Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Sesi Pelukan


__ADS_3

Sepulang bekerja, Irsyad mengambil minuman dingin di lemari pendingin dan langsung meminumnya.


"Ayah, kata bu uyu nda oyeh num beydiyi," tegur Nadia kepada Irsyad.


"Ha... ha... nah loh, masa kalah sama anak-anak. Gak boleh minum sambil berdiri, Irsyad."


"Kata bu uyu num beydiyi kaya capi, ayah."


"Bukan capi tapi sapi, anak ayah sayang."


"Iya capi."


"Sapi."


"Capi."


"Ha... ha... emang belajar sama bu guru udah sampai mana?"


"Tadi Iya biajay A, Ba, A, Ca."


"A, Ba, Ta, Tsa."


"Iya, Ayah. A, Ba, A, Ca."


"Gurunya cantik loh, A. Baik juga manis."


"Terus urusan sama Irsyad apa, mah?"


"Gak ada apa-apa. Mamah hanya sampaikan saja kalau itu gurunya Nadia. Namanya Adinda Nursyifa, sahabat dekat Lira."

__ADS_1


"Ya, mamah seolah-olah Irsyad itu akan tertarik gitu sama guru ngaji Nadia. Ceritanya berlebihan."


"A, jangan sering marah sama mamah atau sensi gitu sama mamah. Mamah kadang suka sakit hati kalau Aa kaya gitu. Mamah gak hanya mikirin kebahagiaan Aa, tapi juga Nadia."


"Ya mamah bahasnya gitu perempuan terus. Aku perlu waktu, mah."


Nadia sudah pergi ke ruang tengah dengan membawa boneka kesayangannya dan juga botol dot. Biasanya Nadia akan tiduran dengan memegang boneka dan juga botol dot di bibirnya dan akan tertidur dengan sendirinya. Itulah kebiasaan Nadia menuju tidurnya. Tak lupa televisi yang menampilkan kartun yang akan menemani Nadia menuju tidurnya. Mudah untuk membuat Nadia tidur asal boneka kesayangan tidak hilang.


Irsyad dan Bu Maryam masih berbincang di meja makan sedangkan Nadia asik sendiri.


"Aku butuh waktu untuk kembali membuka hati aku, mah."


"Mamah tahu, A. Tapi menurut mamah, Aa itu gak niat buat buka hati lagi. Gak ada usaha."


"Koq mamah ngomongnya gitu."


"Kalau Aa sholat emang harus laporan?"


"Terserah."


"Emang Aa udah lama gak sholat. Tuhan gak sayang sama aku, mah. Buktinya pas aku sayang banget sama Eva, Tuhan ambil Eva. Aku sholat aja Tuhan ambil Eva, kan?"


"Semua manusia pasti merasakan mati. Hanya waktu yang berbeda-beda. Allah ambil Eva ketika melahirkan Nadia karena itu waktu yang Allah tetapkan dalam mengambil nyawa Eva. Jangan sombong kamu, A. Orang sombong itu mencela dan menolak kebenaran. Dan itu, kamu A!" Tekan bu Maryam.


"Iya aku sombong, Mah."


Mata Bu Maryam berkaca-kaca, perih hatinya melihat sang anak terus terpuruk menghadapi kematian sang istri 3 tahun yang lalu.


"Tidak ada yang lebih sakit bagi mamah selain Aa terus terpuruk meratapi kematin Eva. Mamah sakit ketika Aa jauh dari Allah." Bu Maryam mengatakan itu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya yang sudah mulai keriput.

__ADS_1


Irsyad hanya bisa menunduk dia menyadari selama ini salah dan tidak ada niat bangkit dalam menghadapi kehidupan kedepannya.


"A, kalau Aa jauh dari Allah, bagaimana Aa akan memberikan pendidikan pada Nadia. Tanggung jawab Nadia itu Aa yang tanggung. Coba lihat Nadia, A!" Bu Maryam menunjuk ke ruang tengah. Di sana Nadia tertidur dengan botol dot yang sudah kosong dan masih digenggamnya.


"Apakah Aa akan tega menjadi contoh yang buruk untuk Nadia? Apakah Aa mau Nadia ikut terjerumus lalai seperti Aa saat ini?"


"Astagfirullah." batin Irsyad yang menyadari begitu besar kesalahannya. Bahkan saat ini Irsyad sudah membuat sang ibu menangis. Sungguh durhaka dirinya saat ini.


Irsyad melangkah menuju sang ibu yang tengah menangis tergugu. Irsyad memeluk Bu Maryam dengan erat.


"Maafkan Irsyad. Irsyad durhaka udah buat mamah nangis. Irsyad kehilangan pegangan. Bimbing Irsyad kembali, mah."


Bu Maryam semakin terisak dalam pelukan anak laki-lakinya.


"Mamah seneng Aa mau kembali memulai. Mamah gak nyuruh Aa buat melupakan Eva. Mamah hanya ingin Aa kembali seperti dulu."


Irsyad menganggukan kepalanya di pelukan sang ibu bahkan Irsyad pun menangis tergugu di pelukan sang ibu.


Acara nangis-nangis nya sudah selesai dan bu Maryam melepas pelukan anaknya.


"Sholat Isya dulu, A. Masih ingat kan niatnya?"


"Masih lah."


"Ha... ha... ha..." Bu Maryam tertawa sambil tangannya menghapus jejak air mata di pipi.


Sebelum beranjak ke kamarnya dan menjalankan sholat Isya, Irsyad terlebih dahulu mengangkat Nadia untuk memindahkan Nadia ke kamarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2