BUKAN DARAH PERAWAN

BUKAN DARAH PERAWAN
20 Juta


__ADS_3

Namira baru saja pulang dari ATM. Dia mengambil uang sebanyak lima juta untuk tambahan bekal. Jadi total bekal kaburnya sekarang ada 20 juta.


Perempuan itu sedikit mengembuskan napas lega karena sampai detik ini Saga tidak pernah mempermasalahkan soal uang yang ia ambil itu. Saga terkesan masa bodo jika itu menyangkut materi.


Hanya saja sekarang Namira kurang leluasa karena Ivan sering menghubunginya. Namira jadi harus kucing-kucingan. Kadang ia masuk kamar mandi hanya untuk sekadar mengangkat telepon Ivan. Semua itu tentunya sangat mengancam hidup Namira meski Ivan tak pernah menampakkan wajahnya lagi.


"Uang segini masih belum cukup, tapi aku harus tetap kabur secepat mungkin sebelum Ivan semakin berani."


Namira pun sudah bertekad bulat bahwa besok pagi dia akan kabur.


Dia tidak akan membawa apa pun yang ada di rumah itu kecuali uang dan beberapa lembar pakaian yang sudah ia kemas rapi dalam sebuah koper kecil yang selama ini disembunyikan.


Sementara di sisi lain, Saga sedang duduk gelisah di kursi kerjanya. Entah kenapa ia merasakan sebuah firasat yang buruk, tapi Saga tidak bisa menebak hal buruk apa yang sedang terjadi saat ini.


"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?"


Damar menegur ketika memperhatikan bossnya seperti orang tidak baik-baik saja. Sesuatu pasti telah terjadi pada Saga, pikirnya sebelum memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa Anda ada masalah? Hari ini Anda tidak seperti biasanya. Anda cenderung terlihat gelisah," ujar Damar lagi.


"Aku memang sedang kurang baik, Damar. Ada sesuatu yang mengganjal di otakku."


"Apakah ini menyangkut Nona Namira lagi?" tanya Damar hati-hati. Mendengar nama itu disebut Saga mengedikkan setengah bahunya, kesal.


"Siapa lagi yang bisa membuat aku begini kecuali dia! Akhir-akhir ini aku merasa Namira agak aneh. Dia sering menerima telepon entah dari siapa, dan saat mengangkat telepon itu, dia pasti selalu menjauh dari aku."


Setelah mendengar itu, Damar pun paham akan pokok permasalahan yang membuat Saga gelisah.

__ADS_1


"Apa Anda sudah bertanya telepon itu dari siapa?" tanya Damar hati-hati.


Saga menggeleng pelan. Sudah bisa Damar tebak kalau lelaki itu pasti akan menjawab begitu.


"Anda harus bertanya Tuan. Setidaknya jika mendengar alasan langsung dari Nona, Anda bisa sedikit lebih tenang ketimbang menduga-duga seperti ini."


"Aku tidak bisa bertanya karena sejak awal aku sudah memberinya kebebasan! Mau ditaruh di mana mukaku kalau bertanya seperti itu?"


"Hmm. Bagaimana kalau orang yang ditelepon itu adalah ayah dari bayi Nona? Bukankah ini selangkah Anda untuk maju?"


"Tapi aku tetap tidak bisa. Rasa gengsiku melarang untuk melakukannya," sungut Saga. Dia sendiri juga kesal kenapa ia punya gengsi sebesar itu.


"Kalau begitu, bagaimana kalau Tuan siapkan mata-mata? Dengan mata-mata Anda bisa mengawasi kegiatan Nona saat tidak ada Anda."


"Mata-mata?"


"Iya, Tuan. Dengan menyewa mata-mata Anda bisa mengontrol keberadaan Nona Namira tanpa harus menghancurkan gengsi. Bukankah itu lebih mudah?"


"Apakah pantas aku melakukan hal seperti itu? Kesannya aku seperti orang kepo yang suka ikut campur."


"Ikut campur wajar karena dia istri Anda. Sejak awal juga Nona sendiri yang mengajak Anda main rahasia-rahasiaan, bukan?"


Saga pun mengangguk tanpa bisa mengelak.


"Hmmm. Boleh juga usulanmu. Kalau begitu kau siapkan satu mata-mata. Tugaskan dia membuntuti kegiatan Namira di luar rumah," ucap Saga.


"Baik, Tuan!" Damar menjawab sigap.

__ADS_1


Dipikir-pikir selama ini Saga terlalu membebaskan hidup Namira. Perempuan itu bahkan bisa ke mana saja tanpa harus izin dulu.


Mungkin juga itu yang membuat Saga kecolongan karena terlalu percaya pada perempuan berhati rubah itu. Anda kata Saga agak posesif dan ketat, mungkin Namira tidak akan dihamili oleh pria lain.


"Semoga saja dengan hadirnya mata-mata itu aku bisa mengetahui siapa ayah dari bayimu, Namira." Saga mengepalkan dua tangannya. Kalau menengok ke belakang, meresapi apa yang terjadi, rasanya ia ingin membunuh Namira dan laki-laki itu.


Tak selang beberapa lama, Damar yang sudah keluar masuk dari ruangan Saga beberapa kali kembali masuk lagi.


"Tuan, saya sudah mendapatkan mata-mata yang profesional untuk membuntuti Nona."


"Baguslah," ujar Saga cuek. Matanya sibuk menatap layar dan memeriksa laporan data yang ada di tangan. Dia mencocokkan satu persatu supaya tidak ada perbedaan.


Meskipun diabaikan, Damar tetap lanjut menjelaskan. Berusaha untuk tidak peduli dengan sikap acuh tak acuh yang dilemparkan Saga.


"Mata-mata itu berkata kalau Nona tidak keluar rumah seharian ini. Dia lalu menawarkan diri untuk menyadap ponsel Nona supaya lebih mudah melihat kegiatan Nona yang sebenarnya. Apakah Anda tertarik?"


"Tidak usah," jawab Saga santai. Sejujurnya ia juga tidak ingin melewati batasan privasi Namira. Menyewa mata-mata menurutnya sudah cukup keterlaluan untuk dirinya.


"Tidak usah melakukan apa-apa. Cukup ikuti saja kegiatan Namira, dan pastikan lapor padaku jika menemukan gerak-gerik yang aneh pada perempuan itu."


"Baik, Tuan! Kalau begitu saya permisi."


Damar pun pergi meninggalkan ruangan Saga. Lelaki itu menyandarkan kepalanya ke belakang setelah itu.


"Kira-kira apa jadinya kalau keluarga tahu anak itu bukan anakku? Apa aku akan dicopot dari jabatan ini?"


Perasaan berat menghimpit dada. Saga menarik napas panjang, mata terpejam sejenak sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi pada dirinya nanti.

__ADS_1


__ADS_2