
"Ivan, pergi atau aku teriak! Jangan macam-macam! Apa kau lupa ini adalah rumah Kakakmu," pungkas Namira dengan suara keras seperti jeritan.
"Meskipun hubungan kita kurang baik, tapi aku adalah istri Kakakmu. Jadi demi menjaga perasaan kakakmu, kumohon kau pergilah," pinta Namira.
Bukannya pergi, Ivan malah makin berani, pria itu maju dan memeluk Namira. Dia menangkap tubuh kecil itu dengan gerakan cepat.
"Ivan, apa yang kau lakukan!" Namira makin panik.
Posisi perempuan itu saat ini mepet di pojokan pintu. Dalam sepersekian detik ia menangis ketakutan karena perlakuan Ivan sangat di luar batas wajar. Sekujur tubuh Namira gemetar diikuti rasa jijik yang berkibar-kibar.
"Jangan menjerit, Sayangku. Apa kau ingin semua orang tahu kalau mantanmu masuk ke rumah di saat suamimu tidak ada? Kau ini tidak sabaran sekali," ucap Ivan lagi.
Namira terpaku tanpa suara. Hanya ada tubuh yang semakin gemetar juga isak tangis yang tertahan.
Perempuan itu terus menangis. Ia harap Ivan sadar dari kegelapan dan segera pergi meninggalkannya. Namun, sayangnya Ivan semakin berani melakukan apa pun yang ia mau.
"Jika kau tidak mau Kak Saga tahu semuanya. Maka diam dan ikuti kemauanku," bisik lelaki itu. "Aku hanya ingin di posisi ini sebentar, aku janji tidak akan melakukan apa-apa."
Ivan mengeratkan pelukannya. Satu tangannya bergerak pelan menuju perut datar Namira. Ia usap perut itu dengan gerakan pelan naik turun.
Diperlakukan seperti itu perasaan Namira makin tidak karuan. Rasa jijik dan mual terus mendominasi. Hal itu refleks membuat Namira mendorong tubuh Ivan dengan dua tangannya.
"Sudah cukup, kau mau apa?" bentaknya kesal.
"A ... aku ...." Ivan tampak bungkam.
__ADS_1
Tatapan marah Namira berubah bingung saat menangkap sorot mata Ivan yang berkaca-kaca. Dia seperti orang terharu, dan hal itu sukses membuat Namira semakin merasa terancam. Keadaan berdua di dalam rumah seolah menjawab teriakan setan yang ada di dalamnya.
"Apa yang kau pikirkan. Kenapa kau menatapku seperti itu?" pekiknya tidak mau tahu.
"Namira ... Maafkan aku!" Ivan kembali memeluk Namira. Kini perempuan itu dipenuhi tanda tanya besar di kepalanya. Ia tak lelas melepas pelukan Iva.
"Sepertinya aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja. Ada darah dagingku diperutmu," ujar Ivan.
Kontan Namira mendorong tubuh Ivan. Kali ini ia lakukan dengan sekuat tenaga.
"Apa maksudmu Ivan? Apa kau gila? Anak ini adalah anakku!"
"Tapi di dalam sana ada darah dagingku! Alangkah baiknya jika kita berdua mengaku Namira. Kita bicarakan baik-baik masalah ini pada keluarga kita."
"Tidak, sampai kapan pun aku tidak sudi melakukan itu! Lebih baik aku mati daripada harus kembali padamu!" bentak Namira.
"Memangnya kenapa Namira, kau dulu juga sangat mencintaiku bukan?"
"Sekali tidak ya tidak! Sekarang aku sudah tidak mencintaimu. Satu-satunya orang yang akan kucintai hanyalah Mas Saga."
"Meski ada anakku di perutmu?"
"Meski anakmu, meski aku tidak bisa mendapatkan Saga, aku tetap akan terus mencintainya," tegas Namira lebih jelas.
Dia menatap Namira dengan wajah putus asa. Tak lama kemudian satu alisnya terangkat. Bibirnya yang tipis menyungging sedikit.
__ADS_1
"Oh aku tahu! Pasti karena kau sudah tahu kalau Kak Saga adalah ahli waris keluarga besar kami, itu sebabnya kau tidak mau denganku yang tidak punya apa-apa. Kau sungguh licik Namira. Kau perempuan matre!"
"Semua itu tidak ada hubungannya dengan uang," pekik Namira tidak terima.
Ivan terlihat kalap. Dia mendekat dengan pandangan yang semakin kosong.
"Kira-kira jika Kak Saga melihat kau dan aku teelanjang di rumah ini, apa dia masih mau bersamamu?"
Lelaki itu mendekat. Matanya bergerak liat menyusuri setiap inci tubuh Namira. Ivan terlihat seperti macan kelaparan yang siap menerkam Namira saat ini juga.
"I ... ivan, apa yang kau lakukan?"
Tubuh Namira makin terkunci di pojokan.
"Apa yang akan aku lakukan kita lihat saja nanti. Kau cukup diam dan nikmati sensasi ini ," balas Ivan yang masih setia menelusuri tubuh Namira dengan mata buasnya.
Jarak mereka kini semakin dekat. Namira bahkan dapat merasakan deru napas membara yang keluar dari mulut Ivan.
Tidak bisa! Aku harus segera mencari cara supaya Ivan tidak melakukan hal buruk pada ku, batin Namira. Otaknya mulai bergerak memikirkan solusi yang tak kunjung didapat.
Dua tangan Ivan sudah mencengkram tubug gemetar Namira. Perempuan itu menangis makin jadi. Tapi mulutnya terlalu bungkan untuk menjerit.
"Aku mohon, Ivan! Jangan lakukan ini padaku."
"Memangnya aku peduli? Mau aku menyayangimu sekalipun, kau tetap tidak akan berpihak padaku, bukan?"
__ADS_1
"Ivan, kumohon sadarlah!" pekik Namira.