
Langit cerah sore ini cocok bila digunakan jalan-jalan atau sekedar bermain ke tetangga sebelah. Lira yang rumahnya tidak jauh dari rumah Irsyad berniat untuk membawa keponakannya untuk bermain dengan Nadia.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi nampak tersenyum ramah dengan menuntun Nadia.
"Lira, apa kabar? duh bawa si cantik Kayla."
"Alhamdulillah baik, Bu Mar. Nadia udah cantik ya udah mandi."
Maryam, itulah nama nenek dari Nadia atau ibunda dari Irsyad. Bu Maryam ini wanita yang ramah juga sangat peduli terhadap persoalan pendidikan Nadia. Ya, Nadia cucu satu-satunya yang perlu lebih dalam persoalan perhatian karena sang ibunda sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Kayla juga sudah cantik ya sudah mandi. Kita duduk saja di bangku bawah pohon deket ayunan yuk!" ajak Bu Maryam.
Lira mengikuti langkah bu Maryam menuju tempat yang disebutkan oleh Bu Maryam.
Rumah bu Maryam memang sangat bersahabat untuk anak-anak bermain. Rumahnya penuh dengan beberapa bunga dan pohon yang rindang, sejuk.
"Ila, ain ayun-ayun sama iya, au?" ajak Nadia pada Kayla. ah dasar anak-anak sangat lucu dengan kata-kata bicaranya yang belum sempurna.
"Ateu, Ila oyeh ain ayun-ayun?" tanya si kecil Kayla pada Lira.
"Boleh."
Ayunan tersebut adalah ayunan yang berhadap-hadapan yang terbuat dari kayu jati.
Foto by Pinterest
Setelah Lira dan Bu Maryam mengangkat kedua krucil cantik untuk naik ayunan, Lira menjalankan aksinya untuk menanyakan persoalan guru Ngaji Nadia.
"Bu, Nadia udah dapat guru ngaji?"
"Belum, Neng. Minggu lalu sih ada tapi gitu."
__ADS_1
"Gitu bagaimana, bu?"
"Di ujung perumahan ini kan ada banyak yang jual makanan ya, nah itu anak kalau ke sini bawa jajanan terus. Ibu sih gak larang buat jajan, baiknya makanannya dimakan di tempat aja jangan dibawa ke sini. Ini dibawa-bawa ke sini. Nadia jadi pengen."
"Iya, yah karena makanannya belum tentu sehat."
"Iya, seringnya bawa seblak malah. Itu kan pedes dan Nadia malah mau, maklum anak-anak malah penasaran."
"Ha...ha masih muda pastinya, bu?"
"Baru keluar sekolah. Jadi hanya 1 minggu saja ngajar Nadia di sini."
"Walah sebentar ternyata. Bu, Lira punya teman, ngajinya InsyaAllah bagus."
"Teman kuliah?" tanya bu Maryam.
"Iya, bu. Sama-sama jurusan psikologi dan sama-sama sedang mengerjakan tugas akhir kuliah, bu."
"Boleh deh, dicoba dulu semoga aja cocok. Baik cocok dengan Nadia ataupun dengan saya."
"Gak sekalian cocok juga sama A Irsyad gitu, bu?" canda Lira
"Ha...ha...ha..." Keduanya tertawa seolah memang ada maksud untuk menjodohkan Adinda dengan Irsyad. Tapi di tengah tawa tersebut Bu Maryam nampak terlihat sendu kemudian.
"Ibu udah pusing sama A Irsyad, Neng. Semenjak teh Eva gak ada, A Irsyad udah gak pernah ke masjid lagi dan mudah marah. Ibu sedih lihat A Irsyad yang sekarang," keluh Bu Maryam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sabar, Bu. Si A Irsyad mungkin hanya butuh waktu untuk menyembuhkan hatinya. A Irsyad juga jelas belum nerima kalau teh Eva udah gak ada. Teh Eva meninggal mendadak padahal sebelumnya lihat mereka mesra banget."
"Iya, Neng. A Irsyad belum paham dengan persoalan qadha dari Allah swt. Ini juga salah ibu ngedidik A Irsyad bukan dengan agama tapi hanya persoalan dunia."
Lira mengelus pundak Bu Maryam untuk menenangkannya. Orang tua mana pun pasti akan terpukul melihat perubahan anaknya apabila lebih buruk.
"Besok temen kamu nya langsung dibawa ke sini aja ya, neng. Biar bisa langsung kenalan dan langsung ajarin Nadia ngaji."
"Siap, bu."
__ADS_1
***
"Ini rumahnya, Ra?" tanya Adinda.
"Iya ini rumah Bu Maryam."
"Jadi inget Purwakarta aku, Ra. Kaya rumah di sana banyak bunga dan banyak pohonnya."
Sore ini Adinda datang ke rumah Bu Maryam dengan ditemani Lira. Sebelumnya Lira menghubungi Adinda bahwa guru ngaji untuk Nadia masih kosong dan Bu Maryam meminta Adinda untuk datang pada hari itu juga.
"Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam."
Bu Maryam ke luar dengan menggunakan gamis motif batik dan kerudung bergo warna hitam.
"Lira datang bawa temen Lira yang akan ngajar ngaji Nadia, bu."
"Ah... iya. Ini temennya, neng?" tanya Bu Maryam dengan menunjuk Adinda.
Adinda menggunakan gamis berwarna ungu muda dengan kerudung persegi yang cukup lebar berwana dusty pink.
"Iya, bu," jawab Lira.
"Assalamu'alaikum, bu. Saya Adinda teman Lira." sapa Adinda pada Bu Maryam.
"Wa'alaikumsalam, manis ya anaknya. Saya Maryam nenek dari Nadia. Yuk masuk."
"Maaf tapi Lira harus pulang gak bisa ikut masuk ke dalam jadi hanya antar Adinda saja. Lira sama keluarga mau ke Jakarta."
"Ya udah tidak apa-apa. Nuhun, Neng Lira."
"Sawangsulna, bu. Lira pamit. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Adinda masuk mengikuti Bu Maryam.
Bu Maryam mempersilahkan Adinda untuk duduk di ruang tamu sedangkan Bu Maryam ke dapur meminta pembantu untuk memberikan jamuan kepada tamunya. Bu Maryam harus mempersiapkan Nadia yang akan mulai kembali belajar ngaji sore ini.