
“Mah, kalau Aa nikah lagi bagaimana?”
“Yang bener?”
“Aa nanya loh, mah.”
“Ya mamah seneng kalau Aa mau nikah lagi. Emang mau nikah sama siapa?”
“Belum tau.”
“Mamah kira sudah ada calonnya, A.”
“Belum ada, mah. Aa hanya kepikiran kayanya ada niat mau nikah lagi.”
“Saran mamah kalau mau nikah lagi, jangan hanya orang yang cinta sama kamu tapi juga yang akan menyayangi Nadia.”
“Kalau itu sudah pasti, mah. Aa juga harus mikirin Nadia. Kali ini kalau ada jodohnya, Aa tidak seperti menikahi Eva tanpa buntut, sekarang ada buntutnya.”
“Ya syukur kalau begitu. Mau mamah kasih saran, A?”
“Saran apa, mah?”
“Menurut Aa, Adinda orangnya gimana?”
__ADS_1
“Koq bahas Adinda sih, mah.”
“Bukan begitu. Menurut mamah Adinda cocok kalau jadi pengganti Eva. Mamah lihat dia sayang banget sama Nadia. Dia juga lembut, sopan dan agamis, A.”
“Tapi menurut Aa, Adinda itu sombong, mah.”
“Sombong sebelah mananya sih, A. Baru ketemu sekali juga sudah asal kasih penilaian aja.”
“Dia bilang Aa galak, mah.”
“Pantes sih kalau dibilang galak. Sikap kamu waktu itu emang galak. Jangankan Adinda, mamah aja jengkel sama sikap Aa.”
“Emang mamah tahu?”
“Tahu lah. Rumah ini sebesar apa Aiman Irsyad Putra? Sampai mamah gak dengar omongan kamu ke Adinda.”
“Karena Adinda itu ngertiin banget Nadia. Adinda selalu membuat Nadia bahagia dan nyaman. Dia hanya nangis kalau Adinda pulang. Intinya Nadia pengen Adinda terus di rumah ini.”
“Oh...”
“Itu artinya pertanda, A. Pertanda kalau Adinda memang calon istri buat Aa.”
“Ih... mamah.”
__ADS_1
“Ha...ha... koq sambil senyum sih, A? Mikirin Adinda juga, ya?”
“Baper wajar kan, mah?”
“Kalau niat nanti coba mamah dekat kan kamu sama Adinda.”
“Terserah, mamah.”
“Berarti boleh dong.”
“Tau ah, Aa mau ke kamar udah ngantuk.”
***
Sedangkan di tempat lain Adinda tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan Irsyad menggunakan koko membuat imajinasinya semakin liar. Adinda membayangkan Irsyad berangkat sholat ke masjid dengan menggunakan baju koko yang dia pilihkan.
Astagfirullah. Imajinasinya sudah terlalu jauh. Itu artinya Adinda berharap Irsyad menjadi pendamping hidupnya.
Walau sudah satu bulan berlalu dari pertemuan dirinya dengan Irsyad tapi perasaan di hati Adinda malah semakin menjadi. Baru kali ini hatinya sulit untuk dikendalikan. Apa karena intensnya pertemuan dengan anaknya membuat dirinya sulit untuk mengendalikan rasa di hatinya. Padahal selama ini setiap rasa kepada lawan jenis akan berusaha ditepis. Tidak ada niat menikah ketika masih duduk di bangku kuliah menjadi salah satu alasannya. Atau karena dirinya akan lulus dari universitas dalam waktu dekat, hingga rasa itu sulit dikendalikan.
Menyukai lawan jenis adalah salah satu naluri yang ada dalam diri manusia. Naluri ini adalah naluri berkasih sayang dan di dalam Islam menikah adalah solusi dalam mengatasinya.
Wajar bila seseorang menyukai lawan jenisnya, karena itu adalah fitrahnya. Itu adalah fitrah yang Allah berikan kepada manusia dan Allah pun memberikan solusinya yaitu dengan perintah menikah.
__ADS_1
Allah menyampaikan di dalam firman-Nya tentang menciptakan manusia secara berpasang-pasangan. Bukan hanya itu Allah pun menyampaikan terkait perintah menikah.
Adinda berpikir keras terkait keputusan apa yang akan diambilnya. Berhenti menjadi guru ngaji Nadia, atau datang menemui Irsyad dan dengan berani sebagai pihak perempuan yang lebih dahulu melamar karena hati yang sudah sulit untuk dikendalikan.