BUKAN DARAH PERAWAN

BUKAN DARAH PERAWAN
Selalu Ada Untukmu


__ADS_3

Keguguran?


Tubuh Ivan terasa linglung. Rasanya ia tidak percaya apa yang menjadi alasan utamanya untuk merebut Namira dari Saga lenyap seketika.


"Sekarang lebih baik kau pergi saja. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Aku hanya ingin fokus pada kesembuhan istriku," ucap Saga penuh penekanan pada kata istri.


Setelah itu dia menutup pintu. Saga tak membiarkan Ivan menjenguk Namira barang sedetik pun. Ivan pun mengalah. Dia memutuskan untuk pergi.


Saga menarik napas panjang. Sebenarnya ada banyak sekali pikiran di kepalanya saat ini. Saga begitu ingin ngobrol dan menanyakan pada Ivan apa yang terjadi sesungguhnya. Tapi dia tidak bisa bersikap egois hanya demi menuruti rasa penasarannya sendiri.


Ia harus menunggu keadaan Namira baik-baik saja, lalu menanyakan secara langsung pada wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.


***


Sekitar sore hari, Namira bangun dengan keadaan lebih tenang. Dia juga sudah mendapat dukungan dari dokter psikolog soal kehilangannya. .


Pelan, Namira mulai menerima semua itu. Dia jauh lebih bersikap tenang setelah mendapat saran dan berbagai arahan. Ayah Namira juga sudah diberi tahu kalau Namira dirawat. Sekarang lelaki tua itu sedang duduk menunggunya selagi Saga tak ada.

__ADS_1


Saga masuk saat Namira hendak menyendokkan bubur ke mulutnya. Dia cukup tercengang, lantas menaruh sendok itu kembali pada overbed table.


Saga yang menyadari itu langsung mengernyit. Dia mendekat lalu mengambil sendok yang baru saja diletakkan oleh Namira.


"Kenapa tidak jadi makan? Mau aku suapi?"


Namira sedikit menatap ragu kepada Saga. Dia canggung sekaligus bingung.


"Kenapa diam?" Saga tersenyum.


Harusnya setelah semua yang terjadi, lelaki itu marah dan membencinya bukan? Tapi kenapa Saga berbeda?


Rasanya Namira ingin mengumpat dalam hati. Perempuan itu melirik ke samping, tepatnya kepada sang Ayah yang sejal tadi duduk di sofa sebelah kiri.


Sang Ayah tersenyum. "Ayah tidak mengatakan apa pun kepada suamimu. Tapi kalau kamu takut dan ingin Ayah menjelaskan, Ayah bisa mewakilimu."


Saga yang langsung berdiri pun menoleh ke belakang. "Aku akan sangat bersedia mendengarkan, tapi aku ingin mendengar penjelasan itu dari istriku langsung. Aku berhak tau apa yang terjadi sesungguhnya versi istriku," ucap Saga.

__ADS_1


Rasanya Namira sungguh ingin menenggelamkan tubuhnya ke dasar lautan. Dia bingung, dan tak tahu harus berbuat apa.


"Tapi sebaiknya kamu makan dulu," ucap Saga lagi. Dia mulai menyendokkan bubur di depan Namira lalu menuapkannya pada mulut perempuan itu.


Namira terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar meski saat ini ia masih bingung dengan sikap dan perhatian Saga. Memilih tak banyak bicara, Namira memutuskan untuk makan dengan tenang.


Dalam waktu kurang dari lima menit bubur di hadapan Namira ludes tak tersisa. Saga segera menyingkirkan mangkok itu, lantas mengecup puncak kepala Namira.


"Istriku sangat pintar," bisiknya.


Lagi-lagi Namira dibuat sangat mencelos. Dia mendongak, lalu tatapan itu turun saat Saga mengambil kursi besi dan duduk di samping Namira. Sejak tadi Saga berdiri sambil menyuapi.


"Kenapa kamu jadi perhatian sekali padaku?" tanya Namira terheran-heran. Jujur Namira bingung. Dipikirannya sekarang, Saga berubah drastis karena bayi itu sudah tidak ada.


Saga hanya tersenyum. Ia yang gemas lantas mengecup kembali dahi Namira. Namun wanita itu menatap kasar.


"Apa kamu berubah karena bayi itu sudah tidak ada? iya?"

__ADS_1


__ADS_2