
Sementara di sisi lain, Ivan merasakan firasat yang buruk juga. Entah kenapa ia ingin sekali melihat wajah Namira sekarang juga. Mungkin karena ada ikatan antara dia dan bayinya, jadi Ivan seolah bisa merasakan jika ada sesuatu yang terjadi pada perempuan itu ataupun bayinya.
"Kira-kira Namira sedang apa, ya?" Ivan segera menghubungi ponsel Namira. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, dan biasanya jam segini dia bisa menghubungi Namira karena perempuan itu sudah masuk ke kamar.
"Kok tidak aktif?" Rasanya Ivan benar-benar kesal. Ia menghubungi lagi dan lagi tapi nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Tak membutuhkan waktu lama untuk berpikir, Ivan langsung pergi ke luar menuju area parkir. Dia melajukan mobilnya ke kediaman Saga dan Namira tanpa peduli bahwa mereka mungkin sudah tidur.
Entah kenapa firasat Ivan begitu kuat kalau Namira sedang tidak baik-baik saja.
Sesampainya di pendopo jalan menuju rumah itu, Ivan menepikan mobilnya. Di depan ada satpam yang mengamati, tapi dia belum bergerak menuju mobil Ivan. Hanya mengamati dengan perasaan curiga dan rasa penasaran tinggi.
"Aku harus pake alasan apa kalau masuk ke rumah Kak Saga malam-malam begini?" gumam Ivan kesal. Ia memukul setir kemudi saking kesalanya.
"Apa?"
__ADS_1
"Apa?"
"Ayo cepat berpikirlah, Ivan!"
Lelaki itu mendengkus kesal. Namun tak lama kemudian ia teringat kalau hari ini mamanya sedang kurang enak badan. Ivan pun berniat menggunakan alasan itu untuk mengdatangi Saga. Dia akan mengabari Saga dengan alasan itu.
Cara kepepet itu benar-benar terpaksa Ivan lakukan supaya bisa tahu kabar Namira sekarang.
Ivan pun turun dari mobilnya karena mobil tamu dilarang masuk jika sudah jam 10 malam. Ia memutuskan untuk jalan kaki supaya tidak perlu menyogok satpam untuk masuk ke dalam. Sebenarnya bukan karena masalah uang, tapi ia malas berdebat saja.
Saat jalan kaki Ivan juga dihentikan secara paksa. Beruntung lelaki itu bisa menyebutkan dengan jelas detail alamat Saga dan nama lengkap pria itu. Jadi Ivan dipersilakan masuk ke dalam.
Mobil Saga masih menyala, yang artinya lelaki itu baru saja pulang. Diam-diam Ivan berjalan dengan cara mengendap-endap untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah itu.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kumpulkan orang sebanyak mungkin untuk menemukan Namira. Periksa bandara, stasiun ksreta, terminal bu, bila perlu ke pelabuhan juga. Jangan sampai Naki kabur terlalu jauh."
__ADS_1
"Apa, Namira kabur?" Ivan menganga tidak percaya. Tapi suara Saga yang panik sambil marah-marah membuat Ivan percaya kalau Namira memang benar-benar kabur.
"Sialan, berani sekali kau merencanakan semua ini di belakangku. Apa dipikir kau bisa lolos dariku setelah kabur, Namira?" gumam Ivan. Dia terus menguping untuk mendapatkan informasih lebih.
"Apa? Menuju pelabuhan? Kalau begitu aku akan segera ke sana. Jangan sampai di lolos," teriak Saga lagi. Ivan jelas mendengar semua teriakan itu.
"Sepertinya keberadaan Namira sudah berhasil dilacak. Aku harus segera ke pelabuhan duluan sebelum Kak Saga pergi."
Ivan langsung pergi meninggalkan rumah Saga. Dia juga harus mulai melakukan pencarian supaya berhasil menemukan Namira terlebih dahulu.
*
*
*
__ADS_1
Sementara itu, Bis yang membawa Namira pergi sudah hampir mencapai pelabuhan. Sebentar lagi Namira akan pergi meninggalkan kota yang penuh kenangan itu, lalu tinggal di desa hanya berdua saja dengan sang anak.
Membayangkan semua itu ada perasaan sedih dan senang yang dicampur secara bersamaan.