BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Gengsi


__ADS_3

Bima memeriksa Berkas-berkas yang akan ditanda tanganinya. Ia nampak serius memeriksa berkas itu satu persatu. Saat sedang serius, secara Tiba-tiba sekelebat bayangan senyum wanita terlintas membuat Bima berhenti seketika.


' Apa ini? mengapa aku membayangkan senyum wanita itu, senyum yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya,' batin Bima


Ada getaran yang tak biasa di jantung dan hatinya saat Bima membayangkan senyum itu. 'Ya' senyum itu adalah milik Hafsyah wanita bercadar yang telah menjadi istrinya.


"Apa aku mulai menyukai wanita itu," ucap Bima sambil berpikir. "Ah, mana mungkin, dia bukan tipeku dan dia wanita yang sangat kampungan," ucapnya meyakinkan diri.


"Baiklah masih banyak pekerjaan yang menungguku dan aku akan segera menemui Nadin," ucapnya lagi dengan penuh semangat.


Baru selesai menyelesaikan Berkas-berkas yang ada. Pintu ruangannya terbuka muncul wanita cantik dengan gaya anggunnya.


" Sayang ..." panggil Nadin sambil memeluknya dengan girang.


Bima terkejut dengan hadirnya Nadin di kantornya yang tiba-tiba.


"Mmm, maaf pak saya sudah berusaha mencegahnya untuk tidak masuk tapi----"


" Ya, tidak Apa-apa kau boleh keluar, sela Bima pada sekertaris kantornya yang terlihat menunduk karena takut.


" Baik pak,"


"Sayang, lain kali kau jangan Tiba-tiba datang kemari, tegur Bima pada Nadin kini nampak cemberut seketika.


"Kenapa, apa aku mengganggumu?" tanya Nadin bergelayut manja di lengan Bima.


"Tidak sayang, kau kan tau hubungan kita seperti apa. Aku tidak ingin hubungan kita jadi sorotan publik yang akan di ketahui kedua orang tuaku," jelas Bima.


"Itu yang ingin aku bicarakan padamu, mau sampai kapan hubungan kita seperti ini terus," ketus Nadin. Nadin nampak merajuk mengerucutkan bibirnya


"Sabar sayang, aku juga sedang berusaha,"


"Berusaha apa? berusaha diam, seperti inikah caramu," jesal Nadin memalingkan kini wajahnya.


"Hei, sayang dengar aku, kau tenang saja aku pasti akan segera menyelesaikannya, tunggu ibuku Benar-benar sehat lalu aku fikirkan caranya," ucap Bima berusaha menenangkan wanitanya yang tengah merajuk itu.


"Aku hanya takut sayang, kau akan Benar-benar menyukai wanita kampung itu."


Deg!


Bima terdiam tak berkata terlebih jantungnya berdetak kencang ketika wanita itu disindir.


'Apa lagi ini?' batin Bima bingung.


"Sayang, sayang," Nadin melambai-lambaikan tangannya tepat di wajah Bima tapi Bima masih saja terdiam tak bergeming.


" Bima!" bentak Nadin menghentakkan lamunan Bima seketika.


" Eh ya, ada apa?" ucap Bima gugup.


" Tuh kan," sungut Nadin kesal.


Bima segera memeluk wanitanya dengan mesra.


"Sayang percaya padaku aku akan segera menyelesaikannya setelah ini ok!" ucap Bima berusaha meyakinkan Nadin meski hati kecilnya sendiri merasa tak yakin.


'Kenapa perasaanku jadi ragu begini,' gumam Bima dalam hati.

__ADS_1


***


Hasyah kembali mengerjakan aktifitasnya. Seperti biasa Hafsyah melakukannya dengan telaten dengan penuh kesabaran membersihkan kamar Bima yang sudah ia pakai selama ini. Ia sengaja menyuruh Asisten-asistennya untuk tidak membantu membersihkan kamar Bima. Ia ingin mengerjakan sendiri tanpa asisten agar ia lebih leluasa dalam mengerjakan tugasnya.


Hafsyah sadar ia akan kembali ke kamarnya mengingat orangtuanya sudah kembali ke kampung. Dan ia juga merasa sudah sehat seperti sediakala. Bukan tak mungkin ia harus kembali ke kamarnya. Dan Hafsyah sendiri sudah mulai terbiasa dengan sikap dan perlakuan suaminya yang tak menganggap dirinya ada.


Hafsyah menghela nafasnya. Pekerjaan yang ia lakukan sudah selesai. Kini Hafsyah teringat ingin memasak sesuatu untuk suaminya. Hafsyah melihat dua asistennya sedang di dapur dan seperti akan memasak untuk makan malam. Bergegas ia ke dapur. Dan berkata pada asistennya karna Hafsyah ingin memasaknya sendiri tanpa dibantu. Dengan terpaksa asisten menuruti majikannya itu.


Saat akan memasak ponsel Hafsyah berdering. Hafsyah menghentikan kegiatan memasaknya sebentar lalu menatap gawainya dan Memperhatikan nomor tidak dikenalnya yang memanggil, Hafsyah terlihat bingung.


'Nomor baru, siapa?" gumam Hafsyah kemudian menekan tombol hijau.


"Assalammualaikum halo Hafsyah,"


"Wa'alaikumsalam Dim-mas," ucap Hafsyah terkejut mengenali suara Dimas di seberang sana Hafsyah bingung karna ia merasa sudah mengganti nomor ponselnya sejak menikah hanya orang tuanya yang tau dan tentu dua sahabatnya Rere dan fina.


"Kau tau darimana nomor ponselku?" tanya Hafsyah bingung.


" Ya Syah, ini aku Dimas bagaimana keadaanmu? Hehe ... siapa lagi kalau bukan duo krucil itu, Tmtawa Bima terdengar di seberang sana.


Flash back on


Duo krucil yang dimaksud Dimas adalah Rere dan Fina sahabat mereka. Dimas memang tidak pernah menghubungi Hafsyah semenjak Hafsyah menikah karna menganggap Hafsyah sudah bahagia dengan kehidupannya. Namun hari itu setelah ia tau keadaan Hafsyah yang sebenarnya Dimas berusaha menghubunginya lagi namun nomor yang di tuju sudah tak aktif.


Dimas menelfon rere untuk meminta nomer Hafsyah yang baru. Namun Rere kekeh tak memberikannya. Berbeda dengan Fina meski awalnya ia tak memberikannya namun Dimas tau kelemahan Fina yakni shoping barulah Fina memberikan nomor baru Hafsyah padanya.


"Yes, akhirnya aku bisa menghubungimu lagi Syah, tak perduli saldoku Atm ku habis karena si krucil Fina itu. Hufft leganya ..." ucap Dimas kala itu.


Itu sebabnya Dimas mengetahui nomor baru Hafsyah meski harus mengorbankan ATM nya.


Flash Back Of


"Ah, ya Syah aku senang bisa menolongmu diwaktu yang tepat, hem Syah ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu boleh kita bertemu," ucap Dimas ragu.


"Ya boleh, nanti aku izin dulu ke suamiku yaa dim jika diizinkan aku akan mengabarimu " Sebenarnya Hafsyah ragu untuk bertemu langsung tapi mengingat ia harus mengucapkan terima kasihnya ia memutuskan menyetujuinya.


"Ya Syah, aku tunggu kabar darimu ya udah kamu istirahat bay Syah Assalammualaikum," pamit Dimas di seberang.


"Wa'alaikumsalam," jawab Hafsyah.


Hafsyah melanjutkan masaknya yang tertunda. Ia Benar-benar ingin melayani suaminya dengan baik dan dengan tanganya sendiri. Itu sebabnya asisten nya tidak diperkenankan membantunnya khususnya memasak untuk menu suaminya.


***


Malam pun tiba dan Bima pulang tepat pukul tujuh malam. Bima melangkahkan kakinya menuju kamar. Bima merasa sangat lelah ingin mandi dan segera makan malam karna ia sudah sangat lapar.


Setelah menyelesaikan rutinitas mandinya Bima keluar. Mendapat keadaan kamar yang seperti berbeda. Bima merasa kamarnya lebih rapi juga wangi Bima menatap sekeliling seperti Mencari-cari sesuatu tapi ia tak menemukan. Bima melangkah keluar kamar berniat ingin segera memulai makan malamnya karna sudah sangat lapar.


Terlihat Hafsyah sedang menata piring dimeja makan. Hafsyah melihat Bima yang mendekati kearahnya. Hafsyah melempar senyum merekah di bibirnya nampak terlihat jelas senyum itu sangat indah. Bima yang tak sengaja menatap tepat ke arah bibir Hafsyah seketika itu berhenti melangkah dan menatap Hafsyah hingga tak berkedip.


Deggh!


'Ya tuhan, senyum itu kenapa terlihat mengikatku, membuat jantungku terus berdetak tak karuan.' gumam batin Bima.


Hafsyah yang melihat suaminya berhenti dan seperti melamun. Hafsyah segera menghampirinya.


" Mas ... ayo kita makan, nanti keburu dingin makanannya "

__ADS_1


Bima sadar dari lamunannya dan mengikuti langkah Hafsyah.


Hafsyah dengan telaten melayani Bima mengambil nasi beserta lauk pauknya.


Bima memakan dengan perasaan entah hanya dia yang tau. saat makanan itu masuk dalam mulutnya. Bima terkejut


'Ini luarbiasa enaknya, tak Sia-sia aku mempekerjakan Asisten-asisten di rumah ini,' batin Bima senang


Setelah beberapa saat mereka makan dengan suasana tenang. Bima terlihat makan dengan lahapnya membuat Hafsyah sangat senang.


"Mas aku ingin bicara"


"Katakan!" ucap Bima datar tanpa menoleh


"Boleh aku keluar aku ingin menemui Dimas." Hafsyah menunduk takut


Seketika Bima langsung menghentikan kunyahan nya dan menatap Hafsyah yang tertunduk.


"Kenapa?" tanya Bima penuh selidik.


"Aku hanya ingin mengatakan terima kasih secara langsung mas, jujur aku tidak enak dengannya bagaimnapun Dimas temanku " Ucap Hafsyah lirih


"Ya, kau boleh menemuinya ," ucap Bima dingin kemudian melanjutkan makannya lagi.


"Terima kasih mas " Hafsyah tersenyum senang


Tatapan Bima dan Hafsyah sempat beradu. lagi dan lagi Bima diam menatap Hafsyah tak berkedip


Deggh!


Lagi-lagi senyum itu.' batin Bima merasa frustasi untuk kesekian kalinya Jantung Bima berdetak lebih kencang.


Bima menyelesaikan makan malamnya dengan cepat karna tak tahan dengan senyum yang selalu diberikan Hafsyah padanya. Padahal sebenarnya Bima masih ingin makan meskipun sudah kenyang namun ia lebih memilih menghindari gejolak debaran dada dan hatinya. Ia tak mau terlihat salah tingkah didepan istrinya itu.


Bima berdiri menggeser kursi makanya dan melangkah mendekat dua asistennya.


"Kalian, terima kasih masakannya sangat enak dan aku sangat suka," ucap Bima menatap kedua asistenya.


Mereka saling menatap satu sama lain, kemudian dua asistenya menunduk takut.


"Maaf tuan itu yang masak bukan kami, tapi nyonya muda," tunjuk mereka pada Hafsyah dengan sangat ketakutan.


"A-pa ...!" teriak Bima murka.


"Maafkan kami tuan maafkan kami," ucap kedua asisten itu sambil duduk bersimpuh karena takut


"Lalu untuk apa kalian aku pekerjakan jika yang memasak adalah istriku" Ucap Bima lantang tanpa ia sadari Bima telah mengatakan Hafsyah istrinya dan itu membuat Hafsyah menatap Bima seketika. tatapan mereka bertemu dan Bima baru menyadari ucapanya ia pun jadi salah tingkah. Mengingat Hafsyah adalah istri yang tak dianggap dan selalu diacuhkan olehnya.


Hafsyah yang menyadari kemarahan Bima. Kemudian Hafsyah mendekati mereka.


"Maaf mas, bukan salah mereka, itu semua aku yang menyuruh mereka agar mereka tidak memasak karena aku ingin menyiapkan sendiri makanan untukmu mas," terang Hafsyah panjang lebar. "Jadi tolong jangan marah pada mereka," ucap Hafsyah lagi dengan suara lirih kemudian menunduk


Bima yang masih terlihat salah tingkah memutar tubuhnya. Membelakangi Hafsyah.


"Terserah kau saja," ucap Bima dingin dan berlalu meninggalkan mereka yang masih terdiam.


***

__ADS_1


Bima masuk ke kamarnya. Didalam ia sangat kesal malam itu mengacak rambutnya dengan frustasi. Jauh dalam hatinya Ia menahan rasa kesalnya pada Hafsyah yang Tiba-tiba menyebut nama Dimas dan ingin menemuinya di tambah lagi jantung dan hatinya yang dari tadi tak menentu dibuatnya. Belum lagi keterkejutannya pada asistennya membuat jantung Bima berdetak lebih kencang lagi. Hatinya sangat gelisah memikirkan dan membayangkan Hafsyah menemui lelaki lain. Ada rasa sesal mengapa ia harus mengizinkannya tapi ia juga tak berani menemui Hafsyah dan melarangnya mengingat Jantungnya selalu berdetak kencang setiap berhadapan dengan Hafsyah apalagi senyum itu. "Huffftt!" Bima menghela nafasnya dengan kasar.


"Sebenarnya ada apa denganku ini, kenapa Akhir-akhir ini aku jadi merasakan aneh pada diriku sendiri." gusar Bima tak mengerti dengan perasaannya saat ini.


__ADS_2