BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Mulai mencinta


__ADS_3

Kini Hafsyah kembali ke Apartemen mewah milik Bima. Setelah beberapa hari dirawat Abi dan Uminya pun turut serta mengantarkan mereka ke apartemen Bima.


Orang tua Bima masih di luar negri jadi mereka tidak bisa ikut karrna suatu hal, yaitu sedang dalam pengobatan pada ibu Bima. Mereka orangtua Hafsyah berencana untuk menginap beberapa hari kedepan. Karena jarak yang cukup jauh juga ingin membuat keadaan putri semata wayangnya membaik dan sehat kembali.


Diam-diam orang tua Hafsyah memperhatikan keadaan putri tercinta mereka. Melihat keadaannya membuat hati mereka trenyuh juga teriris mereka berpikir mungkin Hafsyah terlalu lelah.


Mengingat apartemen yang mewah mereka memikirkan Hafsyah selama ini. Rasa penasaran mereka muncul saat mereka tak melihat asisten rumah tangga di apartemen itu.


'Apakah putriku Hafsyah selama ini mengerjakan semua tanpa di bantu asisten?' gumam batin Umi bertanya dalam hati.


Tidak mau berburuk sangka pada menantunya Umi berniat bertanya pada Bima.


Pagi itu di saat mereka sedang sarapan Umi Hafsyah berniat bertanya langsung pada Bima untuk mengusir rasa penasarannya.


"Bima apa apartemen mewahmu ini tidak ada asisten maksudku, orang yang membantu Hafsyah di dalam apartemen ini?" tanya Umi Hati-hati takut menyinggung sang menantu.


Seketika Bima berhenti mengunyah dan menatap Umi Hafsyah ragu.


" A-ada kok Mi, hanya saja kebetulan asisten kami baru pulang kampung karena ada keluarganya yang sakit," jawab Bima dengan gugup.


Abi dan Umi Hafsyah saling menatap melihat sikap Bima yang terlihat aneh.


"Tapi nanti asisten kami akan cepat kembali bekerja. Jadi Abi dan Umi tidak usah khawatir," ucap Bima dengan cepatm


"Syukurlah kalau begitu," ucap Umi lega


'Aku harus Cepat-cepat mencari asisten dengan segera supaya Abi dan Umi tidak mencurigaiku,' batin Bima


Bukan tanpa alasan Umi Hafsyah bertanya dan merasa ada yang aneh di pernikahan anak dan mantunya. Pasalnya setelah beberapa bulan tak bertemu dengan putrinya paskah pernikahan putrinya.


Mereka justru bertemu dengan keadaan Hafsyah yang sangat memprihatinkan. Orang tua mana yang tak trenyuh dan sakit hatinya melihat putri semata wayang mereka dalam keadaan seperti itu. Setiap di telfon Hafsyah selalu mengatakan dirinya dalam keadaan bahagia dan Baik-baik saja.


Berulangkali pula Abi dan Umi bertanya pada hafsyah apa yang sebenarnya terjadi. Hafsyah tetap saja tak menjelaskan dan hanya tersenyum lalu berkilah Hafsyah hanya terlalu lelah saja itu alasan yang di berikan pada mereka orang tua hafsyah. Dan mereka pun memaklumi, mengingat keadaan apartemen mewah Bima yang benar adanya. Membuat orang tua Hafsyah mengerti keadaannya. Tapi sebenarnya jauh dalam hati seorang ibu, umi Hafsyah sangat mengkhawatirkan keadaan putri semata wayangnya.

__ADS_1


Dimas yang kini Diam-diam selalu ada di dekat apartemen Hafsyah. Dimas tau alamat rumah Hafsyah melalui rumah sakit. Meski awalnya pihak rumah sakit kekeh tidak memberikan alamat data pasien, tapi Dimas berhasil meyakinkan pihak rumah sakit dan membuat mereka percaya bahwa Dimas masih saudaranya. Dimas sangat ingin melindungi dan menjagan Hafsyah dari jarak jauh, meski Dimas tidak bisa memilikinya. Namun, itu cukup memastikan Hafsyah dalam keadaan Baik-baik saja itu sudah sangat lebih dari cukup terlebih bisa memandanginya meski dari jarak jauh.


Tekad Dimas sudah bulat ia juga akan merebut hafsyah jika Bima Benar benar mencampakkannya untuk kesekian kali. Dimas tak ingin melepas Hafsyah untuk yang kedua kalinya terlebih Dimas tau kehidupan seperti apa yang di jalani Hafsyah saat ini. Dan untuk saat ini Dimas hanya perlu mengawasi hafsyah dalam keadaan dalam Baik-baik saja.


***


Tiga hari sudah orang tua Hafsyah bersama mereka. Dan Bima Benar-benar menepati janjinya yakni Asisten dan kini Hafsyah akan di bantu tiga asisten sekaligus.


Untuk membantu pekerjaannya. Setiap hari Hafsyah di perlakukan layaknya seorang putri dan Benar-benar di perhatikan oleh asisten nya. Mulai dari keperluan makan hingga baju yang akan di pakai. Asistennya akan selalu mengantarkan makanannya ke kamar mengingat hafsyah masih terlihat sangat lemas jadi Hafsyah selalu berada di kamar Bima untuk istirahat. Sementara jika malam tiba Bima akan tetap tidur di sofa kesayangannya yang ada di kamar Bima. Tak ada yang tau rahasia mereka selama ini. Kecuali Dimas. Jadi sangat terlihat jelas rumah tangganya hafsyah terkesan Baik-baik saja.


Pagi itu Hafsyah yang masih sedikit lemas mencoba memejamkan matanya di kamar Bima. Ya' karena ada orang tua Hafsyah maka Bima pun mengajak hafsyah untuk tidur di kamarnya agar rahasia mereka berdua tidak di ketahui mereka. Baru saja Hafsyah memejamkan matanya Tiba-tiba ia teringat pertemuanya dengan Dimas waktu itu. Hafsyah ingat ia sempat berbincang namun tak lama ia pingsan di hadapannya. Rasa penasaran siapa yang membawanya kerumah sakit membuat hafsyah ingin bertanya pada Bima. Terlihat Bima sedang memakai dasi yang akan berangkat bekerja pagi itu.


" Mmm Mas, bagaimana Mas tau aku di rumah sakit waktu itu?" tanya Hafsyah ragu.


"Kenapa?" tanya Bima justru balik bertanya dengan nada datar tanpa menoleh


"Ga Mas, aku hanya ingin tau saja, ujar Hafsyah gugup.


"Ya, kau di bawa kerumah sakit oleh seseorang. dan seseorang itu yang bersamamu saat itu, dia lelaki apa kau mengenalnya?" tanya Bima penuh selidik menatap Hafsyah yang tak memakai cadarnya.


"Katakan apa kau mengenalnya?" tanyanya lagi dengan ketus pada Hafsyah.


"Hmm ya aku mengenalnya, Dimas namanya Mas, Dimas teman masa kecilku juga sahabat kerjaku," jwab Hafsyah lirih lalu menunduk.


Bima terhenyak dan menoleh Hafsyah seketika. Ada rasa tak suka saat Hafsyah menyebut nama lelaki lain di hadapannya. Terlebih menyebut namanya Berkali-kali. Bima merasa geram. Tapi hanya bisa menahan rasa yang tak biasa itu kemudian menghampiri Hafsyah yang masih terduduk menunduk.


"Apa kau menyukainya, apa kau kekasihnya dulu?" tanya Bima lagi menekankan dengan wajah yang sulit di artikan kemudian duduk di samping Hafsyah.


Hafsyah terdiam bingung harus menjawab apa. Karena memang Hafsyah tidak mengerti maksud perkataan Bima barusan.


"Kenapa diam?" apa kau benar menyukainya dan kau kekasihnya," ucapnya lagi prnuh penekanan.


"Mas ... jujur aku bingung apa maksud perkataanmu mas." bingung Hafsyah.

__ADS_1


"Sudahlah, lupakan!" Bima segera beranjak berdiri melangkah "Oiya, hari ini aku harus berangkat ke kantor lebih awal, banyak rapat jadi aku harus cepat-cepat berangkat," hindar Bima enggan berlama--lama berbicara dengan Hafsyah.


Hafsyah memberanikan diri menatap Bima. Ada rasa senang dan tak percaya apa yang didengarnya. Hafsyah merasa Bima memberitahukan kegiatannya padanya. Padahal selama ini Bima bersikap dingin dan cuek bahkan terkesan angkuh. Hafsyah merasa sakitnya dirinya menjadi Bima sedikit berubah dan peduli padanya. Dan hal itu membuat hafsyah tersenyum di wajahnya. Senyum hafsyah yang terlihat jelas oleh Bima. Membuat Bima menatapnya hingga tak berkedip. Untuk beberapa saat pandangan mata mereka bertemu. Sedang Hafsyah hanya bisa tersenyum kemudian menunduk.


'Senyum itu.' batin Bima. Saat melihat senyum Hafsyah ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Namun, lagi-lagi Bima segera menepisnya dan berpaling ke arah lain. Kemudian melangkah ke arah keluar, berhenti tepat di pintu dan berkata tanpa menatapnya.


" Kau istirahatlah dan makanlah yang banyak agar tubuhmu sehat kembali Syah," ucap Bima lirih. Namun masih bisa di dengar oleh Hafsyah. Bima memilih melangkah pergi secepatnya karna ada getaran dalam dada yang membuat ia salah tingkah di hadapan Hafsyah.


Hafsyah yang masih terkejut hanya bisa menggangguk tanpa berkata. Menatap punggung suaminya sampai menghilang dari pandanganya.


'Apa Mas Bima baru saja memanggil namaku.' batin Hafsyah.


Tak lama pintu terbuka kembali ternyata Umi datang ke kamarnya.


" Hafsyah sayang ... qpa kau sudah baikkan? Obatnya juga sudah kau minum sayang?" tanya Umi Hafsyah


"Alhamdulillah Mi Hafsyah sudah mendingan, obat juga sudah Hafsyah minum secara teratur," jawab Hafsyah santun.


"Gimana perasaanmu sayang?" tanyanya lagi.


"Lebih baik mi," jawab Hafsyah.


"Syukurlah, Umi senang dengarnya. Oiya, sayang mungkin besok Umi dan Abi akan pulang, karena ada Abimu masih ada urusan disana, kau tidak Apa-apakan sayang kami tinggal," ucap Umi sambil memeluk Hafsyah.


"Ga kok Mi, Hafsyah ga Apa-apa dan Hafsyah akan baik-baik aja di sini," jwab Hafsyah menenangkan.


"Kabarin dan katakan Abi dan Umi ya Nak, jika ada sesuatu, meski kau sudah menikah tapi kau tetap anak kami," ucap Umi menangis tak tahan menahan gemuruh sesaknya didada.


"Umi, Hafsyah bahagia dan Hafsyah sangat senang, apalagi melihat Abi dan Umi dalam keadaan seperti ini," lirih Hafsyah lalu memeluk Uminya erat.


'Hafsyah sayang Umi dan Abi, mana mungkin Hafsyah menceritakan hal yang sebenarnya pada kalian. Hafsyah tidak ingin kalian tau apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Hafsyah dan kalian menjadi sedih karna hafsyah.' batin Hafsyah dalam tangisnya.


"Kami sangat menyayangimu Nak, untuk kali ini berjanjilah kau akan selalu tersenyum seperti dulu lagi ya sayang," ucap umi Hafsyah Sungguh-sungguh

__ADS_1


" Ahh umi, Ada-ada saja aku selalu tersenyum kok Mi, tapi kan, mana bisa terlihat karena senyumku pasti tertutup dengan cadarku ini hehe ..." gurau Hafsyah.


'Kau ini selalu saja berkilah agar kami tak khawatir.' batin Umi merasa sedih kemudian lalu memeluk Hafsyah kembali dengan kasih.


__ADS_2