
"Jangan pernah menyalahkan diri sendiri lagi Namira. Dalam kasus ini aku juga salah karena aku tidak bisa menjagamu."
"Tidak Mas, kamu tidak salah!' Namira menggeleng tidak terima. Melihat Saga seperti itu rasanya sangat sesak sekali.
Saga pun kembali memeluk Namira. Kali ini lebih erat seolah dia tidak mau dipisahkan lagi dengan istrinya.
"Aku hanya ingin kau tahu kalau aku tidak pernah membencimu selama ini. Aku juga tidak pernah membenci anak itu. Aku sangat mencintaimu, dan aku terlalu bingung dengan masalah yang terjadi. Aku marah karena aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Setelah aku tahu, hatiku jadi lebih lega meskipun itu cukup menyakitkan."
"Aku paham Mas. Sama sepertimu, aku juga bingung. Di sisi lain aku ingin jujur, di sisi lain aku tidak mau hubunganmu dan keluargamu berantakan."
Saga tersenyum. "Hubunganku dan keluargaku tidak akan berantakan Namira. Jika Ivan mau jabatan itu, aku akan dengan senang hati memberikannya."
"Mas?" Namira mengerjap setengah tercengang.
"Sejak dulu keluargaku selalu membedakan antara diriku dengan Ivan. Mungkin itu penyebab Ivan merasa iri dan merasa ingin memiliki apa yang aku miliki. Aku paham sekali dengan apa yang dirasakan Ivan karena aku sudah lama memperhatikan."
Tertegun, Namira hanya berani menyimak apa yang di ceritakan Saga.
"Seburuk apa pun, Ivan adalah adikku. Aku akan memberikan jabatan itu padanya. Untuk kedepannya mungkin aku akan mengajakmu tinggal di pegunungan, tempat tinggal kakek dan nenekku dulu. Apa kau mau tinggal di sana dan memulainya dari awal?" tanya Saga pelan.
Dalam diam Namira mengangguk.
"Syukurlah kalau kau mau. Aku tahu kau bukan wanita yang gila harta. Mungkin juga kita sama-sama menginginkan kehidupan yang sederhana dan hangat," ucap Saga.
*
*
__ADS_1
*
Dua hari berlalu.
Dari pihak keluarga Saga belum ada yang tahu kalau Namira sekarang dirawat di rumah sakit. Saga belum ada mengabari siapa pun, dan sepertinya Ivan juga masih bungkam. Entah dia terlalu takut, atau justru dia merasa bersalah atas semua yan terjadi.
Di rumah utama, Saga baru saja datang. Tatapannya yang dingin mengarah ke segala penjuru ruangan.
Saga berusaha mencari sosok Ivan. Tapi di rumah itu kosong tanpa siapa pun.
"Di mana Ivan?" tanya Saga pada salah satu pelayan.
"Tuan muda kecil ada di kamarnya, Tuan. Beberapa hari ini Tuan Muda kecil tidak pernah keluar kamar. Dan kami selalu membawakan makanannya ke--" Belum sempat pelayan itu menjelaskan, Saga sudah berlalu menuju kamar Ivan. Pelayan itu sedikit merinding melihat sikap Saga yang tidak biasa. Ada apalalagi ini, pikirnya dalam diam.
ceklek.
"Sialan!"
Saga berlari kencang. ia melayangkan sebuah tinjuan tak kasat mata ke arah adiknya. Dia terus memukuli Ivan. Menyalurkan semua amarah yang selama ini dia pendam.
Setelah puas memukuli Ivan. Saga menarik sebuah map dari dalam jasnya. Dia melempar itu ke wajah Ivan.
"Aku sangat membencimu. Apa pun yang terjadi kau adalah adikku. Aku rela memberikan apa pun kepadamu asal itu bukan Namira!"
Setelah mengatakan itu, Saga berlalu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ivan sangat terkejut melihat dokumen pengalihan jabatan yang Saga turunkan atas namanya. Dia juga membagi saham yang dimiliki supaya Ivan layak dijadikan direktur utama.
Ivan meraung penuh penyesalan. Sungguh dia tidak menyangka Saga akan memberikan harta yang ia miliki secara cuma-cuma.
__ADS_1
*
*
*
Satu bulan berlalu, semuanya sudah kembali ke semula. Saga dan Namira memutuskan untuk memaafkan Ivan. Tapi mereka tidak mau hidup berdekatan dengan lelaki itu sehingga keduanya memutuskan untuk pindah ke desa secepat mungkin.
Namira sangat bahagia dengan kehidupan barunya. Di sana Saga mengurus sebuah perkebunan teh yang cukup luas.
"Berkebun adalah hobiku sejak dulu Namira. Aku tidak menyangka semua ini akan terwujud. Apa kau menyesal?"
"Apa yang harus aku sesalkan, Mas?"
Keduanya sedang berada di sebuah saung. Mereka sedang menikmati secangkir teh sambil mengawasi para pekerja yang sedang memetik teh di perkebunan.
"Menikah dengan seorang pria yang hanya jadi tukang kebun. Kurasa kau mulai menyesal," goda Saga. Satu cubitan melayang di pipi Namira yang mulai gembil. Perempuan itu sudah tidak sekurus kemarin-kemarin.
Namira sedikit memanyunkan bibirnya. "Apa yang harus aku sesalkan. Meskipun kau hanyalah tukang kebun, tapi kau memiliki 50 hektar kebun teh. Itu sudah lebih dari cukup untuk memberi makan anak dan cucu kita," cibir Namira.
Saga tak kuasa menahan tawa. Dia memeluk Namira, lantas mencium gemas kedua pipinya.
"Aku mencintaimu," bisiknya."
"Aku juga Mas! Aku sangat-sangat mencintaimu."
Tamat
__ADS_1