
Menginap? Ah rasanya itu sangat sulit. Hidup di negri yang masyarakatnya rajin ghibah, bisa membuat heboh kompleks perumahan. Masyarakat di negri ini paling senang mencari aib orang lain, karena aib orang lain menjadi sebuah kesenangan dalam topik pembicaraan. Ketika dalam penyampaian beritanya ternyata salah, masyarakat di negri ini malas meminta maaf tapi rajin sebar aib. Mirisnya negriku.
Bila di rumah hanya ada Bu Maryam dan Nadia mungkin Adinda akan langsung mengatakan iya. Di rumah tersebut ada kulkas rusak yang sewaktu-waktu bisa nyetrum. Ya, Irsyad adalah kulkas rusak tersebut. Irsyad duda dan Adinda wanita singel yang menawan. Apa kata masyarakat apabila ada seorang gadis yang pagi-pagi keluar dari rumah tersebut.
“Maaf, bu. Rasanya saya tidak bisa menginap di sini.”
“Kenapa, neng?”
“Ya sudah sih, mah. Orang gak mau gak usah dipaksa.” Bener kan ini kulkas nyetrum. Main nyamber aja.
“Demi Nadia, A.”
“Ada aku.”
“Buktinya anak kamu gak mau sama kamu, A.”
“Belum, mah. Nanti juga mau.”
Wajah gak mau senyum ketus lagi. Ya ampun beda pisan sama mamah nya. Semoga ini kulkas sewaktu-waktu bisa jadi lampu yang menghangatkan setiap orang. Pikir Dinda.
“Lagi pula kalau Adinda pulang ini sudah malam, A. Mamah khawatir karena dia perempuan.”
__ADS_1
“Terserah kanjeng ratu.”
Irsyad mendelik ke arah Adinda dan Adinda melihat tatapan Irsyad penuh dengan kekesalan kepada dirinya.
“Maaf, bu. Gak enak rasanya kalau saya menginap di sini. Saya wanita singel dan di rumah ini ada seorang pri dengan status duda. Khawatir jadi fitnah, bu.”
“Tenang saja. Gak hanya kamu yang menginap di sini, ibu akan meminta Lira sahabat kamu untuk menginap di sini.”
Adinda nampak berpikir, ditengoknya jam yang menempel di dinding kamar Nadia. Sudah hampir jam 8 malam. Ada rasa takut dalam dirinya untuk pulang lewat dari jam 8 malam.
“Kalau Lira ada saya mau, bu.”
“Alhamdulillah. Seneng ibu dengernya. Ya sudah ibu akan ke rumah Lira dulu untuk meminta dia menginap di sini.”
“Maaf, pak. Bisa tinggalkan saya dengan Nadia.”
“Maksud kamu apa?” masih saja menjawab dengan ketus.
“Maksud saya bapak ke luar dari kamar ini.”
“Koq kamu ngusir saya, ini kan rumah saya. Berani banget kamu sama saya.”
__ADS_1
“Saya bukan ngusir bapak. Di kamar ini hanya bapak, saya dan Nadia. Paham kan?”
“Enggak.”
“Kita bukan mahram, pak. Jadi intinya gak baik apabila ada wanita dan pria berada dalam satu ruangan yang sama.”
“Ada Nadia.”
“Nadia bukan orang dewasa, pak”
Adinda menegaskan hal tersebut kepada Irsyad. Bukan hanya agamanya saja yang melarang hal yang demikian, tapi Dinda juga sudah tidak nyaman berada dekat dengan Irsyad. Ucapan Irsyad bernada ketus dan itu membuat sangat tidak nyaman.
Tanpa Adinda mengatakan hal yang lebih jauh lagi, Irsyad langsung memilih ke luar dari kamar Nadia. Raut wajahnya nampak jengkel.
“Dasar wanita sombong. Ini rumah siapa? yang diusir siapa? Gimana kalau jadi tuan rumah? Jadi tamu aja songong minta ampun.”
Irsyad mengatakan itu sambil berjalan dan itu jelas terdengar oleh Adinda.
“Ya ampun kulkas kalau udah nyetrum gitu. Bikin sakit hati,” monolog Adinda.
***
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca.