
Bis yang ditumpangi Namira sudah ada di atas kapal. Sebentar lagi kapal itu akan berlabu, Namira sudah siap meninggalkan semua kenangan yang ada di kota ini. Matanya perlahan terpejam.
Tiba-tiba dia sudah pindah alam. Namira berada si sebuah persimpangan jalan di mana sebelah kiri ada Ivan, dan di sebelah kanan ada Saga.
Keduanya terus memanggil-manggil nama Namira. Perempuan itu bingung harus melangkah kemana.
"Namira, ayo sini! Maafkan aku Namira. Kau harus ke sini. Aku janji kita akan bahagia setelah ini," teriak Saga. Namira kemudian menoleh pada Ivan. Ia juga mengepakkan tangan sambil terus melempar bujuk rayu pada perempuan itu.
"Jangan mau Namira. Saga tidak benar-benar mengatakannya. Dia hanya membohongimu. Lebih baik kau ke sini saja. Dia adalah anakku, aku pasti akan mencintai kalian berdua lebih dari apa pun."
Diperlakukan seperti membuat Namira jadi bingung harus pilih yang mana. Mereka berdua sama-sama menginginkan Namira.
Perempuan itu pun coba melangkah ke arah Ivan. Tapi Saga tiba-tiba menjerit sambil mengatakan jangan.
Akhirnya Namira berjalan ke arah Saga.
"Namira, Namira, Namira bangun!"
Kelopak mata perempuan itu mengerjap pelan saat menyadari ada seseorang yang menepun pipinya. Orang itu langsung membuka masker, dan Namira langsung membulatkan mata begitu tahu orang itu adalah Ivan.
__ADS_1
"Ivan, bagaimana bisa kamu ada di sini?"
"Sttt ... Tenanglah, sekarang kamu harus ikut aku sebelum orang-orang Kak Saga kesini."
"Tapi Ivan." Pandangan Namira dipenuhi rasa penolakan.
"Ayolah Namira ... Aku susah payah untuk bisa menemukanmu."
"Tidak mau! Aku tidak mau ikut kamu atau pun Mas Saga," tegasnya.
Mendengar itu Ivan sangat kesal. Ia,seret paksa perempuan itu untuk keluar. Beberapa penumpang yang lain hanya diam memperhatikan, tapi tidak berani melakukan apa-apa karena Namira tidak begitu memberontak.
Mereka pikir itu adalah pertikaian rumah tangga biasa pada umumnya.
Tanpa memedulikan ocehan Namira, Ivan terus menuntun Namira menuju ke mobilnya. Untung saja orang-orang Saga tidak melihat kejadian itu.
Namira di dorong paksa ke mobil belakang. "Teriaklah jika kamu ingin ditangkap oleh orang-orang Kak Saga," ancam Ivan. Sekujur tubuh Namira merinding akan hal itu.
"Mau kamu bawa kemana diriku, Ivan!"
__ADS_1
"Ke tempat yang bagus. Yang jelas cuma ada kita berdua," ujarnya dengan seringai jahat.
Namira menggeleng samar. Dia jelas menolak meski dirinya sedang menjadi buronan Saga.
"Aku tidak mau Ivan. Pokoknya kamu harus turunin aku sekarang juga. Aku tidak mau!"
"Cih, kamu pikir aku senurut itu? Memangnya kamu siapa bisa memperintahku sembarangan?
*
*
*
Sementara itu, Saga baru saja tiba di pelabuhan. Dia dibuat marah oleh orang-orangnya saat mereka berkata kehilangan jejak Namira.
"Tadi kita sudah nyaris menemukan Nona Namira. Tapi seseorang tidak dikenal tiba-tiba membawa dia kabur," ujar si orang suruhan Saga itu.
"Bodoh! Apa yang becus kalian lakukan kalau mengurus yang begini saja kalian tidak bisa?" Saga berseru garang. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Segera temukan Namira malam ini juga," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan."
Saga kemudian masuk ke mobilnya lagi. Ia yakin Namira sudah dijemput oleh Ivan. Itu sebabnya Namira tiba-tiba menghilang tanpa kepastian.