untuk bertanya pada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Dan kenapa Nadin juga kesini, untuk apa Nadin kesini, bukankah mereka sudah lama putus dan sudah tidak berhubungan lagi dengan Bima?' pertanyaan itu berkelabat di pikiran Ibu Bima malam itu.


Melihat keadaan suaminya yang sepertinya tak memungkinkan membuat Ibu Bima enggan membahasnya.


"Ya, ayo kita pulang," ucapnya lirih yang juga menggandeng tangan suaminya karna terlihat sangat lemah.


Bima memandang sedih orang tuanya sedang Nadin memandang dengan tatapan tak terbaca.


"Kenapa kau datang kemari." Bima menatap Nadin tak suka dan bahkan ada aura kebencian pada Nadin.


"Maaf sayang, sungguh aku juga tidak tau," bela Nadin di depan Bima.


"Kau kan tau keadaan kita, sudah aku katakan berungkali. dan kau liat sekarang. hah!" kesal Bima pada Nadin


"Maaf sayang----"


" Cukup!! Sekarang kau boleh pergi," bentak Bima


"Hei sayang, apa yang kau katakan?" ucap Nadin tak terima di bentak Bima barusan.


"Nadin silahkan pergi!" usir Bima dengan frustasi. Bima bahkan terlihat menjambak rambutnya sendiri.


"Ok! ok! aku akan pulang!" jawab Nadin Cepat. melihat Bima yang seperti kesetanan Nadinpun melangkah pergi meninggalkan Bima yang terlihat frustasi.


'Awas kau wanita kampungan,' bathin Nadin mengancam pada Hafsyah.

__ADS_1


__ADS_2