BUKAN DARAH PERAWAN

BUKAN DARAH PERAWAN
Pura-Pura Pingsan


__ADS_3

Ivan semakin berani. Ia menyibak dress yang dipakai Namira lalu menyentuh bagian sensitif perempuan itu dengan gerakan kasar.


Sekeras mungkin Namira berusaha meronta. Ia dorong tubuh Ivan, tapi tenaga perempuan itu tak sebanding dengan nafsu Ivan yang sudah menggebu-gebu.


Entah setan apa yang merasuki, yang jelas saat ini Ivan sudah kehilangan akal sehat karena kegagalannya dalam mengancam Namira.


Brugh!


Namira menjatuhkan tubuhnya tepat saat Ivan hendak bergerak lebih.


Semoga ini bisa membantu, batin Namira. Tak ada cara lain yang bisa Namira lakukan selain pura-pura pingsan. Semoga saja Ivan menghentikan aksinya setelah ini.


"Namira?"


Tak berselang dari itu Ivan mulai merasakan tubuh Namira yang agak berat. Ia pun segera melepas pelukan. Bersamaan dengan itu tubuh Namira merosot ke bawah.


"Miraaaa," pekik Ivan.


Dia langsung menggotong tubuh Namira . Ia baringkan badan mungil itu di sebuah sofa panjang.


"Ah, sial! Kenapa aku jadi hilang kendali begini?" Ivan menggeram. Ia tak habis pikir kenapa dirinya tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Bodoh kau Ivan, apa kau lupa kalau Namira sedang hamil?" Ivan bergumam sambil berjalan ke arah dapur. Ia membuat teh hangat untuk diberikan kepada Namira.


Sepertinya sandiwara ini berhasil, batin Namira. Namun ia paham masalah tak akan usai hanya dengan cara pingsan saja. Selagi pura-puranya belum diketahui ia harus segera mencari cara untuk lepas dari belenggu Ivan.


Tapi cara apa yang harus Namira gunakan? Ingin rasanya Namira teriak karena pikirannnya saat ini benar-benar buntu.


Ivan kembali dengan segelas teh hangat. Dia juga membawa minyak kayu putih entah diambil dari mana.


Dengan telaten Ivan mengoleskan minyak kayu putih itu ke bawah hidung. Dia terus menggoyang-goyangkan Namira dengan gerakan pelan.

__ADS_1


Tak mau Ivan curiga lebih dalam, Namira pun perlahan membuka matanya. Dia pura-pura mengerang sambil memegangi bagian kepalanya.


"Eugh, sakit," lirih Namira. Ivan yang sedang mengoles kaki Namira dengan minyak di tangannya seketika menoleh. "Syukurlah kau sudah bangun."


Buru-buru Ivan mendudukkan Namira. Tak lupa ia memberikan segelas teh hangat yang ia buat tadi.


"Maafkan aku Namira. Tadi aku terlalu emosi makannya aku tidak sadar berbuat seperti itu."


"Kau menakutiku," jawab Namira lirih. Ia sandarkan tubuh lemas itu ke belakang.


"Sejak hamil fisikku lemah Ivan. Aku mudah stress, dan jika sudah tidak kuat aku bisa pingsan," ujar Namira.


"Maafkan aku Namira. Yang aku inginkan sekarang adalah bersamamu. Dan karena aku tidak bisa, aku jadi berbuat nekat seperti tadi."


"Kenapa sekarang kau berubah haluan? Lalu bagaimana dengan janjimu waktu itu?"


"Keadaan sekarang tidak sama dengan waktu itu Namira. Kehadiran bayi itulah yang membuat aku ingin bersamamu. Memangnya kau tidak ingin bayi itu bersama ayah kandungnya?"


Ivan memegang dua tangan Namira. Ia terus berusaha merayu dengan bahasa lemah lembut.


"Lalu bagaimana dengan Saga? Dia pasti sangat kecewa kalau pada akhirnya aku bersamamu?" tanya Namira.


Dia berusaha bicara hati ke hati supaya Ivan tidak melakukan hal berbahaya lagi padanya.


"Bukankah sejak awal Kak Saga sudah kecewa? Aku yakin dia sudah tahu kalau bayi itu bukan anaknya, 'kan?"


Namira tak menjawab omongan Ivan. Dia termenung sejenak sambil berpikir langkah apa yang akan ia ambil.


"Apa maumu?" ucap Namira pada akhirnya.


Karena merasa terancam, Namira berusaha mengatur siasat dengan cara mengikuti mau Ivan.

__ADS_1


"Aku mau kau ceraikan Saga dan menikah denganku. Demi bayi kita?"


Benarkah demi bayi kita?


Rasanya Namira tak bisa percaya begitu saja.


"Aku tahu aku tidak bisa menjadi sehebat Kak Saga. Tapi jika kita menikah dan segera punya anak, kita bisa mendapatkan hak waris melalui anak itu," ujar Ivan


Sontak Namira membulatkan matanya tak mengerti. "Maksudnya apa?" tanya perempuan itu.


Jakun Ivan terlihat naik turun. Ia tatap wajah Namira dengan begitu lekat.


"Jadi begini Namira, di keluargaku ada satu aturan. Di mana anak pertama harus menikah terlebih dahulu, baru anak berikutnya menyusul. Anak pertama yang punya anak akan menjadi ahli waris, tapi jika anak pertama belum dikaruniai anak, atau anak kedua bisa punya anak terlebih dahulu, maka akhli waris itu akan turun kepada anak kedua yang terlebih dahulu memberikan garis keturunan. Intinya cucu pertama yang lahir akan mendapat ahli waris sepenuhnya," terang Ivan.


"Jadi kau menikah denganku agar mendapatkan akhli waris?"


"Bukan begitu Namira! Aku memberi tahu kau soal itu supaya kau tidak khawatir dengan masa depanmu. Jika kita menikah dan mengatakan kalau itu adalah anakku, maka otomatis aku akan diangkat sebagai direktur. Itu artinya hidupmu tak kalah aman dengan yang sekarang."


Kejam!


Itulah satu kata yang Namira pikirkan saat mendengar penjelasan Ivan. Untungnya Namira pura-pura mengikuti kemauan Ivan. Jadi ia bisa tahu semua yang Ivan pikirkan.


"Aku harap kau mau mempertimbangkan semua itu Namira. Jika kita menikah, sudah pasti keluarga kita akan menjadi pewaris utama," rayu Ivan lagi.


Sayangnya Namira bukan perempuan matre seperti apa yang ada di bayangan Ivan. Sekarang Namira malah makin bersemangat untuk kabur meninggalkan kehidupan Saga dan keluarganya.


Dia jelas tidak rela jika Mas Saga, orang yang sangat ia cintai sampai menderita karena turun jabatan.


Kau benar-benar pria yang sangat berambisi, Van! Sayangnya sampai mati pun aku tidak akan membiarkan kau merebut hak Mas Saga. Orang jahat sepertimu tidak pantas mendapatkan apa-apa," batin Namira.


"Aku harap kau mempertimbangkan tawaran ini Namira. Ini benar-benar menguntungkan untuk kita berdua."

__ADS_1


Cih! Dasar bedebah! Menguntukkan untuk kita apa untukmu seorang?


Tentunya semua kalimat umpatan itu hanya tertahan di pikiran Namira.


__ADS_2