
"Kuberi waktu 1 kali 24 jam. Kau harus segera memberikan jawaban karena aku tidak suka menunggu." Suara ancaman itu keluar dari mulut Ivan. Namira yang sejak tadi mencicit berusaha mendongak sedikit.
"Tapi?"
Ivan tiba-tiba mengangkat sebelah tangan. Menunjukkan bahwa ia tidak butuh bantahan apa pun.
"Besok aku akan ke sini lagi untuk mendengarkan jawabanmu. Sebaiknya kau putuskan dengan penuh pertimbangan." Lelaki itu tersenyum seraya mengangkat dagu Namira.
"Bersamaku, atau hancur selama-lamanya," bisik Ivan licik.
Mendengar itu, Namira menelan ludahnya yang terasa kelat. Dia tidak yakin dengan keputusannya, tapi dia tidak punya pilihan lain.
Ivan pergi meninggalkan Namira begitu saja setelah mengatakan kalimat ancaman itu. Tubuh Namira terhoyong ke dinding tembok bersamaan dengan pintu yang baru saja ia ditutup.
"Ya Tuhan! Sampai kapan karma ini berhenti." Namira terisak dengan jerit tertahan. Rasanya ia sudah benar-benar tidak sanggup dengan hidupnya.
Masalah demi masalah terus saja berdatangan tanpa perhentian, dan, apalagi ini?
Menikah dengan Ivan?
Lebih baik ia mati bersama bayinya dari pada harus melakukan hal gila itu, pikir Namira. Baginya menikah dengan Ivan sama saja dengan bunuh diri.
*
*
Pagi hari kembali menyapa. Sampai detik ini Namira belum bisa memutuskan tawaran Ivan. Ia bisa saja bersandiwara dan pura-pura mau menikah. Tapi, apakah kali ini keputusannya benar? Sedangkan semua jalan yang Namira ambil selalu saja membuatnya terperosok ke jurang.
Buntu!
Mungkin inilah isi pikiran Namira sekarang.
"Sepertinya tidak masalah jika aku pura-pura menerima tawaran itu. Apa salahnya mencoba," gumam Namira seraya membalik badan.
__ADS_1
"Apa kau bilang?"
Suara dingin Saga menyadarkan Namira dari lamunan.
Perempuan itu sangat terkejut melihat Saga sudah berdiri di belakangnya. Mangkuk sup yang ada di tangan hampir saja meleset andai Namira tidak mencengkeramnya kuat-kuat.
"Mas, kau sudah bangun?" tanya Namira sedikit berbasa-basi. Dia lalu membawa mangkuk besar di tangannya itu ke meja makan.
Ekor mata Saga terus memperhatikan gelagat aneh Namira. Wajah perempuan terlihat pucat seperti orang tidak tidur semalaman. Dan sikapnya juga sangat gelisah tidak seperti biasanya.
"Ngomong-ngomong kau tadi bicara apa? Tawaran apa yang kau maksud, dan dari siapa?" cecar lelaki itu.
Kontan Namira menoleh ke belakang. Beruntung Saga tak begitu jelas mendengar gumaman itu.
"Em, anu, Mas. Itu hanya tawaran untuk ajakan senam hamil ibu-ibu di kompleks ini. Tapi aku agak ragu menerimanya," kilah Namira.
Dua alis Saga mengernyit. "Benarkah itu?"
"Iya, Mas. Apa kau mengizinkan?"
Kebetulan juga Namira memang mendapatkan tawaran itu. Jadi apa yang menjadi alasan Namira tak sepenuhnya bohong.
"Jika diperlukan ya silakan saja. Tapi jika kau sampai kelelahan dan masuk rumah sakit lagi karena kegiatan itu aku tak akan mengizinkan!"
Saga ikut duduk di meja makan. Namira sedikit terpaku karena pagi ini Saga tidak bersikap gengsi seperti kemarin. Dia bahkan sudah membalik piring dan mengambil satu centong nasi. Dalam diam Namira tersenyum melihat sikap dingin Saga yang entah kenapa terasa hangat pagi ini.
"Kenapa senyum-senyum? Dengar ya, aku bicara seperti ini karena tidak mau direpotkan olehmu dan bayi itu lagi! Tidak usah ke-GR-an," pungkas Saga.
"Iya, Mas. Aku paham." Namun wajah Namira masih dipenuhi senyuman. Hal itu membuat Saga gondok dan merasa salah tingkah.
"Terserah kau saja mau berpikir bagaimana, Namira. Yang jelas aku tidak peduli dengan isi pikiranmu," ketus Saga lagi.
"Iya, Mas ... Iya ...," jawab Namira halus.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanannya, Saga gagas pergi ke kantor. Suasana rumah mendadak sepi sepeninggalan Saga pergi.
Namira mematung di depan pintu sambil memperhatikan sisa bayangan mobil Saga yang baru saja menghilang dari pandangan.
"Melihatmu berangkat kerja dan pulang setiap hari, suatu saat pasti aku akan merindukan suasana seperti ini, Mas."
Namira pun menutup pintu. Namun belum sampai pintu itu berbunyi klik, tiba-tiba sebuah dorongan kuat membuat Namira terhempas ke belakang.
"Ivan?"
Namira melotot garang saat kepala Ivan muncul dari balik pintu. Saga baru saja berangkat, bisa-bisanya Ivan datang ke rumah dengan begitu cepat, pikir Namira.
"Mau apa kau datang sepagi ini? Apa kau ingin membuat aku dan bayimu mati karena serangan jantung?" kesal Namira merasa terancam.
Bukannya bersalah Ivan malah tersenyum. Dia menutup pintu lalu menarik dua tangan Namira.
"Aku ke sini ingin mendengar jawabanmu, Sayang. Aku harap apa yang aku dengar dari mulutmu tidak mengecewakan."
"Cih!" Namira mengempaskan tangan Ivan begitu saja.
"Tapi tidak sepagi ini. Bagimana kalau Mas Saga sampai tahu kau datang sepagi ini?"
"Itu tidak mungkin. Karena aku ke sini setelah memastikan Kak Saga berangkat," ujar Ivan.
"Tapi kita tidak pernah tahu, bagaimana kalau ada barangnya yang ketinggalan dan Mas Saga pulang lagi. Kau menyebalkan Ivan ... Kau menyebalkan," pekik Namira benar-benar kesal.
"Kalau aku menyebalkan cepat beri aku jawaban itu. Atau jangan-jangan kau mau aku menemuimu setiap hari? Itu sebabnya kau tidak segera memberiku jawaban."
"Dasar manusia kepedean," maki Namira. Andai membunuh tidak berdosa, rasanya ia ingin mencekik Ivan sampai mati.
"Sudahlah tidak usah banyak omong kosong. Aku mau jawaban itu sekarang juga atau aku akan kalap dan melakukan hal yang berbahaya lagi seperti kemarin!" ancam pria itu.
***
__ADS_1