BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Heepy reading


__ADS_3

Pagi ini seorang gadis cantik nan sholehah sudah duduk dimeja hiasnya. Hafsyah dirias sedemikian rupa oleh pengantin rias untuk yang kedua kalinya. Meski begitu, hatinya tetap saja gugup, canggung,takut,bahagia dan bercampur rasa lainnya.


Hafsyah masih tak menyangka bahwa ia akan menikah untuk kedua kali dalam hidupnya. Tanpa terasa airmata membasahi wajah cantiknya. Fina dan Rere yang melihat ada kesedihan diwajah sahabatnya itu menghampiri Hafsyah.


"Syah ikhlaskan," ucap Rere pada Hafsyah.


"Kau jangan menangis seperti ini Syah,"ucap Fina lagi pada Hafsyah yang masih terdiam.


"Kau harus melihat masa depanmu sendiri Syah. Jangan sampai rasamu menjadi di lema dalam hidupmu Syah ..." Rere menasehati Hafsyah karena ia tak ingin Hafsyah terpuruk dimasa lalunya.


"Kalian benar, maafkan aku," lirih Hafsyah menunduk.


"Bidadari sepertimu layak berbahagia Syah. Lihatlah Dimasmu ia sangat mengagumimu dan menghargaimu," hibur Rere lagi pada Hafsyah.


Mereka berpelukan. Tiba-tiba saja Hafsyah mengkerutkan dahinya pada kedua sahabatnya itu.


"Kalian bilang suami kalian datang?" tanya Hafsyah serius.


Mereka berdua tergelak tertawa bersama. Memang selama ini suami mereka jarang bersama ketika sedang bersama Hafsyah. Mereka selalu beralasan suami mereka sibuk. Alasan sebenarnya karna Rere dan Fina hanya ingin selalu bersama Hafsyah seperti ketika mereka kecil dulu.


Hafsyah semakin penasaran karena kedua sahabatnya selalu saja berkilah. Hafsyah teringat dengan kisahnya bersama Bima dulu.


"Apa kalian baik-baik saja, kalian bahagia kan dengan pernikahan kalian," ucap Hafsyah sendu mengingat pernikahannya bersama Bima.


Rere dan Fina saling menatap. Mereka lalu menggeleng keras di depan Hafsyah.


"Tidak Syah ... kami baik-baik saja." ucap mereka secara bersamaan.


"Syukurlah," lirih Hafsyah tenang.


"Suami-suami kami sedang bersama calon suamimu Syah," ucap Fina mengerlingkan matanya bermaksud ingin menggoda Hafsyah.


"Dimas sangat gugup hari ini. Dimas merasa bingung itu sebabnya aku menyuruh suami-suami kita untuk menemani Dimas," terang Rere pada Hafsyah.


"Benarkah?" tanya Hafsyah tak yakin.


"Syah Dimas gugup dan bingung karna akhirnya bisa bersanding dengan Bidadari pujaan hatinya ..." goda Fina lagi pada Hafsyah membuat pipi Hafsyah merah merona karena malu.


"Sudah sudah ... kalian jangan menggodanya terus," ucap sang perias ikut senang dengan perubahan wajah Hafsyah yang terlihat malu.


"Sebaiknya aku harus segera menyelesaikan tugasku sebelum Umimu marah kepadaku," ucap perias itu lagi sambil bekerja kembali menata Hafsyah.


Setengah jam berlalu wajahnya berubah bak Bidadari yang turun dari langit. Kini tubuh mungil Hafsyah telah di balut dengan gaun pengantin yang sangat indah dan menawan. Balutan gaun berwarna putih dengan khimar serta cadar dengan warna yang senada dan mahkota kecil diatas kepalanya membuat dirinya semakin anggun dan cantik dibalik cadarnya yang tertutup.


"Masyaa Allah Hafsyah ...!" seru Fina dan Rere bersamaan.


"Pantas saja jika Dimas tergila-gila padamu Syah," ujar Fina lagi.


Hafsyah hanya menunduk malu tanpa menanggapi kehebohan dua sahabatnya itu. Mungkin jika cadarnya di buka terlihat jelas raut wajahnya yang memerah karena malu.


***


Beberapa menit kemudian Dimas sudah tiba dikediaman keluarga Hafsyah calon mempelai wanita. Disana Dimas duduk diantara penghulu wali nikah dan para saksi. Dimas tak kalah tampannya dengan baju yang dipakai senada seperti Hafsyah. Dimas terlihat sangat tenang meski dalam hatinya bergemuruh karena gugup yang begitu hebat. Namun Dimas sudah bertekad untuk tetap tenang. Meski keringat tampak bercucuran didahinya.


'Bismillah, tenang Dimas tenang,' batin Dimas menyemangati dirinya sendiri.


Untuk beberapa menit semua terdiam. Begitupun Dimas tampak tenang namun gugup di dalam hatinya.


" Bagaimana, bisa kita mulai ijab qabulnya?" tanya sang penghulu dan mendapat anggukan dari semua yang hadir disitu.


Abi Hafsyah selaku ayah kandung Hafsyah dipersilahkan untuk duduk berhadapan bersama calon mantunya. Dengan instruksi dari penghulu Abi Hafsyah menjabat tangan Dimas dengan erat. Saat itulah janji dan kalimat sakral akan terucapkan.


"Saudara Dimas Sanjaya bin Husein Sanjaya saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Hafsyahtul Aljannah binti Ahmad Hanafi dengan mas kawin emas sepuluh gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai karena Allah ta'ala," ucap Abi Hafsyah dengan suara lantang dan tegas pada Dimas.


Dimas menarik nafasnya perlahan sebelum menjawan ijab, kemudian menghembusnya perlahan.


"Saya Terima, nikahnya dan kawinya Hafsyahtul Aljannah binti Ahmad Hanafi dengan mas kawin sepuluh gram emas dan perangkat alat sholat dibayar tunai karena Allah Ta'ala," sahut Dimas dengan suara yang sama tegasnya seperti Abi Hafsyah. Seakan tak ada keraguan dan rasa gugup seperti saat tadi.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu kepada para hadirin yang hadir di sana.


"SAH ..." ucap semua saksi serempak.


"Alhamdulilla." lagi suara mereka menambah acaranya semakin meriah dan ramai.


Penghulu mengucap doa pengantin yang diaminkan oleh semua orang yang hadir disana.


Akhirnya Dimas dan Hafsyah berstatus suami istri. Ada rasa bahagia yang tak terkira dihati Dimas hari itu. Ia bahkan tak henti-hentinya mengucap rasa syukur dibibir lelaki itu.


Hafsyah berjalan pelan melangkah keposisi Dimas berada. Hafsyah menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati dengan begitu anggunnya. Hafsyah di apit oleh kedua wanita yang bergelar ibu yakni umi dan ibunya Dimas sendiri. Ada Rere dan Fina dibelakang Hafsyah yang terlihat tersenyum menggoda Dimas. Dimas yang terpana dengan penampilan Hafsyah hari itu. Sungguh Dimas merasakan gugup yang luar biasa dibandingkan tadi saat acara ijab qabul berlangsung.


Dimas masih menatapnya lekat seakan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Masyaa Allah," lirih Dimas namun masih bisa terdengar di telinga suami sahabatnya itu Irfan dan Doni.


"Udah Dim, jangan di liatin terus ..." goda Irfan pada Dimas.


"Cieee yang terpesona ..." lirih Doni yang tak mau kalah menggoda Dimas.


Dimas menatap keduanya.


"Kalian ini disini untuk menemaniku bukan menggodaku," dengus Dimas mengingatkan kedua suami sahabatnya itu.


Mereka berdua tertawa melihat sikap Dimas yang tiba-tiba saja menjadi pemarah.


Hafsyah sudah didekat Dimas. Hafsyah mencoba meraih tangan Dimas untuk mencium takzim namun Dimas masih diam tak bergeming. Hingga Dimas pun tersadar karena tepukan bahu dari ibunya.


"Dim ituloh istrimu ingin menyambutmu," ucap Ibu Dimas seketika membuyarkan lamunan Dimas.


"Eh ya, bu," gugup Dimas tiba-tiba saja menjadi salah tingkah.


Semua menatapnya kemudia tersenyum melihat tingkah Dimas yang tiba-tiba saja seperti orang linglung.


Dimas menaikkan tangannya untuk menerima uluran tangan Hafsyah agar diciumnya dengan takzim dan khitmat.


Dimas merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Sungguh Dimas merasa seperti masih mimpi saja. Karna mengingat perjuangannya yang begitu sulit hingga membuat dirinya nyaris putus asa. Berkat bantuan kedua sahabatnya Rere dan Fina Dimas bisa mendapatkan Bidadari hatinya.


Dimas menatap Rere dan Fina kemudian tersenyum pada mereka.


"Rere, Fina terima kasih untuk semuanya," ucap Dimas haru kepada kedua sahabat kecilnya.


Rere dan Fina mengangguk senang.


"Aku bahagia jika kalian bahagia," ucap mereka kompak dan bersamaan.


Dimas tersenyum senang dan menatap lekat Hafsyah.


"Terima kasih Syah karena sudah mau menjadi Bidadari hatiku dan hidupku," lirih Dimas pada Hafsyah.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu Dim. Karna kau masih mau menerima ku," jawab Hafsyah cepat.


Dimas tersenyum ada rona kebahagiaan yang terukir jelas diwajahnya.


'Aku janji Syah aku akan selalu membahagiakanmu.' janji Dimas dalam hati.


***


Hafsyah memasuki kamarnya terlebih dahulu. Tak berselang lama Dimaspun menyusulnya.


Hafsyah sempat terkejut karna pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Meski ini bukan yang pertama kalinya tetap saja Hafsyah merasa gugup dan takut saat seseorang memasuki kamarnya.


Dimas sempat melihat keterkejutan Hafsyah. Dimas menghela nafasnya jauh dalam hatinya Dimas juga gugup tak terkira. Dimas memberanikan diri melangkah pelan menghampiri Hafsyah yang masih terduduk di meja riasnya.


"Hmm, Syah," lirih Dimas pelan karena takut.


"Ya Mas," jawab Hafsyah mencoba melihat mata Dimas.


Dimas terkejut karena Hafsyah memanggilnya dengan sebutan mas.


"Kau memanggilku ..." ucapan Dimas terhenti karena Hafsyah menyela ucapanya.


"Ya. Karena sekarang kau sudah menjadi suamiku, adi sudah kewajibanku menghormatimu," sela Hafsyah menunduk malu.


Dimas tersenyum bahagia.


"Terima kasih Syah," ucap Dimas senang dengan mata yang berbinar.


"Syah ..."panggil Dimas merasa ragu.


Hafsyah menatap manik mata hitam Dimas lekat.


"Ya," jawab Hafsyah.


"Bo ..leh aku me .. li .. hat wajahmu," ucap Dimas terbata-bata karena merasa takut dan gugup. Entah kenapa saat ini Dimas merasa sangat gugup saat berada di ruangan yang sama bersama gadis impianya selama ini.


Hafsyah yang baru saja tersadar, jika ia masih memakai cadarnya. Hafsyah tersenyum gemas melihat tingkah Dimas yang terlihat sangat lucu.


"Ah ya. Tentu saja Mas. Maaf, aku lupa," ujar Hafsyah lalu melepas cadarnya perlahan dan terlihat jelaslah disana wajah cantik Hafsyah terpampang di depan mata Dimas. Membuat Dimas terpaku karena melihat kecantikan wajah Hafsyah yang selama ini tertutup dan tak pernah Dimas lihat secara langsung. Saat Hafsyah menggunakan cadar pertama kali ketika masih sekolah dulu.


Dimas menatap lekat wajah Hafsyah, Dimas masih tak menyangka bahwa yang berdiri di depannya memanglah Hafsyah wanita yang selalu disebut namanya di setiap malam sepertiganya. Sampai-sampai Dimas menepuk-nepuk kedua pipinya untuk memastikan apa yang dilihatnya mimpi ataukah tidak.


Hafsyah tak dapat menahan tawanya karna sikap Dimas yang benar-benar lucu dan menggemaskan. Hafsyah tertawa renyah didepan Dimas. Dimas masih saja menatap lekat Hafsyah tanpa berkedip seakan terhipnotis akan kecantikan wajah Hafsyah yang tertutup selama ini.


"Syah ini beneran dirimu?" tanya Dimas lagi untuk meyakinkan dirinya. Dimas bahkan sampai mencubit wajahnya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi semata.

__ADS_1


Kali ini nampak Hafsyah sampai menepuk jidatnya sendiri. Kemudian menatap Dimas lekat.


"Ya ini aku Mas, memang siapa jika bukan aku Hafsyahtul Aljannah," ucap Hafsyah meyakinkan Dimas.


Senyum Dimas mengembang ada gelora cinta dimatanya pada Hafsyah.


"Masyaa Allah Syah ... aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi untuk mengungkapkan ini semua. Sungguh aku sangat-sangat bahagia. Terima kasih Syah, karena kau menjaga wajah cantikmu itu agar tak terlihat dengan lelaki selain mahrammu," ucap Dimas tanpa terasa airmata jatuh diwajah tampan Dimas.


Hafsyah segera menghapus airmata Dimas perlahan. Namun tangan Hafsyah di cegah oleh tangan Dimas.


"Biarkan Syah .... aku menangis karena ini adalah airmata kebahagiaanku," ucap Dimas yang masih memegang tangan Hafsyah dengan lembut.


Hafsyah terperangah melihat bagitu tulusnya Dimas mencintai dirinya.


"Terima kasih Syah kau memang Bidadariku yang di kirimkan untukku," lirih Dimas menatap haru Hafsyah.


Hafsyah tersenyum dan mengangguk lalu mencium tangan Dimas perlahan.


"Mas sebaiknya kita mandi dulu lalu sholat malam berjamaah lalu kita makan," ajak Hafsyah pada suaminya.


"Baiklah, tapi aku tidak ingin makan karena aku tidak merasa lapar," ucap Dimas pada Hafsyah.


"Ya baiklah mas," sahut Hafsyah sambil menggeleng saat melihat sikap Dimas yang terlihat manja padanya.


Keduanya sama-sama membersihkan diri secara bergantian. Lalu mereka sholat berjamaah dengan Dimas sebagai imam sholat Hafsyah.


Setelah mereka berdoa dengan khusyu' dan tak lupa mengucap rasa syukurnya karna hari ini. Mereka menyudahi sholat sunnah malamnya.


Hafsyah mendekati Dimas lalu mencium tangan Dimas dengan takzim.


Dimas menatap lekat Hafsyah.


"Syah apa kau sudah siap?" tanya Dimas merasa ragu takut ditolak karena lelah.


Hafsyah hanya tersenyum dan mengangguk.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Dimas lagi hati-hati.


Hafsyah hanya menggeleng.


"Tapi Mas," ucap Hadsyah terhenti membuat Dimas merasa khawatir seketika.


"Syah, jika lelah ayo sebaiknya kau istirahah," ucap Dimas cepat lalu menuntun tubuh perlahan Hafsyah agar duduk di ranjang.


"Mas, aku belum selesai bicara," ucap Hafsyah seketika menunduk malu.


"Maksudmu?" bingung Dimas tak mengerti.


"Maksudku pelan-pelan Mas, karena aku belum pernah melakukannya," ucap Hafsyah lirih dan ragu lalu menunduk.


Dimas menautkan alisnya karena bingung tak mengerti maksud Hafsyah.


"Melakukan?" bingung Dimas nampak berpikir. Hafsyah lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Dimas.


"Karena aku belum pernah melakukannya, seperti pengantin pada umumnya," bisik Hafsyah membuat Dimas kini mengerti. Sebagai lelaki normal dan dewasa tentu saja Dimas paham maksud ucapan Hafsyah barusan.


Dimas yang tersadar dan mengerti maksud Hafsyah kini tersenyum kecil. Ada rasa binar bahagia dimatanya yang tak bisa ia ungkapkan hanya dengan kata-kata. Dimas pun mengangguk perlahan lalu menangkup wajah Hafsyah perlahan. Perlahan Dimas memeluk Hafsyah dengan mesra dan dengan penuh kelembutan.


"Boleh aku memelukmu Syah," ucap Dimas yang tak bisa di bendung lagi karena rasa bahagianya saat ini.


"Kau sudah memelukku Mas," ujar Hafsyah dan tersenyum gemas melihat tingkah Dimas saat ini.


Dimas pun ikut tersenyum dan terkekeh pada dirinya sendiri. Entah kenapa dirinya merasa bodoh saat ini. Mungkinkah ini yang di sebut cinta sejati yang sesungguhnya. Sejauh mana hati dan raga kita terpisah pasti akan dipertemukan dengan keadaan yang utuh seperti semula. Meski Hafsyah sudah pernah menjadi milik orang lain, tapi takdir telah menjaganya agar tetap menjadi miliknya.


"Aku sangat bahagia. Meskipun dari awal aku tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Namun, sungguh aku tetap bahagia dan akan selalu menerimamu apa adanya," ujar Dimas tulus Dimas yang masih saja memeluk Hafsyah erat.


"Ya Mas," lirih Hafsyah kini membalas pelukan Dimas saat ini. Hafsyah bahkan nampak tak ragu, karena Hafsyah sudah bertekad untuk melupakan masa lalu dan menjalani hidup baru dengan bahagia bersama Dimas. Teman semasa kecil yang selalu mengikuti Hafsyah kemanapun ia pergi.


Dimas tersenyum tangannya terulur mulai membuka mukena Hafsyah perlahan. Lalu membelai rambut panjang Hafsyah yang tergerai indah mengecup lembut rambut Hafsyah.


Dimas pun mulai melafazkan do'a sambil menyentuh ubun-ubun Hafsyah. Kemudian mengecup keningnya lama. Hingga tak ada yang terlewat dan malam itu malam yang indah bagi keduanya. Untuk pertama kalinya bagi mereka merasakan dan mereguk nikmatnya dunia dalam ikatan suci nan sakral.


ย 


SELESAI.


ย 


Alhamdulillah selesai juga cerita BIDADARI_TERABAIKAN Karyaku. Cerita ini memang sengaja saya persingkat dan tidak perlu berpuluh bab ya readers, yang tentunya akan memakan banyak drama dan action didalamnya nanti.๐Ÿ˜… Mohon jika selama ini kurang cepat up/nextnya di karenakan kesibukan didunta atau mungkin kurang menarik dan tak sebagus dengan cerita-cerita lainya.๐Ÿ™


Sekali lagi terima kasihku karena kalian sudah mengikuti karya recehku dari awal hingga akhir๐Ÿฅฐsalam manis dari author tidak pemes ini.๐Ÿ™

__ADS_1


like vote dan komen kalian, sangat berarti untuk diriku, sekali lagi terima kasih readers.๐Ÿ˜˜


Sampai jumpa lagi di karya-karyaku lainnya nanti.๐Ÿ™


__ADS_2