Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Adinda


__ADS_3

Di Sabtu sore, Adinda datang ke rumah Bu Maryam. Kedatangan Adinda di hari sabtu bukan tanpa alasan. Jadwal dari hari Senin hingga Jum’at adalah jadwal biasanya. Kali ini Adinda datang di hari Sabtu karena mengganti hari Jum’at. Hari sebelumnya Adinda demam dan berjanji akan mengganti di hari Sabtu. Bu Maryam jelas tidak keberatan bahkan hatinya riang. Sabtu sore, Irsyad ada di rumah, maka Adinda pasti akan bertemu dengan


putranya.


“Sudah sembuh, neng?”


“Alhamdulillah sudah, bu.”


“Sakit apa?”


“Hanya demam, bu. Adinda hanya kelelahan karena ingin cepat-cepat selesai skripsinya dan bisa ikut sidang gelombang pertama. Biar tenang kalau sudah sidang tinggal revisi dan wisuda.”


“Jaga kesehatan, neng. Apalagi neng jauh dari orang tua.”


“Iya, bu. Nadia nya mana ya, bu?”


Biasanya Nadia akan ngintil pada nenek nya, kecuali kalau tidur.


“Lagi sama ayahnya di belakang. Yuk kita kebelakang.”


 


Adinda Pov


Astagfirullah, Ya Allah. Kenapa rasanya makin deg-degan? Kenapa jadi gugup? Padahal selama ini ngajar Nadia biasa saja.


Aku ikuti Bu Maryam ke belakang rumah ini. Di belakang rumah ini ada sebuah taman yang tidak luas tapi nyaman. Di taman belakang ini terdapat pohon mangga yang rindang. Di bawah pohon mangga terdapat satu bangku yang terbuat dari kayu. Suasana nya nyaman apabila digunakan untuk bersantai keluarga dan juga nyaman digunakan untuk membaca buku.


Aku lihat A Irsyad menggunakan celana pendek berbahan katun dengan baju kaos polos berwarna hitam. A Irsyad tengah bermain di bangku dengan Nadia di pangkuannya. MasyaAllah keren pisan. Makin suka, apalagi melihat dia perhatian pisan sama Nadia.

__ADS_1


Andai A Irsyad itu suami langsung disamperin kasih kecupan. Astagfirullah jiwa halu ku muncul. A Irsyad lupakan teh Eva terus lamar aku, A. Hati aku makin menjadi tak terkendali. Semakin halu saja.


Aku memang Muslimah yang berusaha taat, tapi aku juga manusia yang sama seperti yang lainnya punya naluri berkasih sayang pada lawan jenis. Hanya saja aku memilih untuk langsung menikah tanpa melalui proses pacaran. Suka sama lawan jenis itu fitrah maka dari itu aku coba lawan selama ini agar tidak terjerumus tapi dengan A Irsyad begitu sulit.


Aku semakin mendekat menuju A Irsyad dan dia noleh lihat aku sama mamah nya yang menghampirinya.


“Katanya sakit, Din. Sudah sehat?”


Astagfirullah ditanya A Irsyad. A Irsyad kesambet apa sampai nanya kesehatan aku. Bulan lalu ketemu waktu Nadia sakit dia kaya kulkas nyetrum. Omongannya nyetrum ke hati bisa bikin sakit hati.


“Alhamdulillah sudah sehat, pak.”


“Asaykum, bu uyu.”


“Wa’alaikumsalam, cantik. Salim dulu dong sama bu guru.”


“Bu uyu, Iya da au biyajay. Iya au ma ayah.”


Duh ini anak gak mau belajar dan malah mau sama ayah nya. Lagi sakit aja nempel banget sekarang malah mau sama ayah nya. Aku udah jauh datang mau ngajar ini anak malah gak mau. Biasanya sih aku punya seribu cara untuk meluluhkan krucil cantik ini, sekarang ada ayah nya aku sih gak bisa apa-apa.”


“Din, Hari ini gak belajar dulu.”


“Koq gak belajar, pak. Maaf pak, saya datang ke sini untuk mengajar.”


“Mamah ambil minum dan makanan ringan dulu ke dalam.”


Bu Maryam bukan membela malah pergi ninggalin aku sama A Irsyad. Aku menjauh duduk di bangku paling ujung.


“Din, Belajarnya Nadia bagaimana?”

__ADS_1


“Alhamdulillah semakin bagus, pak. Nadia mudah mengerti dengan banyak hal. Anaknya cerdas.”


“Kalau kamu gimana?”


“Maksudnya, pak?”


“Kamu ngajar Nadia keberatan?”


“Tidak. Saya senang bisa ngajar Nadia.”


“Dia susah diatur.”


“Orang dewasa saja susah diatur apalagi anak-anak, pak.”


“Saya kewalahan urus Nadia, Din. Saya butuh partner dalam mendidiknya.”


“Kan ada Bu Maryam, pak?”


“Itu beda, Din. Saya takut Nadia terjerumus ketika dewasa nanti karena kurangnya perhatian dari kedua orang tua.”


“Maksud, bapak?”


“Kamu mau jadi pengganti Eva?”


MasyaAllah A Irsyad ngelamar aku tiba-tiba gini di bawah pohon mangga diperhatikan sama anaknya. Ya walau Nadia terlihat mulai memejamkan matanya karena mengantuk.


“Maksudnya.”


“Nikah dengan aku Adinda!”

__ADS_1


__ADS_2