
Dimas terdiam memikirkan cara untuk menyadarkan Hafsyah yang sangat terlihat pasrah dengan keadaannya selama ini.
Dimas tak habis pikir pada jalan pikiran mereka. Untuk apa mempermainkan sebuah pernikahan yang memang tak membuat mereka bahagia. Seharusnya mereka tidak melakukan ini.
"Terutama kamu Syah, harusnya kau jangan lakukan ini." Dimas terus berpikir cara apa yang tepat yang bisa membuat ini semua berakhir. Jauh dalam lubuk hatinya Dimas tak ingin membuat Hafsyah menderita dan tersiksa terlebih membuat Hafsyah tidak bahagia. Itu bukanlah tujuannya. Apapun nanti hasilnya. baginya Hafsyah harus terlepas dari lelaki Egois dan Bajingan seperti Bima, pikir Dimas.
"Syah, sepertinya aku harus menggunakan cara ini dan rasanya tak ada cara lain lagi," gumam Dimas.
Dimas menghubungi Rere dan Fina untuk membicarakan hal serius Ini. Meskipun Dimas merasa terlalu ikut campur dalam rumah tangga Hafsyah, Dimas tak perduli karena ini menyangkut kebahagiaan dan kehidupan Hafsyah Bidadari hatinya.
Malam itu Dimas ingin segera tidur dan beristirahat agar bisa menemui dua sahabatnya Rere dan Fina. Karna Dimas akan meminta bantuan pada mereka berdua kali ini.
Dimas menatap Langit-langit kamar Dimas memutar memory Saat-saat bersama Hafsyah dulu. Tanpa sadar Dimas tersenyum kala mengingatnya.
'Ah Benar-benar masa yang menyenangkan ' Bathin Dimas. Bahkan Dimas juga ingat kembali saat Dimas ingin melamar Hafsyah namun kalah start dengan Bima. Mengingat itu membuat Dimas menghela nafas.
"Maafkan aku Hafsyah," lirih Dimas. Merasa sudah sangat lelah Dimaspun tertidur dalam lelapnya.
***
Beberapa hari kemudian.
Hafsyah sedang khusyu' dalam sholatnya. Hafsyah berdoa memohon pada Rabb-Nya agar diberi kekuatan untuk menghadapi segala cobaan hidup yang menerpanya terutama dalam rumah tangganya. Hafsyah mengambil Mushaf Alqur'an untuk menenangkah hati dan pikirannya. Hafsyah bertekad akan mengkhatamkan satu jus dalam bacaanya kali ini. Karena Hafsyah merasa dititik terendah. Dan disaat titik terendah inilah Hafsyah akan terus membaca Alqur'an sampai Benar-benar hatinya merasa tenang dan ikhlas.
__ADS_1
Lamat-lamat Hafsyah mulai membaca Qalam-Nya dengan khusyu. Meski terdengar lirih namun terdengar jelas bacaannya yang sangat merdu namun juga terasa teriris. Iya, Hafsyah membaca dengan meresapi Qalam-Nya hingga membuat airmatanya selalu luruh dipelupuk matanya. Hingga sangat terdengar jelas bacaannya lebih seperti jeritan yang menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Hingga tak tak terasa sudah hampir satu jam Hafsyah membaca. Mataharipun mulai muncul dari peraduannya. Menampakkan sinarnya perlahan namun pasti. Hafsyah sendiri mulai merasakan ada ketenangan dalam hatinya. Hafsyah terus membaca dan menangis pagi itu. Memohon petunjuk yang terbaik atas masalahnya saat ini.
Bima yang sudah bersiap-siap rapi untuk berangkat kantor seketika langkahnya terhenti mendengar alunan merdu dari suara Hafsyah. Bima bahkan berdiri tepat didepan kamar Hafsyah untuk mempertajam pendengarnya.
Degghh!
'Suara itu merdu sekali. Tunggu! Tapi seperti orang sedang mengadu terdengar begitu menyayat bahkan seperti rintihan. Ya Tuhan.' bathin Bima meresapi suara Hafsyah yang membuat lagi dan lagi jantung Bima berdegup sangat kencang pagi itu.
"Apa wanita itu sedang bersedih?" tanyanya pada diri sendiri. "Sesedih itukah.' batin Bima lagi. Tiba-tiba saja ada rasa sakit dalam hati Bima mendengar alunan suara Hafsyah pagi ini.
"Apa lagi ini?" gumam Bima lirih memegang dadanya.
Tanpa terasa Bima meneteskan airmatanya. Bima sadar sikapnya selama ini pada Hafsyah yang selalu kasar dan tak pernah peduli padanya.
Bima merenung didepan kamar Hafsyah. Tanpa sadar Pintu kamar Hafsyah sudah terbuka. Tampaklah Hafsyah sudah berdiri dihadapannya. Hafsyah tersenyum pada Bima yang terlihat terkejut.
"Mas, sudah mau berangkat?" tanya Hafsya mencoba tersenyum meski ada rasa nyeri di hatinya.
"Ya," jawab Bima kikuk.
"Sebentar aku siapkan sarapan mas dulu." Hasyah meninggalkan Bima yang masih berdiri didepan kamarnya.
__ADS_1
"Wanita itu masih saja bisa tersenyum untukku. Bahkan wanita itu juga masih melayaniku dengan baik. Seolah aku suami yang baik," ucap Bima lirih
"Apakah aku sudah salah selama ini," ucap Bima lagi kemudian menghampiri meja makan tempat Hafsyah berada.
Tak berapa lama pintu terbuka. disana Nadin berdiri dan menghampiri Bima yang terlihat sedang menikmati sarapannya. Bima hanya menatapnya sekilas.
'Kenapa dia datang sepagi ini.' bathin Bima.
Nadin terlihat tidak suka dengan sikap acuh Bima. Hafsyah terlihat biasa saja dengan adanya mereka. Justru Hafsyah sempat menawarkan untuk ikut sarapan bersama. Namun Nadin enggan dan menolaknya. Bima sempat terkejut dengan sikap Hafsyah pagi itu.
'Kenapa wanita itu seperti biasa saja,' pikir Bima.
Ketika mereka hendak berangkat bersama. Hafsyah memanggil Bima.
"Mas nanti malam ada yang ingin kubicarakan padamu. Bisakah kau ada waktu untukku sebentar saja " Ucap Hafsyah
"Ya,"
"Terima kasih,"
"Oiya mas, aku juga mau izin keluar boleh? ada sesuatu yang ingin kubeli," izin Hafsyah pada Bima.
"Silahkan saja," jawab Bima tanpa beban.
__ADS_1
Bima melangkah pergi bersama Nadin. Meninggalkan Hafsyah yang tersenyum pilu pada pernikahanya.