BUKAN DARAH PERAWAN

BUKAN DARAH PERAWAN
Terenyuh


__ADS_3

Saga tersentuh melihat semua makanan enak ada itu di meja. Dia mengeluarkan kotak itu satu persatu, lalu membuka semua penutupnya untuk melihat seperti apa isinya.


Sempurna! Namira benar-benar tahu bagaimana caranya memanjakan lidah suami.


Tanpa basa-basi Saga langsung meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai begitu saja. Dia tak bisa fokus melihat makanan buatan Namira yang sangat menggoda mata dan perut.


"Permisi, Tuan, sebentar lagi rapat akan dimul--eh?"


Damar yang baru saja membuka pintu langsung menghentikan bicaranya. Dia menatap Saga yang sedang lahap menyantap makanannya di depan meja.


"Wah, banyak sekali makanannya. Apa hari ini Anda mau mengajak saya berpesta," goda Damar.


"Duduklah. Jelaskan semua konsep rapat sebelum kau presentasikan nanti."


"Lalu makanannya?"


"Aku tidak berniat membagimu. Kau beli saja di luar," ucap Saga tak peduli.


Mendengar itu Damar menelan ludah. Makan itu terlalu menusuk mata. Ia bahkan kesulitan jika harus menjelaskan presentasinya sambil melihat Saga yang tampak makan dengan lahapnya.


"Sudah jelaskan, tunggu apa lagi?" ketus Saga.


"I ... Iya, Tuan."


Damar langsung membaca konsep presentasi yang akan dia bawa. Sementara Saga asik mengunyah sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


"Lumayan bagus konsepnya. Pastikan kau menjelaskan pada klien kita dengan sebaik mungkin. Ini untukmu." Dia menyodorkan sekotak salad buah untuk Damar.


"Cuma ini, Tuan?" Sebelah Alis Damar meninggi. Padahal di situ masih banyak sekali makanan enak.


"Jangan menawar. Meskipun hanya salad buah, kalau yang buat Namira rasanya beda. Kalau kau tidak mau aku ambil lagi," ketus Saga.


"Cieeee yang lagi kasmaran," goda Damar. Saga melotot marah. Hal itu membuat Damar terdiam sambil menarik kotak salad di depannya.


"Saya makan di meja kerja saya saja, Tuan. Terima kasih," ucap Damar.


Sepeninggalannya Damar, Saga terdiam menatapi aneka makanan itu. Andai ada Namira dia pasti tidak bisa menghabiskan makanan enak-enak ini. Dia akan canggung, lalu pura-pura tidak sudi memakan semua makanan itu.


Sampai kapan kira-kira dia akan hidup seperti ini?


"Kenapa sekarang semuanya jadi berubah? Padahal dulu aku paling suka makan ditemani oleh dia," gumam Saga. Ia meletakkan garpu di tangannya begitu saja. Tiba-tiba selera makannya hilang.


*


*


*


Hari sudah sore.


Namira sedang leha-leha di ruang tamu saat pintu bell tiba-tiba berbunyi. Dia tersenyum. Matanya memandang jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.

__ADS_1


"Akhirnya Mas Saga pulang juga. Aku tidak sabar ingin menggodanya. Kira-kira tadi dia makan makananku tidak ya?"


Kaki perempuan itu melangkah riang. Namun, saat pintu baru saja terbuka sedikit, Namira langsung memundurkan langkahnya begitu saja.


"Ivan, ngapain kamu ke sini?"


Lelaki itu nyelonong masuk begitu saja. Lalu dia menutup pintunya rapat-rapat.


"Ivan, kamu lancang! Bukankah aku sudah bilang jangan pernah datang ke sini lagi sampai aku berhasil menceraikan Saga! Kau melanggar janjimu. Sekarang bagaimana aku bisa percaya padamu lagi?" pekik Namira.


Dua tangan gadis itu mengepal kuat. Matanya yang cantik memerah dan tampak berapi-api sekali.


"Sttt ... tenanglah!" Ivan mendekat perlahan hingga tubuh Namira menempel lekat pada tembok.


"Kedatanganku ke sini hanya ingin mengingatkan rencana pernikahan kita Namira. Kau jangan lupa akan janjimu."


"Aku pasti tepati. Tapi kalau kamu ke sini lagi dan lagi aku bisa mati kehabisan napas. Kau selalu membuatku dalam keadaan terancam," pungkas Namira.


"Huh, padahal aku hanya merindukanmu saja. Memangnya aku salah?"


"Salah, karena sebelumnya kau sudah berjanji untuk tidak kemari sampai waktu yang ditentukan."


Mendengar itu Ivan sedikit bergidik kesal. Namira ini terkesan mengulur waktu dan tidak berniat menceraikan Saga sama sekali. Namun meskipun begitu Ivan berusaha sabar mengingat waktu yang diberikan ada 3 bulan.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi. Jangan lupakan janjimu atau aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia."

__ADS_1


Namira diam, dia tak menjawab sepatah kata pun.


Setelah mengatakan itu Ivan pergi meninggalkan Namira. Dia tidak tahu bahwa kedatangannya sudah menjadi bahan intaian sedari tadi. Seseorang mungkin sudah merekam gerak geriknya.


__ADS_2