Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Anda Galak


__ADS_3

Ya, Irsyad terlampau cuek dengan guru putrinya itu. Menampakkan sikap baik terhadap gurunya Nadia, itu hanya akan membuat Bu Maryam semakin gencar mendekatkan Irsyad dengan Adinda. Itulah pikir Irsyad. Bagi Irsyad Eva masih menjadi ratu hatinya dan sulit untuk digantikan.


Setelah Irsyad mandi, Irsyad diminta untuk makan terlebih dahulu lalu setelah itu mengambil alih Nadia dari Adinda. Mengasuh Nadia di kala sakit membutuhkan tenaga yang sangat ekstra.


Adinda masih duduk dengan Nadia di pangkuannya yang tertidur dengan posisi seperti koala atau anak monyet yang bergelayut pada induknya. Punggung Adinda sudah sangat pegal walau itu ternyata tidak lebih dari 30 menit. Ah, bagaimana nanti kalau dirinya dianugerahi seorang anak sekarang saja rasanya sudah sesulit ini. Itung-itung belajar itulah pikirnya.


“Sini!”


Irsyad datang tiba-tiba dengan meminta Nadia. Adinda yang tengah mengelus-elus punggung Nadia merasa kaget, tiba-tiba Irsyad sudah berada di depannya.


Tidak ada keramahan yang Irsyad tunjukan, bahkan terlampau egois. Ketika Adinda menahan pegal di punggungnya, manusia es satu ini malah meminta dengan ketus tanpa ada ucapan terima kasih. Adinda berdo’a


semoga saja di hari-hari berikutnya dia tidak bertemu dengan si duda rasa bujangan.


“Iya, pak.”


Adinda berusaha untuk berdiri dan berniat memberikan Nadia. Lagi pula punggung sudah minta untuk diluruskan.


Berharap semua akan mudah ternyata tidak. Nadia terbangun dari tidurnya dan menolak untuk berpindah kepada gendongan ayahnya. Nadia menangis dengan kencang serta tangan dan kakinya menahan agar tidak pindah dari Adinda.


“Ternyata Nadia gak mau, A. Kamu terlalu sibuk, jadi Nadia sudah tidak terlalu dekat dengan kamu. Wajar kalau lebih nempel ke Adinda.”


Irsyad mengusap wajahnya. Disadari oleh dirinya memang selama ini jarang sekali ada waktu dengan Nadia.


“Terus gimana dong, mah?”


“Ya sudah biarkan saja dulu, mungkin tidurnya belum nyenyak. Kalau udah nyenyak pasti gak akan kebangun.”

__ADS_1


Irsyad memperhatikan Adinda yang nampak sekali begitu menyayangi anaknya. Rasa sayang itu bukan dibuat-buat tapi terlihat sebuah ketulusan. Irsyad begitu gemas dengan Adinda yang tidak menoleh padanya.


Bagi Adinda, memandang pria yang bukan mahramnya tidak diperbolehkan dalam Islam. Islam agama yang sangat sempurna mengatur interaksi terbaik antara lawan jenis.


“Neng, pegal ya.”


“Iya,” jawab Adinda dengan senyum terbaiknya. “Tapi tidak apa-apa, itung-itung latihan nanti kalau punya anak.”


“Emang sudah siap nikah?”


“Belum lulus, bu.”


“Tapi kan lagi skripsi?”


“Iya sih, tapi mencari suami itu tidak seperti mencari referensi buat skripsi. Gak mudah intinya, bu.”


“Yang pertama bagi Adinda harus seiman. Kalau ada sisi lebihnya, seperti pekerjaannya bagus, tampan dan yang lainnya itu bonusnya, bu.”


“Wih hade pisan. Henteu ribet ciga anak-anak zaman ayeuna. Suka ibu.”


Irsyad hanya mendengarkan dengan sesekali dia memutar matanya karena merasa jengah mendengar pertanyaan ibunya kepada Adinda. Ibunya bertanya seperti itu seolah ingin memperlihatkan kepadanya bahwa Adinda adalah wanita yang baik yang cocok untuk dijdikan istri.


“Neng, ibu ambilkan bantal dulu buat ganjal punggung neng yang pastinya sudah sangat sakit.”


“Iya, bu.”


Bu Maryam pergi ke sebuah kamar untuk mengambil bantal yang lebih empuk dibandingkan bantal sofa yang keras.

__ADS_1


Tinggal Irsyad dan Nadia di ruang tengah tersebut.


“Kenapa Nadia nempel banget sama kamu? Selama ngajar dia, kamu kasih pelajaran apa?”


“Maksudya, pak?”


“Pertanyaan saya sudah cukup jelas dan tidak perlu untuk diulangi.”


“Saya mengajar dengan menciptakan suasana yang membuat Nadia nyaman. Saya mengajar sebagaimana mestinya dan sebagaimana saya mengajar kepada anak di usia Nadia.”


“Nadia susah buat nempel sama orang. Apalagi kamu yang baru dikenalnya.”


“Galak, ih. Beda pisan sama mamahnya.”


“Ngomong apa, kamu?”


“Anda galak.”


“Kalau saya galak kamu mau apa?”


“Maaf, pak. Pembicaraan kita sangat tidak penting saya harap kita sudahi.”


“Wanita sombong.”


Adinda mendengar itu tapi baginya tak perlu untuk dijawab. Biarkanlah dianggap sombong daripada berbincang berdua tanpa ada penengah. Karena ternyata tak lama Bu Maryam kembali dengan membawa bantal dan juga air minum di tangannya.


***

__ADS_1


Saya ucapkan terimakasih kepada seluruh pembaca. Semoga suka


__ADS_2