BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Berdebar-debar


__ADS_3

Malam yang terasa dingin ditemani angin Sepoi-sepoi diluar jendela kamarnya. Membuat Hafsyah tersenyum kecil. Hafsyah tersenyum pada dirinnya sendiri. Memikirkan kehidupan pernikahannya selama ini. Sungguh tak terbayangkan dalam benaknya Hafsya akan menjalani rumah tangga seperti ini.


'Mungkin lebih tepatnya bukan rumah tangga tapi kehidupannya,' bathin Hafsyah menertawakan dirinya sendiri.


Pernikahannya dengan Bima membuat Hafsyah harus banyak menelan kekecewaan. Hafsyah termenung dalam diamnya menatap lurus kedepan. angin yang terasa kian kencang Menerbang-nerbangkan rambut panjangnya yang tergerai indah. Hafsyah masih tersenyum menikmati desiran angin yang kian terasa.


Sepasang mata yang tengah mengamati Hafsyah sedari tadi. Ia terus menatapnya tak berkedip sesekali ia pun ikut tersenyum.


'Senyum yang indah, dan juga rambutnya sangat indah ' Batin lelaki itu terkagum


Melihat angin yang semakin kencang membuat lelaki itu khawatir. Lelaki itu mendekati posisi Hafsyah.


Langkah kaki lelaki itu semakin mendekati Hafsyah yang masih fokus merasakan angin malam dijendela kamarnya.


"Apa yang kau lakukan disini ?" kau bisa sakit nanti." Ucap seseorang pada Hafsyah


Hafsyah terkejut karna Bima sudah berdiri di belakangnya. Bima menutup jendela yang dikamar Hafsyah.


"Sejak kapan mas Bima masuk?" tanya Hafsyah merasa terkejut.


"Barusan," ucap Bima dingin lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Kenapa kau tak mengetuk pintu. Apa kau memerlukan bantuanku ?"

__ADS_1


"Kenapa?" Tidak boleh aku masuk. Ini kan rumahku," ucap Bima angkuh.


"Bukan begitu,maksudku-----"


"Kau sendiri sedang apa di dekat jendela Malam-malam begini. Kau tak liat, anginnya kencang seperti ini," ucap Bima menyela perkataan Hafsyah begitu saja.


"Aku hanya sedang ingin menikmati angin malam," ujar Hafsyah.


Hafsyah segera berdiri tapi karrna kurang Hati-hati tubuh Hafsyah jatuh. Dengan sigap, Bima menarik tangan Hafsyah dan memegang pinggang Hafsyah agar tak terjatuh ke lantai.


Mereka berdua terkejut begitu pun dengan Bima yang terlihat khawatir. Untuk beberapa saat mereka saling menatap lekat dimata mereka Masing-masing. Ada debaran yang tak biasa dihati Bima. Jantung Bima berpacu sangat cepat melihat mata Hafsyah dengan sangat lekat didepannya.


Untuk pertama kalinya Hafsyah dan Bima menatap dengan jarak yang sangat dekat. Bima masih menatap lekat mata Hafsyah seolah enggan berpaling Bima terus menatapnya. Membuat Hafsyah gugup dibuatnya.


"Biarkan seperti ini," pinta Bima lirih lalu memeluk Hafsyah yang berusaha berontak. Tapi Bima tetap saja merangkul dan memeluk Hafsyah. Hingga Hafsyah terdiam beberapa saat dan menatap lelaki yang tengah menatapnya juga.


'Andai hatimu tulus dan kau mencintaiku mas, pasti aku akan bahagia diperlakukan seperti ini.' bathin Hafsyah sedih.


Hafsyah kemudian teringat dengan ucapan dan perjanjian yang dibuat Bima. Membuat airmata Hafsyah luruh seketika.


"Bagaimana dengan Nadin kekasihmu." Hafsyah memejamkan matanya karna tak kuasa menahan sakit mengatakan hal itu.


Seketika Bima melepas pelukannya. Dan Bima terlihat salah tingkah. Untuk sesaat Bima seolah terhipnotis dengan perasaannya sendiri hingga membuat Bima lupa sejenak tentang Nadin kekasihnya.

__ADS_1


"Kau benar. Kita bukan Siapa-siapa dan kita tidak mempunyai hubungan Apa-apa selain dengan orang tua kita Masing-masing," ucap Bima mendorong tubuh Hafsyah begitu saja kemudian melangkah cepat keluar dalam kamar Hafsyah. Tanpa perduli tatapan sendu Hafsyah saat ini.


Bima melangkah cepat kedalam kamarnya. Bima Benar-benar tak habis fikir dengan sikapnya sendiri.


"Semakin lama aku mendekat dengannya kenapa jantungku berdegup lebih kencang. Bahkan rasanya damai sekali saat aku menatapnya dengan lekat." Sungguh mata yang indah dan juga senyum yang sangat menawan," puji Bima terus berbicara pada dirinnya sendiri.


"Apa lagi ini," gumam Bima bingung memegang dadanya yang masih berdegup kencang dan tak normal.


'kenapa aku jadi memikirkan wanita kampung itu," B


bathin Bima.


Sementara itu divbalik pintu Nadin sudah berdiri menatap Bima dengan tatapan sendu.


Nadin datang ingin menemui Bima karna ingin memberi surprise pada Bima malam itu.


Asistennya sudah mengatakan bahwa Bima ada dikamar Hafsyah. Makanya Nadin segera menyusulnya namun Nadin enggan masuk karena melihat Bima dan Hafsyah berpelukan.


'Apa yang aku takutkan kini terjadi Bim," bathin Nadin melangkah pergi dari Apartemen Bima tersebut.


***


Hafsyah menangis dalam diam di kamarnya sungguh Hasyah merasa tak sanggup lagi dengan pernikahan ini. Hingga Hafsyah terus menangis dan berpikir akan masa depanya. Berkali-kali Hafsyah bahkan menghela nafasnya perlahan. Seakan ia sedang mencari kekuatan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


'Baiklah jika memang ini jalanku. Akan aku lakukan.' bathin Hafsyah mantap dengan keputusannya.


__ADS_2