BIDADARI TERABAIKAN

BIDADARI TERABAIKAN
Sakitnya Hafsyah


__ADS_3

Udara di subuh hari terasa dingin menusuk tulang. Udara yang masih sangat sejuk alam masih memanjakan insan yang masih terlelap dalam mimpinya. Terdengar gema shubuh berkumandang dengan syahdunya. Memberi syarat panggilan bagi insan terhadap Tuhan -Nya.


Bima masih tertidur lelap di kamarnya. Tapi tidak dengan seorang istri yang bernama Hafsyah telah bangun dari peraduanya. Hendak bersiap membersihkan diri kemudian menjalankan sholat shubuh seorang diri. Ya, meskipun Hafsyah telah bersuami ia tetap sholat sendiri tanpa di dampingi seorang imam. Seorang imam yang seharusnya menyempurnakan sebagian Imannya. Namun ternyata mimpi tak seindah dengan khayalan bagi seorang Hafsyah yang ingin menyempurnakan hidup dan agamanya.


***


Dua bulan sudah berlalu. Seperti biasa Hafsyah selalu menjalankan tugas dan perannya sebagai seorang istri di rumah apartemen mewah itu. Setiap pagi Hafsyah selalu memasak dan menyiapkan semua keperluan suaminya. Begitupun ketika suami akan mandi dan bekerja maka Hafsyah lah dengan sigap membantu suaminya.


 


"Mas ... air sudah aku siapkan untuk mandi, aku juga sudah menyiapkan sarapan untuk mas," ucap Hafsyah setiap pagi dan saat Bima bangun dari tidurnya.


 


"Hmm." Hanya itu yang di ucapkan Bima sambil melangkah ke kamar mandi tanpa perduli tatapan sendu Hafsyah.


 


Dingin dan datar itulah bima sungguh sikap yang berbeda jika dengan mantan kekasih sekaligus mantan tunangannya Nadin. Bima akan bersikap romantis padanya.


Tidak ada ada hal istimewa dalam hubungan pernikahan mereka. Biasa dan datar\-datar saja. Bahkan hafsyah sering di perlakukan seperti tidak ada di rumah itu. Namun, Hafsyah tetap berusaha menguatkan hati dan niatnya, bahwa pernikahan adalah ibadah yang terpanjang baginya. Itu sebabnya Hafsyah masih tetap bertahan meskipun pernikahannya tidak berjalan normal seperti pernikahan-pernikahan pada umum nya. orang tua mereka tidak ada yang curiga. Karna bima benar-benar menjalankan rencana nya dengan sangat baik. Hingga ketidak normalan rumah tangga mereka tidak terlihat.


Sakit dan perih itulah yang Hafsyah rasakan setelah pernikahan. Hafsyah hanya bisa mengadu kepada Tuhan-Nya di setiap sepertiga malam. Karena Hafsyah tidak ingin membebani beban pikiran kedua orang tuanya jika orang tua Hafsyah mengetahui pernikahan yang sebenarnya. Sungguh, Hafsyah sangat menyayangi mereka. Hafsyah tak ingin jika rumah tangganya nanti akan mempengaruhi kesehatan kedua orang tua Hafsyah.


 


***


Siang itu Hafsyah sedang berbelanja untuk keperluan dapur. Hafsyah yang sebenarnya sedang sakit kepala memaksa diri pergi berbelanja. Karena hari itu kebutuhan dapur benar-benar sudah tak tersisa, begitu pun bahan-bahan makanan yang di kulkas pun sudah habis. Hafsyah menahan panasnya terik matahari menunggu di halte bus.


Hafsyah seperti biasa menaiki bis umum untuk menuju pusat belanja di kota tersebut. Bima yang tak pernah peduli dan tak mau tau pada Hafsyah terkadang membuat Hafsyah merasa kelimpungan. Karena Bima benar-benar tak peduli meski hanya sekedar mengantar berbelanja pun tidak. Bima hanya memberikan uang dan kartu Black cardnya untuk di pergunakan kebutuhan atau pun hal-hal yang Hafsyah inginkan. Bima pikir itu semua sudah cukup jadi Bima merasa tenang-tenang saja selama ini.


 


Setelah sampai di pusat perbelanjaan. Bergegas Hafsyah membeli kebutuhan nya. Tanpa membuang waktu Hafsyah memasukan kebutuhan di keranjang lalu berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan nya. Setelah menghitung semua dan membayar belanja nya, Hafsyah menuju keluar sambil menenteng berbagai kebutuhannya. Sebenarnya Hafsyah sedikit repot karena belanjanya yang begitu banyak. Terlebih kepala Hafsyah mulai terasa sakit lagi. Smbil menahan menahan rasa sakit, Hafsyah tetap berjalan dengan perlahan.


Saat sedang fokus berjalan keluar. Samar-samar Hafsyah mendengar seseorang memanggil namanya. Merasa di panggil Hafsyah mencari sumber suara itu. Setelah memastikan pandangannya benar, terlihat lelaki itu sedang menatapnya Hafsyah, tepat di depan Hafsyah yang sedang menghampiriya sambil berlari.


"Dimas," lirih Hafsyah bergetar kaget.


" Benerkan, kamu Hafsyah? sudah aku duga, aku tidak salah, dengan apa yang aku liat ini," ucap Dimas merasa senang dengan nafas yang masih tersengal karena berlari mendekati Hafsyah.


 

__ADS_1


"Apa kabar Dim," sapa Hafsyah.


"Baik Syah .. aku sangat baik. Senang bisa bertemu denganmu lagi Syah," sambar Dimas cepat.


"Kamu apa kabar Syah," cecar Dimas lagi seakan tak henti-hentinya tersenyum.


 


"Aku ba ....


Bruggh!


Tubuh Hafsyah terjatuh begitu saja dan tak sadarkan diri di depan Dimas.


"Hafsyah!" teriak Dimas. Dimas yang sangat terkejut langsung menolong Hafsyah.


Dimas bingung dengan keadaan Hafsyah yang tiba-tiba pingsan di depanya. Tanpa pikir panjang lagi Dimas langsung menolong Hafsyah begitupun orang-orang yang ada di sekitar. Orang-orang membantu belanjaan Hafsyah untuk di naikkan ke mobil Dimas. Lima belas menit mobil Dimas kini telah sampai di halaman rumah sakit.


Hari ini Dimas benar-benar senang sekaligus khawatir. Senang bisa bertemu dengan bidadarinya juga merasa sedih karena setelah sekian lama tak bertemu Hafsyah. Justru bertemu dengan keadaan yang seperti ini. Hafsyah sedang berbelanja seorang diri dengan begitu banyak belanjaan dan pingsan di hadapannya. Hal itu jelas membuat Dimas bertanya-tanya dalam hati. Bahkan saat Dimas membawa Hafsyah dalam dekapannya. Hati Dimas berdesir, Sangat terasa badan Hafsyah yang terlihat sangat ringkih dan ringan sekali. Seolah tak ada daging dalam tubuh Hafsyah saat ini. Dimas sempat terkejut karena keadaan Hafsyah sangat ringan saat ini. Namun, semua itu semua itu Dimas tepis karena Dimas ingin Hafsyah segera mendapat pertolongan medis secepat mungkin.


 


Dokter segera memeriksanya. Setelah sepuluh menit di periksa dokter pun selesai.


"pasien mengalami dehidrasi berat, tekanan darah sangat rendah dibawah normal, kelelahan juga seperti ada tekanan," ucap sang Dokter wanita pada Dimas.


"Darah rendah,lelah dan tekanan," ucap Dimas lirih.


 


"Iya pak, tekanan darah yang sangat rendah memang bisa membuat seseorang pingsan karena di akibat kan kepala yang teramat sakit. Terlebih pasien sepertinya terlihat sangat lelah dan dehidrasi," jelas sang Dokter wanita itu lagi.


 


"Lantas sebaiknya bagaimana dok?" tanya Dimas serius.


 


"Sebaiknya pasien harus di rawat inap terlebih dahulu di sini, untuk beberapa hari ke depan, ucap sang Dokter pada Dimas.


"Baiklah dok, tolong lakukan yang terbaik untuk nya," ujar Dimas tertunduk lesu.


Dokter itu pun pergi meninggalkan Dimas yang masih diam terpaku. Dimas menghampiri Hafsyah yang terbaring lemah. Menatapnya lekat. Ada kerinduan di dalam hatinya. Rindu akan Hafsyah selama ini.

__ADS_1


 


"Hafsyah apa yang terjadi padamu,? aku dulu mengira kau akan baik-baik saja dan bahagia karna kau menikah dengan lelaki baik, mapan dan tampan seperti Bima. Tapi apa ini aku melihatmu dalam keadaan seperti ini. Kenapa Syah," tangis Dimas menatap bidadarinya yang terbaring sangat lemah.


 


Dimas terus menatap Hafsyah dengan tatapan sendu. Pertemuan dengannya hari ini benar-benar membuat hati Dimas prihatin dan sedih. Mengingat keadaannya saat terakhir kali melihat di resepsi pernikahannya sangat berbeda dengan keadaan yang sekarang.


Hafsyah masih belum sadar dalam tidurnya. Dimas dengan setia menemani di samping Hafsyah tanpa berniat meninggalkanya.


***


 


Sementara itu Bima pulang tepat pukul delapan malam. Bima segera ke ruang meja makan untuk bersia-siap makan malam. Bima sempat merasakan rumah terasa hening tidak seperti biasanya. Dia pun menatap bingung meja makan masih kosong tak ada apapun. Bergegas bima menghampiri kamar hafsyah.


"Cek! Kemana orang itu!" decak Bima kesal.


 


Di carinya ke berbagai ruangan tetap tidak di temukan. Bima pun merasa sangat kesal karena sudah lapar. Bima mengambil ponselnya untuk menghubungi nomor telfon Hafsyah. Telepon berdering di seberang sana. Empat kali panggilan baru diangkat.


 


"He! kamu itu gimana sih? Meja makan tidak ada menu dan kamu kemana aja hah! bentak Bima di seberang telfon Hafsyah.


Dimas mengkerutkan keningnya karena merasa heran dengan orang yang ada di ujung telfon.


"Maaf, ini bukan Hafsyah, karena Hafsyah sedang ada di rumah sakit saat ini," ujar Dimas menjelaskan pada Bima.


 


"Apa!" pekik Bima.


"Ya Hafsyah sedang terbaring lemah karna tadi pingsan di jalan," jelas Dimas lagi.


"Rumah sakit mana?" tanya Bima datar.


"Rumah sakit x," jawab Dimas.


"Ok!" ucap Bima datar dan dingin lalu menutup ponselnya begitu saja. Membuat Dimas merasa geram seketika.


"Apa-apaan orang ini, kenapa terlihat biasa saja dan sepertinya lelaki itu tidak khawatir sama sekali dengan keadaan Hafsyah saat ini." gumam Dimas sambil menatap kembali wajah Hafsyah yang masih tertutup rapat oleh cadarnya.

__ADS_1


__ADS_2