
Pagi ini mereka sudah berada dirumah Hafsyah yang dulu. Abi dan Umi membawa Hafsyah kembali ke rumah. Mereka tak ingin kecolongan lagi dalam menjaga putri semata wayang mereka.
Hafsyah sedang bersiap-siap untuk bekerja. Umi menatap Hafsyah sendu, ada rasa bahagia sekaligus sedih dalam hatinya. Bahagia karena putrinya kini kembali, tapi juga sedih karena derita pernikahannya selama ini. Abi memandang istrinya dengan prihatin kemudian Abi mendekati istrinya.
"Mi, sudah ... sekarang anak kita sudah berada di dekat kita," ujar Abi pada istri tercinta. Umi menoleh menatap suaminya.
"Ya bi, aku sedih melihat anak kita ternyata selama ini anak kita menderita dan Hafsyah menyimpannya itu sendiri," ucap Umi Hafsyah menangis sendu.
"Sudah mi, sekarang takkan ada lagi yang menyakiti putri kita," ucap Abi sambi terus menenangkan istrinya.
Umi mengangguk kemudian memeluk suaminya.ada ketenangan dalam hati istri pada suaminya. Pagi itu mereka berjanji akan selalu melindungi dan menjaga Hafsyah dengan cara apapun, termasuk dengan jodohnya nanti. Mereka akan lebih mengutamakan dan mempertanyakan kesiapan juga hati Hafsyah kelak, jika ada yang ingin melamar putri mereka.
Sudah satu minggu tak terasa Hafsyah bersama orang tuanya, dan selama satu minggu itu pula Hafsyah kini menjadi guru lagi ditempatnya bekerja dulu. Hafsyah benar-benar bangkit dari keterpurukannya. Dukungan orang tualah yang membuat Hafsyah mampu melewati ini semua. Bahkan Hafsyah merasa beruntung dan bersyukur telah memiliki orang tua seperti mereka.
Dimas yang mendengar kabar tentang kembalinya Hafsyah sebagai guru seperti dulu, tanpa lama-lama lagi Dimaspun ikut menjadi guru lagi. Hal ini Dimas lakukan bukan tanpa alasan. Ya, Dimas ingin mengambil hati Hafsyah kembali. Meski Dimas sadar, ini takkan semudah yang Dimas bayangkan mengingat Hafsyah pernah terluka di pernikahan sebelumnya.
"Hah! tidak apa-apa, setidaknya aku akan tetap mencobanya lagi. Untuk hasil biarkan takdir yang menentukan,bismillah," ucap Dimas menyemangati dirinya sendiri. Dimas tersenyum kemudian melangkah pergi menuju Bidadari hatinya berada.
Saat tiba disana Hafsyah terlihat sedang sibuk dengan buku catatannya. Ada senyum tipis di wajah Dimas saat melihat Hafsyah.
'Baiklah bismillah.' bathin Dimas sambil menarik nafasnya perlahan.
"Assalammualaikum Syah," sapa Dimas pada Hafsyah juga dengan teman-teman yang ada disana.
Semuanya menjawab salam Dimas tak terkecuali Hafsyah.
"Wa'alaikumsalam Dim," ucap Hafsyah hanya memandang sekilas Dimas, kemudian melanjutkan lagi menulis di buku catatannya.
Dimas tersenyum lalu mendekati Hafsyah.
"Hai Syah, ini ada telur dadar sambal balado kesukaanmu. Ini aku yang membuatnya khusus untukmu," ucap Dimas menyerahkan makanan yang dibawanya.
Hafsyah menoleh dan tersenyum memandang Dimas dengan tatapan haru.
"Kau ini tidak berubah ya Dim, dan kau masih ingat betul masakan kesukaanku, ujar Hafsyah terharu.
__ADS_1
Semuanya menatap mereka. Dimas terlihat salah tingkah karena di tatap Hafsyah seperti itu.
" Eh,ga kok Syah," ucap Dimas gugup
'Kamu yang berubah Syah, aku masih tetap Dimas seperti dulu tapi kau tak pernah menyadarinya.' bathin Dimas pilu.
Kali ini Hafsyah menerima makanan yang dibawa Dimas untuknya.
"Terima kasih ya Dim," ucap Hafsyah lagi.
Dimas terlihat senang Dimas tak menyangka kali ini pemberiannya diterima Hafsyah.
" Sama-sama Syah," sahut Dimas senang dengan senyum khasnya.
"Di makan ya Syah," ucap Dimas kepada Hafsyah.
"Ya. Pasti Dim," jawab Hafsyah.
"Hmm hmm cieeeee ..." goda teman-teman Dimas dan Hafsyah pada mereka. Membuat Hafsyah tertunduk malu sedang Dimas senyum-senyum penuh arti.
Apartemen mewah Bima.
Bima tergeletak lemah disembarang tempat dalam kamarnya.setiap hari Bima hanya tidur, bangun lalu minum sampai benar-benar mabuk kemudian tertidur lagi. ya,Bima selalu melakukan itu selama seminggu ini, sejak kepergian Hafsyah pulang ke orangtuanya.
Bima merasa lemah tak berdaya tanpa Hafsyah.
Di manapun Bima melangkah bayang-bayang Hafsyah selalu hadir disetiap sudut rumah apartemennya. Membuat Bima tak mampu lagi berfikir jernih.orang tua Bima pergi keluar negri karna rasa kecewanya mereka pada Bima dan itu membuat mereka enggan untuk tinggal bersama Bima.
Orang tua Bima sangat kecewa pada Bima.
mereka mengira Bima sudah tak mempunyai hubungan lagi dengan Nadin. Sebenarnya bukan tanpa alasan orang tua Bima melarang anaknya menjalin hubungan dengan Nadin.bagi mereka Nadin bukanlah gadis yang baik-baik itu karna Nadin hanya mengincar hartanya.selain itu juga ibunya Nadin pernah memergoki Nadin berjalan dengan lelaki lain. Itu sebabnya orang tua Bima menjdodohkan Hafsyah wanita kampung yang baik juga ber'akhlak santun melalui saudara perempuannya.
Nadin selalu berkunjung Nadin menghampiri Bima dikamarnya yang terlihat sangat berantakan.Nadin menghela nafasnya dengan kasar lalu mendekati Bima yang terbaring lemah di sembarang tempat.
"Bima, akan sampai kapan kau seperti ini," ucap Nadin kesal sambil mengangkat tubuh Bima untuk memindahkannya diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Untuk apa kau kemari," ceracau Bima pada Nadin.
Nadin memandang wajah Bima dengan kesal.
"Aku tidak membutuhkanmu,aku hanya butuh Hafsyah istriku, dimana dia." Bima terus saja berceracau tanpa jelas membuat Nadin semakin kesal dibuatnya.
"Cukup! Bima cukup!" bentak Nadin pada Bima yang masih terus menceracau.
Bima memandang Nadin sekilas,Bima tersenyum sinis pada Nadin.
"Kau yang telah menghancurkannya," ucap Bima dengan tatapan tajam pada Nadin.
"Hei! ada apa denganmu Bim?" sanggah Nadin cepat.
"Bukankah dari awal ini rencana kita bersama." ucap Nadin mengingatkan.
Bima memandang Nadin dengan tatapan tajam,mata yang merah dan menahan amarah.
"Tapi tidak secepat ini Nadin!" bentak Bima pada Nadin.
Nadin hanya bisa tersenyum kecut.
"Begitu ya? lalu mau kapan kapan ... aahh!" Histeris Nadin.
"Diam!" gertak Bima kesal.
"Pergi kau. Pergi ...!!" usir Bima pada Nadin.
Nadin menangis menahan amarahnya.
Nadin melangkah keluar dari kamar Bima dengan perasaan kesal.
Bima mulai tak terkendali.Bima ingat kembali perlakuannya pada Hafsyah yang selalu diabaikan dan disakitinya. Bahkan Bima dengan terang-terangnya membawa Nadin diapartemen mewahnya. Memory dimana Bima menyakiti dan mengabaikan istrinya teriang-iang dengan jelas dimatanya.Bima kembali mengamuk disana.
semua barang tak luput dari amukkannya hingga membuat kamar itu semakin hancur dan berantakan tak bersisa.
__ADS_1