BUKAN DARAH PERAWAN

BUKAN DARAH PERAWAN
Syarat


__ADS_3

Namira menarik napas panjang sebelum memberi jawaban. Dua tangannya di bawah sana sibuk memilin rok abu-abu yang ia kenakan.


"Bagaimana Namira, apa jawabanmu?" ucap Ivan mengulang sekali lagi.


Ia menatap jakun mungil Namira yang tampak naik turun. Mengambarkan perempuan itu sedang berusaha mengatur napasnya sebaik mungkin sebelum memberi jawaban.


"Aku terima, tapi dengan satu syarat," ucap Namira. Mendengar itu Ivan tersenyum. Dia mendekat lalu berbisik pelan di telinga Namira.


"Katakanlah, selama syarat yang inginkan masuk akal akan kupenuhi."


Lagi-lagi Namira hanya mampu menarik napas panjang tanpa berani protes akan tingkah Ivan yang sembrono.


"Aku mau menikah denganmu, asalkan kau memberi aku waktu beberapa bulan untuk membicarakan hal ini dengan Mas Saga."


"Satu bulan?" ucap Ivan.


Namira menggeleng. "Tiga bulan! Aku mau menikah denganmu asal kau memberiku waktu tiga bulan," ujar Namira.


"Tiga bulan itu terlalu lama Namira. Kau pikir aku pria sabaran yang punya banyak waktu untuk menunggu?"


"Bukan begitu, Van. Tapi aku butuh melakukan sesuatu untuk membuat Mas Saga berpaling dariku. Jadi saat aku cerai nanti, Mas Saga tidak merasa berat," ucap Namira.

__ADS_1


"Bagaimana, jika kau setuju aku mau menikah denganmu."


Pelan, Ivan mengangguk tanda menyanggupi keinginan Namira.


"Baiklah, aku beri kau wakti tiga bulan. Lebih dari itu aku akan bertindak sendiri. Apa masih ada syarat lain?" tanya Ivan lagi.


"Ada," ucap Namira lantang. "Aku mau selama tiga bulan ke depan kamu jangan sampai membongkar aibku pada Mas Saga! Atau ...." Namira tiba-tiba menghentikN bicaranya. Tapi Ivan bersikap hikmat dan menunggu penjelasan dengan tenang.


"Atau kau akan kehilangan aku dan bayimu untuk selamanya," tukas Namira penuh ancaman. Setidaknya hal itu bisa ia pakai untuk mengambil keuntungan dari Ivan selama belum ada kesempatan untuk kabur.


"Baiklah, kalau itu maumu aku akan sanggupi. Masih ada lagi?" tanya Ivan merasa belum deal.


"Aku mau kau menjaga jarak dariku sebelum aku selesai dengan misiku. Termasuk jangan pernah datang ke rumah ini lagi."


Itu hanya akal-akalan Namira supaya ia dan bahyinya bisa aman sebelum kabur.


Syukurlah, setidaknya untuk beberapa hari ke depan aku aman, batin Namira.


"Semua syarat dan keinginanmu sudah aku terima. Dan aku juga mau kau menuruti kemauanku," kata Ivan. Namira yang sedang menunduk langsung mendongak.


"Kau mau apa?" ujarnya.

__ADS_1


"Aku mau kau belajar mencintaiku dari sekarang. Jika kau tidak rela melakukannya untuk diri sendiri, maka lakukanlah demi bayi itu."


"Baiklah, aku akan berusaha mencintaimu lagi. Apa masih ada hal lain?"


Ivan menggeleng samar. "Tidak ada, tapi aku mengingkan ini. Apakah belajar mencintaiku bisa kau mulai sekarang?"


Lelaki itu menyentuh dagu Namira lalu menariknya secara perlahan.


Perempuan itu hanya mampu menelan ludahnya pasrah saat bibir Ivan mendekat ke arahnya. Lelaki itu bahkan tak segan melakukan penyatuan bibir.


"Aku jijik, aku jijik kepadamu Ivan!"


Tentunya kalimat itu hanya mampu tertahan di hati. Nyatanya Namira masih membiarkan Ivan memagutnya dengan segerakan lembut.


Ivan kemudian melepaskan pagutan sepihak itu. Dia tersenyum bahagia melihat Namira tidak melakukan perlawanan apa-apa.


"Aku pergi dulu. Tolong jaga bayi kita dengan baik."


Ivan meninggalkan tempat itu setelah mengusap perut Namira.


Setelah kepergian Ivan, perempuan itu terduduk lemas di lantai. Dadanya begitu lelah seolah baru saja melakukan senam jantung.

__ADS_1


***


__ADS_2