BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Lamaran kedua


__ADS_3

Dimas dan keluarganya sedang bersiap-siap untuk datang kerumah Hafsyah. Ya, hari ini mereka akan menemui orang tua Hafsyah mengkhitbah Hafsyah untuk Dimas.


Sementara itu keluarga Hafsyahpun sudah menyiapkan segala keperluannya untuk bisa menyambut calon besannya nanti. Keluarga Dimas sudah memberitahukan niatnya untuk melamar Hafsyah itu sebabnya keluarga Hafsyah sudah menyiapkan untuk menyambutnya. Rencana Hafsyah dan Dimas akan menikah tiga hari ke depan setelah acara khitbah selesai.


Hafsyah sedang berada didalam kamar bersama Rere dan Fina. Dua sahabat itu sengaja ingin menemani jalannya khitbah Dimas dan Hafsyah hari itu. Hafsyah terlihat gelisah sebentar-sebentar Hafsyah menatap jam yang ada didinding kamarnya. Hal itu jelas terlihat oleh kedua sahabatnya.


Rere menghampiri Hafsyah yang terlihat gelisah.


"Tenang Syah, semua akan baik-baik saja," ucap Rere.


Hafsyah menghela nafasnya perlahan.


"Entah kenapa hatiku merasa tidak tenang," jelas Hafsyah mengutarakan suasana hatinya.


"Syah, tenangkan dirimu bismillah semua akan baik-baik saja!" celetuk Fina pada Hafsyah.


"Di hari bahagiamu ini kau harus fokus pada kebahagianmu saja," bujuk Rere lagi pada Hafsyah.


Hafsyah mengangguk perlahan. Kedua sahabatnya merangkul Hafsyah dengan penuh sayang. Mereka tau betul perasaan Hafsyah saat ini mungkin Hafsyah masih trauma dan takut akan kehidupan yang dulu.


***


Satu jam kemudian keluarga Dimas sudah datang yang segera disambut oleh orang tua Hafsyah. Mereka saling menyapa satu sama lain kemudian bercengkrama sebentar. lalu menyuruhnya mereka untuk masuk.


Dimas terlihat gugup dan salah tingkah berungkali Dimas menyeka keringatnya,membuat orang tua Dimas dan orang tua Hafsyah saling melirik. Mereka hanya tersenyum maklum melihat perubahan sikap Dimas yang tiba-tiba saja gugup.


Kegugupan dan kegelisahan Dimas semakin bertambah saat Hafsyah mulai berjalan mendekati mereka. Hafsyah mencium takzim tangan kedua orang tua Dimas, dan Hafsyah menangkupkan kedua tangannya pada Dimas tanda salam untuk Dimas,membuat Dimas diam tak berkutik. Ayah Dimas sempat berdehem namun Dimas tak bergeming dari tempatnya.


'Masya Allah cantiknya Bidadariku.' Gumam batin Dimas terkesima pada penampilan Hafsyah hari itu yang memakai gamis syar'i berwarna pink beserta cadar yang senada namun tak menutupi sinar cahaya kecantikannya dibalik cadar yang menutupi wajahnya.


'Tenang Dimas tenang..gugupmu jangan sampai mempermalukan dirimu sendiri.' batin Dimas menyemangati dirinya sendiri.


'Huffttt Bismilla.' semangat Dimas dalam hati.

__ADS_1


Dimas masih diam berdiri mematung tanpa berkedip. kali ini Abi Hafsyah yang berdehem untuk memberi kode pada Dimas.


Dimas tersadar dan Dimas kembali duduk, kini mereka meneruskan acaranya yang sempat tertunda tadi gara-gara Dimas melamun.


"Bagaimana nak Dimas?" tanya Abi Hafsyah pada Dimas.


Orang tua Hafsyah menyuruh Dimas untuk segera mengutarakan dan menunaikan hajatnya pada mereka.


Dimas menarik nafasnya perlahan.


"Bismillah, Abi, Umi aku Dimas Sanjaya datang kemari bersama kedua orang tuaku berniat untuk mengkhitbah secara langsung, putri Abi dan Umi yang bernama Hafsyahtul Aljannah untuk menjadi istriku kelak," ucap Dimas tanpa ragu dan mantap.


Kedua orang tua Hafsyah nampak merasa lega. Ada rasa kagum pada diri calon menantunya itu. Sebab Dimas sendirilah yang menyatakan niat dan hajatnya tanpa diwakilkan orang tua Dimas. Orang tua Hafsyah juga yakin jika kelak Dimas bisa membahagiakan putrinya nanti. Namun tetap saja mereka tak ingin gegabah dan terulang kembali kejadian dimasa lalu. Maka mereka pun menyerahkan keputusan itu sepenuhnya pada putri mereka Hafsyah.


Abi menatap Dimas dengan tatapan tak terbaca membuat Dimas sedikit menuduk.


"Nak Dimas, jujur Abi dan Umi setuju-setuju saja dengan niat baikmu," ucap Abi Hafsyah pada Dimas yang membuat Dimas menatap senang pada Abi Hafsyah.


"Tapi ... tetap saja kami tidak bisa memutuskan itu sendiri," ucap Abi Hafsyah lagi. Kali ini Dimas terlihat menunduk lesu.


"Kami akan menerimamu sebagai menantu kami, jika Hafsyah sendiri yang menerima khitbah ini." lanjut Umi Hafsyah yang menunjuk Hafsyah.


Semua menatap Hafsyah tak terkecuali dua sahabatnya yang sedari tadi juga ikut tegang. Dimas menatap Hafsyah dengan penuh harap-harap cemas.


"Bagaimana nduk?" tanya Umi pada Hafsyah.


Hafsyah memejamkan kedua matanya. Ada rasa bahagia juga sedih didalam hatinya. Bahagia karna akhirnya Dimas mengkhitbahnya,sedih karna Hafsyah tiba-tiba mengingat momen dimana Bima juga mengkhitbahnya. Tanpa terasa buliran airmata jatuh dimata indahnya.


Semua masih menatap dan menunggu jawaban Hafsyah.


"Hafsyah," panggil Abi Hafsyah pelan membuyarkan lamunan Hafsyah.


Segera Hafsyah menunduk agar mereka tak melihat airmatanya meski tertutup dengan cadar Hafsyah.

__ADS_1


' Bismillah,' batin Hafsyah.


Hafsyah menghembuskan nafasnya perlahan.


"Abi, Umi Hafsyah ..." ucapan Hafsyah terhenti.


Semua masih terdiam menunggu pasti jawaban Hafsyah. Dimas menunduk lemah merasa tak sanggup jika Hafsyah menolak niatnya.


"Hasyah terima khitbah Dimas bi mi ..." ucap Hafsyah lirih. Tapi terdengar jelas oleh mereka terlebih Dimas yang membuat Dimas segera luruh kelantai seketika kemudian sujud syukur dihadapan mereka. Dimas benar-benar merasa bahagia Dimas tersenyum, sungguh Dimas sangat bahagia hingga tanpa sadar Dimas menitikkan airmata bahagianya.


'Aku janji Syah, aku akan selalu membuatmu bahagia dan aku tidak akan mengabaikan Bidadari sepertimu,' batin Dimas berjanji.


Semua tampak bahagia begitupun kedua sahabat mereka Rere dan Fina reflek memeluk Hafsyah karna rasa harunya.


" Alhamdulillah ..." Serempak mereka bersama.


Acarapun telah selesai dengan ditutup bacaan hamdallah dan rencana pernikahan tetap akan diadakan empat hari ke depan. Karena mereka beranggapan niat baik harus segera dilaksanakan.


Dimas menatap Hafsyah haru.


"Terima kasih ya Syah karna kamu sudah mau menerimaku," uap Dimas pada Hafsyah.


Hafsyah tersenyum kemudian menunduk.


'Kenapa hatiku cemas dan khawatir seperti ini,' batin Hafsyah merasa bingung.


***


D lain tempat.


Sepasang mata yang senantiasa mengawasi rumah Hafsyah daritadi. Lelaki itu tau bahwa Hafsyah akan menikah lagi, namun lelaki itu hanya bisa memandang dari jarak jauh karna baginya semua itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindu yang selama ini mendera.


Bima sadar bahwa untuk kembali pada Hafsyah itu tak mungkin. Mengingat sikap Bima dulu padanya dan kini Bima hanya bisa meratapi dan menatap dari jarak jauh ketika rindu itu datang menjelma.

__ADS_1


Bima tersenyum pilu melihat orang yang di rinduinya hadir bersama lelaki yang akan membahagiakan Hafsyah.


'Kau memang pantas untuk bahagia Hafsyah, maafkan aku yang selalu menyakitimu. Sungguh aku lelaki paling bodoh karna sudah menyia-yiakan dan mengabaikan Bidadari sepertimu,' batin Bima menangis pilu mengingat perlakuannya pada Hafsyah dulu.


__ADS_2