
Ivan terus melajukan mobilnya secara membabi buta. Namira mulai ketakutan, beberapa kali dia terlihat meronta sambil berteriak-teriak minta dibebaskan. Namira makin ketakutan.
"Ivan, kau mau bawa aku ke mana?" teriak Namira makin kepanikan karena laju mobil Ivan terkesan tidak terkendali.
"Pokoknya kau santai saja, aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah di mana hanya ada kita berdua saja," ujar Ivan.
"Tidak mau! Tolong ... tolong...."
Tak mau hal itu menjadi perhatian orang-orang, Ivan terpaksa mengentikan mobilnya sejenak. Ia mengambil tali lalu mengikat tangan Namira ke belakang. Ivan juga menyumpal mulut Namira supaya dia tidak bisa berteriak untuk minta tolong.
"Emmm ... Emmm ... Emmm."
Suara perempuan itu teredam. Cairan bening meleleh perlahan membasahi pipinya.
Sementara di sisi lain, orang-orang Saga bergerak cepat memeriksa berbagai CCTV yang ada di sekitar pelabuhan.
Ternyata sekitar 15 menit lalu Ivan terlihat menyeret Namira dari sebuah bis lantas membawanya pergi ke arah selatan. Orang-orang Saga langsung bergerak cepat menyusul mobil yang dikendarai Ivan.
"Ternyata yang membawa Namira adalah Tuan Muda Ivan. Benar dugaan Anda, Tuan." Damar berkata setelah mematikan panggilan dari salah satu orangnya.
__ADS_1
Di kursi mobil belakang Saga terlihat menggeram. Jadi benarkah Ivan orangnya?
Dia adalah Ayah dari bayi Namira?
Rasanya Saga masih belum bisa percaya. Sebisa mungkin Saga berpikir positif selama ia sendiri belum mendengar langsung dari mulut Namira atau pun Ivan.
"Terus suruh orang kita kejar mobil mereka. Pastikan Namira juga baik-baik saja," ujar Saga. Damar pun mengangguk. Mobilnya sekarang juga berbalik ke arah selatan untuk menyusul mobil Ivan.
Setelah menyusuri jalan. Trabas sana trabas sini, akhirnya orang-orang Saga berhasil mengepung mobil Ivan dari berbagai sudut.
"Sial, aku ketahuan!"
Tanpa basa-basi Saga langsung keluar. Aura emosi tergambar jelas di wajahnya saat ia mengetuk kaca mobil Ivan dengan tergesa-gesa.
"Ivan, keluar kau! Buka pintu mobilnya!" Saga berteriak murka. Dia membeliak tak percaya saat mendapati Namira terikat dengan mulutnya yang sisumpal.
"Emm ... Emm ... Emm!"
Dia meronta. Saga pun langsung membuka ikatan tali dan benda yang menyumpal mulut Namira.
__ADS_1
Sesegera mungkin Saga mengamankan Namira ke mobilnya.
"Kamu tidak apa? Apa yang dilakukan Ivan padamu?" sergah lelaki itu saat mendudukkan Namira di kursi belakang mobilnya.
Namira tak bisa menjawab. Sekujur tubuhnya menggigil dan pucat sekali.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Saga setengah berseru.
"Lalu bagaimana dengan Tuan muda Ivan?"
"Biarkan saja, besok aku akan membuat perhitungan dengannya," ucap Saga.
Setelah seseorang menyerahkan tas Namira yang diambil dari mobil Ivan, Damar langsung melajukan mobilnya di rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan Namira terus saja menunduk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Pikiran wanita itu tidak jelas dan dominan dipenuhi rasa takut.
"Namira ...."
Saga hendak menyentuh Namira, tetapi gadis itu memberingsut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar ketakutan. Namira bahkan tidak bisa membedakan yang mana lawan dan yang mana kawan.
__ADS_1
Mendapati Namira seperti itu, rasanya Saga ingin mengumpat. Dia yakin sekali kalau fisik Namira saat ini pasti sedang terguncang hebat.