Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Aiman Irsyad Putra


__ADS_3

Aiman Irsyad Putra atau yang biasa dipanggil Irsyad itu adalah seorang duda dengan anak satu. Irsyad menikah ketika berusia 24 tahun dengan rekan kerjanya pada waktu itu. Siapa sangka sang istri tercintanya pergi untuk selama-lamanya ketika melahirkan putri mereka.


Irsyad bekerja sebagai seorang asisten direktur di salah satu perusahaan asing di Bandung. Memiliki kemampuan berbahasa asing juga kerja keras yang baik membuat dirinya diangkat menjadi seorang asisten direktur ketika usianya 27 tahun. Irsyad awalnya hanya seorang staff marketing di tempat kerjanya yang sekarang. Di saat asisten lama mengundurkan diri, tanpa disangka Irsyad lah yang dipilih untuk menggantikan posisi asisten direktur yang lama.


Irsyad saat ini berusia 30 tahun dan anaknya Nadia Putri Jannah berusia 3 tahun.


Setelah sang istri meninggal, Irsyad berubah menjadi seorang yang pendiam, tertutup, emosian juga lalai dalam hal ibadah. Irsyad merasa Tuhan tidak adil dengan mengambil sang istri padahal pernikahannya pada waktu itu baru berjalan 2 tahun.


"A, di kantor lagi deket sama perempuan gak?" tanya sang ibu.


"Mah, aku gak bisa nikah lagi." Irsyad memejamkan matanya mengingat masa-masa bahagia bersama sang istri. "Aku serasa menghianati Eva."


Eva adalah nama sang istri tercintanya yang seolah-olah bagi Irsyad Eva akan merasa sakit hati dengan dirinya menikah lagi.

__ADS_1


"Mamah cuma nanya, A. Eva sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Kamu itu butuh partner dalam mendidik Nadia."


"Mah, kalau persoalan mendidik ya tinggal daftarkan sekolah saja. Kok repot rasanya kalau harus menikah. Menikah kan cari istri, bukan cari guru!" Irsyad mengatakan itu dengan nada tinggi. Ya, Irsyad kesal bila membahas persoalan mengenai menikah lagi.


"Beda, A. Sekolah hanya beberapa jam saja sedangkan kalau seorang ibu ya siang dan malam mengurus sang anak."


"Tinggal pake babysitter kalau mamah udah gak mau urus Nadia!"


"Terserah, mamah."


Irsyad berlalu pergi ke kamar Nadia. Irsyad pergi ketika Nadia belum bangun dan pulang ketika Nadia sudah tidur.


Irsyad memandang wajah lelap sang putri tercinta dan dielusnya kepala sang putri lalu dikecupnya.

__ADS_1


"Eva, aku kangen." Irsyad mengatakan itu dengan wajah sendu. Nampak sekali wajah itu menunjukan kesedihan. "Eva aku lalai dalam menjaga anak kita. Nadia sekarang sudah besar dan sangat aktif. Andai kamu masih ada pasti kita membesarkannya bersama-sama."


Irsyad membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di kamar Nadia. Sudah lama sekali dirinya tidak menemani sang buah hati tidur.


Di tempatnya bekerja ada beberapa wanita yang menunjukkan kesukaan kepada dirinya. Tapi bagi Irsyad saat ini bukan persoalan cinta, cantik, ataupun karier dalam memilih pasangan hidup, ada Nadia yang harus lebih utama dipikirkan.


Tidak mudah membuka hati ketika ada nama lain walau orang tersebut sudah tidak membersamai diri. Bukan egois, tapi hati perlu masa pemulihan. Luka di hati tidak sama dengan luka luar atau penyakit yang terdeteksi dokter. Ketika luka luar maka obatnya bisa dicari di apotek tapi memulihkan hati perlu keberanian untuk kembali memulai dengan bayangan masa lalu yang butuh waktu untuk dilupakan.


Ya, begitulah Irsyad. Hatinya telah terisi oleh Eva dan saat ini dirinya butuh memulihkan hati. Bukan Irsyad egois tidak memikirkan partner dalam mendidik Nadia. Dia memikirkannya tapi dia juga perlu memulihkan rasa kehilangan yang dalam ketika orang tercinta pergi untuk selama-lamanya.


-----*****-----


😉

__ADS_1


__ADS_2