
Namira menyadari kalau dirinya sedang diikuti oleh seseorang. Sejak naik taksi ia terus memperhatikan sebuah mobil yang bergerak mengikuti taksinya dengan gerakan perlahan.
"Duh, bagaimana ini?" gumam Namira yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Duh, bagaimana ini? Bisa-bisa rencana kaburnya hari ini gagal total jika Saga sampai mengetahuinya. Yang ada Namira malah akan jadi bahan pertanyaan kenapa nekad melakukan itu.
Sesampainya di rumah ayahnya, Namira pun segera masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk Namira juga sempat memperhatikan bahwa mobil itu berhenti tepat di dekat rumahnya.
Namira makin yakin bahwa ia sedang diikuti oleh mobil itu.
"Ada apa, Namira? Kenapa kau tampak panik sekali?"
Sang Ayah merasa cemas begitu melihat wajah Namira yang sangat pucat ketika tiba. Dia menangku sisi wajah Namira dengan dua tangan.
"Di depan ada mata-mata Mas Saga, Yah. Bagaimana ini? Sepertinya Mas Saga memang sudah curiga padaku sejak awal, jadi dia menyuruh orang membuntutiku ke manapun aku pergi," ucap Namira.
Perempuan itu mengelap dahinya yang dipenuhi keringat. Sebisa mungkin Ayah berusaha memasang sikap tenang supaya anaknya tidak sempit dalam berpikir.
"Kamu tenang dulu Namira. Kau lupa kalau rumah ini punya dua pintu. Kau masih bisa kabur lewat jalan belakang. Dia pasti tidak akan tahu kalau kau lewat gang sempit itu," ujar sang Ayah.
"Iya, Yah. Aku hampir lupa soal itu," ujar Namira. Dia gegas pergi ke dapur untuk mengambil air dingin. Sang Ayah juga ikut ke dapur menyusul sang anak.
"Makan dulu. Setelah ini baru siap-siap."
__ADS_1
Ia tatap sang putri dengan wajah sendu. Ya Tuhan! Anak sebaik itu, kenapa bisa mendapat cobaan seberat ini? Rasanya Ayah sungguh tidak tega melihat nasib putrinya nanti akan berjuang seorang diri tanpa didampingi suami. Tetapi bertahan di sisi suaminya juga bukan sesuatu yang patut dipertahankan kalau begini keadaannya.
"Ayah mau tanya sekali lagi padamu, Namira. Apa benar kau sudah siap meninggalkan Saga untuk selamanya? Kau siap membesarkan bayi itu sendiri," ujar sang Ayah.
"Tidak ada cara lain lagi, Yah. Aku sangat siap. Semua ini demi kebaikan bersama. Apa pun yang akan terjadi nanti dengan nama baikku, yang jelas aku tidak ingin Ivan menggunakan anak ini untuk merebut kekuasaan Saga. Aku tidak mau melihat Mas Saga menderita," ujar Namira.
Sang Ayah berusaha memaklumi putrinya. Dia usap air mata yang membasahi pipi Namira.
*
*
*
"Hallo, Tuan! Saya masih di lokasi yang sama. Saya masih menunggu nona Namira keluar, tapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda dia keluar," ujar si mata-mata.
"Terus awasi saja. Jika sampai jam delapan malam dia belum keluar segera laporkan padaku," ucap Saga. Dia pun segera melanjutkan kembali pekerjaannya.
Tanpa berpikir aneh-aneh, Saga terus saja bekerja sampai tidak terasa hari sudah malam. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Tak lama kemudian suara panggilan dari orang suruhannya berdering kembali.
"Ada apa?" tegur Saga.
Lelaki itu sedikit mendengkus karena merasa terganggu oleh panggilan tersebut.
__ADS_1
"Anu, Tuan. Nona masih belum keluar. Apakah dia ada menghubungi Anda?" tanya si mata-mata itu dari ujung sana.
Mendengar itu Saga agak panik. Dia langsung menghubungi nomor Namira, tetapi ponselnya mendadak tidak aktif.
Saga semakin kalap di buatnya.
"Sialan!" maki Saga. Sebenarnya dia masih bisa berpikir jernih kalau Namira tidak keluar karena ingin menginap di rumag ayahnya, tapi sejauh ini pikirannya lebih suka menjurus pada hal-hal negatif.
"Tuan, Anda mendapat kiriman surat!"
Bertepatan dengan itu Damar masuk ke dalam. Wajahnya tampak pucat dan sedikit berkeringat.
"Surat dari siapa?" Sebelah alis Saga mengernyit. Kepalanya semakin berdenyut ngilu.
"Di sini tertulis nama Nona Namira, Tuan. Terus ada keteran selama tinggal suamiku."
"Apa kau bilang?"
Udara di sekeliling Saga serasa menghilang seketika. Napasnya mulai tercekat. Dia bahkan baru hendak menghubungi orang suruhannya, malahan sudah mendapat kejutan kecil dari Namira.
Apa maksud dari semua ini, Namira?
***
__ADS_1