
Bima melangkah mendekati keberadaan Hafsyah dan Dimas yang sedang menikmati menu makanya. Bima berdiri dihadapan mereka. Hafsyah menunduk takut sedang Dimas sudah bersiap-siap pasang badan.
"Mau apa kau kemari?" tanya Dimas ketus pada Bima yang hanya memandangi Hafsyah dengan wajah sendu dan penyesalan.
Bima terdiam dan hanya memandang Hafsyah lekat tanpa berkedip. Dimas menarik nafasnya perlahan.
"Jaga pandanganmu Bima! kau sudah bukan lagi suaminya," peringat Dimas pada Bima yang memandang lekat wajah Hafsyah.
"Hafsyah," panggil Bima.
"Hafsyah mendongakkan wajahnya berusaha menatap Bima kemudian menunduk kembali.
"Hafsyah tolong maafkan aku," sesal Bima menangkupkan kedua tanganya dan berlutut di hadapan Hafsyah seketika.
Dimas dan Hafsyah terkejut begitupun semua orang yang ada disana.
"Mas Bima, apa yang kau lakukan cepatlah berdiri! " ucap Hafsyah bingung.
"Hafsyah ... aku tau begitu banyak kesalahan yang aku perbuat padamu. Akulah suami yang tak tau diri dan paling bodoh sedunia karna aku telah mengabaikan istri Bidadari sepertimu." tangis Bima merasa sesak mengingat segala kesalahannya pada Hafsyah.
Dimas mendengus kesal.
"Apa kau baru menyadarinya? hah! padahal aku juga sudah memperingatkanmu untuk menjaga Hafsyahku," ucap Dimas sarkas.
"Ya," lirih Bima.
Hafsyah menangis dalam cadarnya. Bagaimnapun ada rasa sesak dihatinya.
perpisahan ini juga keinginan orang tua Hafsyah. Hafsyah hanya berusaha menjalani takdirnya dan berusaha menjadi istri yang berbakti untuk suaminya. Namun, Hafsyah sadar ada hati orang tuanya yang harus ia jaga agar mereka tak selalu bersedih dan kecewa. Hafsyah memejamkan matanya masih teringat jelas sikap Bima padanya selama dipernikahan mereka membuat Hafsyah kini menangis karna mengingatnya kembali.
"Hafyah ... tolong maafkan aku sungguh aku sangat menyesal, aku bahkan tidak bersama wanita itu lagi Nadin," ucap Bima lagi sambil terus memohon.
Dimas membuang tatapannya kearah lain.
"Apa kau kira, kami akan peduli? Tidak!" tegas Dimas dingin.
__ADS_1
"Ayo Syah ... kita segera pergi dari sini. biarkan orang macam dia menyesali perbuatanya karna sudah mengabaikan Bidadari sepertimu," ucap Dimas melangkah pergi.
"Tapi Dim ..."
Dimas menghentikan langkahnya dan menatap Hafsyah lekat.
"Syah ...tolong ikuti kataku Aku tidak ingin kau bersedih karenanya. Aku ingin menjagamu dari lelaki seperti dia dan .. ini perintah dari calon suamimu!" ucap Dimas tegas pada Hafsyah yang tertunduk.
Hafsyah mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah Dimas.
"Hafsyah ..." panggil Bima pada Hafsyah namun yang dipanggil tak bergeming justru langkah Hafsyah semakin menjauh seiring langkahnya bersama Dimas yang menjauh.
Bima menutup matanya merasakan perih yang terasa sangat. Airmata luruh begitu saja ia masih berlutut diposisinya semula. Semua orang menatapnya namun Bima tak peduli. Bima menangis dalam penyesalan yang begitu mendalam.
'Aku memang pantas diperlakukan seperti ini padamu Hafsyah," gumam batin Bima sesak penuh penyesalan.
Didalam mobil Dimas menatap Hafsyah yang masih terdiam menunduk. Dimas tau perasaan Hafsyah saat ini. Dimas ingat sikapnya tadi yang terlalu memaksa Hafsyah untuk meninggalkan Bima.
"Syah ... maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti hatimu," ucap Dimas menyesal.
"Ya Dim..tidak apa-apa aku ngerti kok maksud kamu," lirih Hafsyah.
Hafsyah menggeleng.
"Aku tidak marah padamu Dim..dan aku benar-benar faham maksud sikapmu," ucap Hafsyah.
"Percayalah Syah..aku hanya ingin melindungimu dari lelaki seperti dia," ucap Dimas menjelaskan sikapnya tadi.
Hafsyah tersenyum.
"Ya Dim iya ... aku ngerti udahlah aku ga apa-apa kok Dim." ucap Hafsyah tersenyum pada Dimas.
"Terima kasih Syah," ucap Dimas tersenyum.
Dimas merasa lega Dimaspun melajukan mobilnya perlahan menuju kerumah Hafsyah untuk segera pulang.
__ADS_1
***
Siang itu Hafsyah Fina dan Rere sedang berada disalon kecantikan. Mereka sengaja kesalon untuk memanjakan diri karna sebentar lagi Hafsyah akan menikah dengan Dimas. Hafsyah sendiri sangat menikmati me timenya bersama Fina dan Rere. Hafsyah merasa sudah lama sekali ia dan sahabatnya tidak berjalan bersama seperti saat ini.
"Syah, aku yakin kau semakin cantik setelah perawatan ini," ujar Rere.
"Dan Dimas pasti akan semakin tergila-gila padamu nanti!" celetuk Fina lalu menatap Hafsyah dengan tatapan menggoda,Hafsyah.
Mereka tertawa lepas sedang Hafsyah tersenyum malu.
"Kau salah Fin, Dimas dari dulu memang sudah tergila-gila pada sohib kita ini," lirik Rere pada Hafsyah.
Fina pun mengangguk setuju.
"Ya benar Re, aku bahkan masih ingat wajah Dimas ketika Dimas memohon meminta bantuan kita." kelakar Fina sambil tertawa.
Rerepun ikut tertawa. pasalnya mereka ingat betul ekpresi wajah memohon Dimas pada mereka berdua saat merekalah harapan terakhir Dimas untuk meminta bantuannya.
Hafsyah mengeryitkan dahi dengan wajah penuh selidik pada Rere dan Fina.
"Apa yang Dimas lakukan dan apa yang dia katakan pada kalian?" tanya Hafsyah serius.
Fina dan Rere saling pandang menatap satu sama lain.
"Sudahlah Syah, yang pasti kamu harus bersyukur bisa mendapatkan lelaki baik dan penyayang dan mencintaimu dari dulu," ucap Fina cepat agar Hafsyah tak mempermasalahkannya lagi.
"Iya Syah, karena Dimas benar-benar sangat mencintaimu tulus kau beruntung mendapatkan lelaki seperti Dimas," timpal Rere.
"Ya, aku memang beruntung memiliki Dimas." senyum Hafsyah mengembang begitupun Fina dan Rere mereka ikut bahagia karna kebahagiaan Hafsyah saat ini.
Setelah dua jam mereka melakukan segala perawatan. akhirnya selesai sudah perawatan yang mereka jalani. Kini mereka hendak makan siang disebuah resto sebelum pulang kerumah masing-masing.
Sepasang mata sudah mengawasi gerak gerik mereka. Wanita itu menunggu lengah target yang ia incar.
Nadin mencengkram kuat setirnya. Saat melihat Hafsyah berjalan paling pinggir didekat jalan raya,sehingga memudahkan Nadin untuk menabraknya saat itu juga.
__ADS_1
Nadin sudah bersiap melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju arah Hafsyah berada.
Dari kejauhan Dimas sudah ingin menghampiri Hafsyah cs. Dimas melihat mobil yang melaju sangat kencang. Dimas memperhatikan Hafsyah cs yang masih berjalan santai beriringan. Semakin dekat Dimas merasa mobil itu mengarah ke calon istrinya. Dimas berlari kencang mendekati posisi Hafsyah. Dimas terus berlari secepat mungkin ke posisi Hafsyah. Namun ...