BUKAN DARAH PERAWAN

BUKAN DARAH PERAWAN
Insting


__ADS_3

Damar membuka ruang kerja Saga dengan amat tergesa-gesa. Dari raut wajahnya, Saga bisa menebak sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi.


"Ada apa?" tanya Saga langsung menyergah. Damar pun mulai membuka layar ponselnya. Dia memberikan sebuah rekaman yang baru ia dapat itu kepada Saga.


"Beberapa saat lalu mata-mata kita melihat gelagat mencurigakan seorang pria. Dia mendatangi rumah Anda dengan cara aneh, lalu masuk seperti orang memaksakan diri. Dan orang itu adalah adik Anda, Ivan."


"Kau serius?"


Dua bola mata Saga menatap penuh ke arah Damar. Dia langsung memutar video itu. Matanya hikmat menatap setiap adegan demi adegan. Kedatangan Ivan ke sana memang sangat mencurigakan untuk Saga.


"Apakah jangan-jangan Ivan memiliki hubungan khusus dengan Namira?" ucap Damar mulai menduga-duga.


"Jangan sembarangan bicara dulu. Untuk saat ini kita tidak punya bukti apa-apa kalau Ivan orangnya. Dulu juga aku sempat mencari bukti apakah mereka pernah saling kenal. Tapi semua itu nihil. Tidak ada tanda-tanda mereka pernah dekat atau menjalin sesuatu," ucap Saga.


Mendengar itu Damar cukup terkejut. Ternyata Saga sudah curiga jauh sebelum kejadian ini terjadi.


"Biasanya insting seorang suami sangat kuat, Tuan. Sekarang bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda--"


"Cukup Damar!" Saga tiba-tiba membentaknya cukup keras.

__ADS_1


"Turunkan prasangka buruk ini. Aku tidak ingin membahas soal ini dulu. Nanti aku akan tanyakan hal ini pada Namira secara langsung," ucap Saga.


Damar tak dapat berkata apa-apa lagi di saat suasana hati bossnya sedang begitu. Ia memutuskan untuk menghinar. Karena mau bagaimanapun Damar hanya karyawan yang tak berhak ikut campur dalam masalah pribadi bossnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Maaf jika saya terlalu bersemangat. Saya tidak bermaksud." Damar membalik badan lantas menutup pintu itu rapat-rapat. Dia keluar dengan perasaan kecewa. Andai Saga mau menyadap ponsel Namira, pasti semua akan jauh lebih mudah.


"Sebenarnya kalau masih cinta tinggal maafkan dan terima saja. Kalau mau mau tidak begini 'kan Anda sendiri yang repot Tuan! Aku juga ikut repot si," gumam Damar.


Rasanya ia ingin memaki kebodohan bossnya dalam mengambil keputusan. Bila perlu ia ingin menguliti Saga habis-habisan.


"Kepo, tapi masih berusahan menjaga privasi, apa-apaan itu," sungut Damar. Tepat saat ia bergumam sekretaris Saga yang bernama Rahma mendekat.


"Tidak usah dibahas. Mana laporan yang tadi?" Damar segera mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malu.


Rahma adalah sekretaris inti Saga yang ditugaskan untuk mengurus semua urusan kantor. Bisa dibilang ia merupakan sekretaris asli. Sementara Damar, lelaki itu lebih cocok dibilang asisten karena pekerjaannya merangkap semuanya. Dia bahkan pernah disuruh membuat nasi goreng oleh Saga. Seharian tidak bekerja dan hanya menunggu Saga melakukan sauna, semua sudah pernah dia lakukan.


*


*

__ADS_1


*


Sekitar pukul sembilan malam Saga pulang. Dia membuka pintu dan melihat Namira masih terjaga di ruang tamu.


Hati Saga perlahan memanas ketika mengingat video Ivan tadi. Rasanya ia ingin memaksa Namira mengakui hal-hal yang tidak dia ketahui.


"Kamu sudah pulang, Mas," sapa Namira. Lelaki itu mendekat lalu duduk di seberang Namira. Dia meletakkan tas kerjanya secara asal, lalu mengendurkan tali dasinya dengan gerakan kasar.


"Semua makanan untukmu sudah kutaruh kulkas. Kalau kau mau makan sekarang akan kuhangatkan," ucap Namira.


"Tidak usah. Aku sudah makan di luar," ucap Saga dingin. Padahal dia memakan habis makanan yang dibuat Namira. Untuk makan siang, sore, dan dihabiskan saat makan malam tadi. Saga benar-benar kenyang oleh makanan enak bikinan Namira.


"Kau ngapain di sini? Kalau sudah tidak ada yang dikerjakan sebaiknya kau tidur. Jaga kesehatan. Aku tidak mau dibuat repot kalua kau sampai sakit!" ucap Saga ketus.


Namira baru ingin menggoda dengan bertanya soal makanan yang ia kirim tadi siang. Namun semua itu ia urungkan ketika melihat mood Saga terlihat sangat buruk.


Kira-kira apa yang membuat Saga seperti itu? Apakah jangan-jangan dia tahu soal kedatangan Ivan?


Namira rasanya ingin bertanya dengan gamblang. Tapi hal itu terlalu sulit untuk dilakukan.

__ADS_1


__ADS_2