BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Cemburu


__ADS_3

Bima menuju rumah sakit sesuai yang di tunjuk Dimas dengan langkah cepat. Perasaan was was dan khawatir seketika ada dalam hatinya membuat langkah Bima terhenti. 'Apa ini?' batin Bima. Namun, ia segera menepisnya dan melangkah kembali.


Setelah mencari ruangan Hafsyah beberapa saat. Bima pun sampai di pintu ruangan Hafsyah. Namun, langkahnya terhenti karena Bima melihat seorang lelaki yang menunggu Hafsyah di dekatnya. Bima terkejut dengan hati yang bertanya-tanya siapa lelaki itu. Ada rasa yang tak biasa di dalam hati Bima saat ini. Dengan langkah perlahan Bima mendekati Hafsyah yang seperti tertidur lemah tak berdaya. Ada rasa iba di hatinya saat melihat istri yang selama ini dinikahi. Namun, ia tak pernah perdulikannya.


Dimas segera berdiri setelah menyadari kehadiran lelaki yang ada di sampingnya.


"Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Bima datar tanpa menyebut namanya.


"Entahlah, aku bertemu dan menemukan Hafsyah di jalan kemudian pingsan, sepertinya istri anda terlihat kelelahan," ujar Dimas penuh selidik pada Bima dengan tatapan interogasi.


"Kelelahan?" tanya Bima seolah terkejut.


"Ya, lelah dan ter-te-kan bahkan darah rendah jauh di bawah normal," ucap Dimas lagi dengan tatapan kesal pada lelaki yang ada di hadapannya.


"Katakan padaku! apa yang kau lakukan pada Hafsyahku Bima Prayoga Saputra!" tekan Dimas menekan kan kata-katanya dengan tatapan tajam dan amarah.


Sekilas Bima menatap Dimas yang ada di sampingnya.


"Apa urusanmu dan apa hubunganmu dengan nya?" tanya Bima tidak suka sikap Dimas yang terkesan ikut campur dan seolah mengintrogasi dirinya.


"Jelas ini menjadi urusanku, Hafsyahku tidak dalam keadaan baik," jawab Dimas tanpa ragu.


Bima menatap Dimas dengan kesal. Saat mereka bersitatap dingin pintu terbuka. Seseorang datang dengan seorang wanita berambut sebahu dia lah Nadin kekasih Bima.


"Sayang ... apa yang terjadi?" tanya Nadin dengan sikap yang bergelayut manja memeluk Bima tanpa malu di depan ada Dimas.


"Entahlah, orang ini selalu saja merepotkan aku, kenapa kau kesini. Sudah aku bilang tunggu aku jangan menyusulku," ucap Bima setengah kesal


Dimas yang melihat dan mendengar sendiri kata-kata pria berstatus suami itu justru berbicara seperti menghina Hafsyah. Membuat Dimas tak tahan dan menghampiri Bima yang masih berpelukan dengan wanita lain. Dimas menarik kerah Bima begitu saja di depan Nadin. Hingga membuat Nadin sedikit syok.

__ADS_1


"Kau seharusnya menjaga dan melindunginya juga membahagiakannya, bukan malah membuatnya Hafsyah seperti ini," geram Dimas sambil mencengkram kerah bima dengan kuat. Ingin rasanya Dimas meluapkan amarah nya saat itu juga. Namun, ia sadar karena ini masih di rumah sakit yang tak ingin membuat kegaduhan di ruangan Hafsyah dan mengganggu istirahat Hafsyah.


"Jangan pernah ikut campur urusan kami!" tekan Bima dengan angkuhnya.


"Ini akan menjadi urusanku, jika Hafsyah tidak bahagia dalam hidup dan pernikahannyam Camkan itu!" gertak Dimas menatap tajam Bima yang juga sedang menatap dirinya.


"Sayang ... sudahlah jangan kau urus wanita itu dan orang tak penting ini," tunjuk Nadin pada Dimas dan Hafsyah yang tak sadarkan diri.


Dimas menatap sedih pada Hafsyah yang masih terbaring lemah di depannya.


'Aku tak menyangka kehidupan Hafsyah selama ini, sungguh tak terbayangkan bagaimana hari-hari yang telah di laluinya. Betapa menderita nya Hafsyah ku.' batin Dimas sedih menatap Hafsyah yang masih belum sadarkan diri.


"Sayang, cepatlah kau pergi aku takut orang tuaku akan datang ke sini dan melihat kita, ucap Bima serius pada Nadin.


"Baiklah sayang, aku tunggu dirimu di tempat biasa ya."


Cup! seketika Nadin mencium pipi Bima begitu saja di depan Dimas. membuat Dimas segera mengalihkan tatapanya ke arah lain.


Nadin melangkah pergi meninggalkan Dimas dan Bima yang masih di dalam ruangan Hafsyah. Dimas benar-benar tak habis pikir dengan lelaki yang telah menjadi suaminya. Kembalu Dimas menghampiri Bima dengan menahan sesak juga amarah di dada.


"Harusnya jika kau memang tidak mencintainya biarkan dia pergi dan lepaskan dia. Biarkan dia kembali bahagia seperti dulu, ujar Dimas gemas. "Bukan malah seperti ini." lirih Dimas lalu menatap Hafsyah dengan tatapan nanar dan sendu.


Bima menatap datar Dimas.


"Kau tak tau begitu rumitnya hubungan ini," ucap Bima tiba-tiba.


"Rumit? Apa yang kau sebut rumit itu dengan harus menyiksa fisik dan hatinya hah!" cecar Dimas tak tahan lagi lalu meninju muka Bima dengan keras.


Bugh!

__ADS_1


Suara bogeman mentah mendarat di wajah Bima. Hingga membuat Bima tersungkur.


"Dengar! Aku dulu sempat melepas Hafsyah ku padamu karena aku pikir, Hafsyah ku bahagia bersamamu. Tapi, untuk kali ini aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, tidak akan! ini janjiku," ucap Dimas dengan berapi-rapi lalu menarik kerah Bima dan menghempaskan tubuh Bima ke lantai begitu saja.


Dengan langkah cepat Djmas pergi meninggalkan ruangan Hafsyah. Mencoba menahan tangis dan sesaknya di dada. Dimas pergi karena ia tak ingin Hafsyah melihatnya menangis dan rapuh di hadapannya. Karena dia tau Hafsyah tak menyukai lelaki lemah. Seperti yang ia katakan sewaktu kecil dulu.


Bima yang terkejut dengan yang di lakukan Dimas. Tak bisa menghindar, Sungguh tak terbayangkan reaksi Dimas yang tiba-tiba memukul dan mengancamnya. Detik itu juga Bima pun tau perasaan Dimas pada istri yang ia nikahi. Ada rasa tak rela dalam hatinya.


"Mas," panggil Hafsyah lirih menatap punggung Bima yang membelakanginya.


"Kau sudah sadar?" tanya Bima mendekat pada Hafsyah.


"Ya mas, dimana aku?" tanya Hafsyah menatap sekeliling kamar.


"Kau ada di rumah sakit," jawab Bima datar dan dingin.


"Mas, ayo kita pulang, aku sudah tidak apa-apa," ajak hafsyah hendak beranjak dari tidurnya.


"Kau harus istirahat dulu,' cegah Bima "apa kau ingin sesuatu?" tanya Nima tiba-tiba tapi tetap dingin.


Hafsyah menatap suaminya sekilas. Seakan tak percaya apa yang di dengarnya barusan.


"Mmm, aku ingin air putih itu," tunjuk Hafsyah ragu pada gelas yang ada di atas nakas.


"Ini minumlah," sodor Bima menyerahkan gelas kepada Hafsyah. "Kau jangan anggap aku perhatian padamu,karna yang aku lakukan ini wajar dan tidak ingin kamu sakit, jika kamu sakit siapa yang mengurus apartemen dan juga diriku?" ucap Bima panjang lebar.


"Ya mas, aku faham," jawab aHafsyah lirih dan menunduk.


Tanpa mereka sadari di luar pintu, ada sepasang mata mengamati mereka berdua. Rasa sakit dan perih itu hadir saat menyaksikan orang yang dicinta di perlakukan seperti itu. Dimas bersender ke tembok menatap sendu Hafsyah yang terlihat menahan tangis di balik cadarnya. Dimas kembali karena ingin mengantarkan barang-barang belanjaan Hafsyah yang masih ada di mobil Dimas, bermaksud mengantarkan dan memberikan pada suaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku Hafsyah, andai waktu itu aku mengungkapkan perasaanku padamu lebih cepat di depan orang tuamu. Mungkin kita sudah menikah dan hidup bahagia.' batin Dimas menyesal.


Tak terasa airmata pun menetes membasahi wajah tampannya Dimas malam itu. Airmata yang sedari tadi ia tahan agar tak menangis. Tapi kini, buliran bening itu jatuh perlahan begitu saja di wajah Dimas.


__ADS_2