Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Menginap?


__ADS_3

Setelah berdebat dengan Adinda, Irsyad memilih pergi ke kamarnya. Waktu sudah  maghrib maghrib masih ada waktu untuk rebahan walau hanya sebentar. Ketika rebahan dirinya terpikir mengenai perdebatan di ruang tengah.


Anda galak, kata-kata itu terngiang jelas di ingatan Irsyad. Baru kali ini ada orang yang dengan terang-terangan mengatakan dirinya galak. Di pabrik sekalipun dengan sikap tegasnya, Irsyad tidak pernah mendengar ada yang mengatakan dirinya galak.


“Cantik sih, tapi sombong. Bagaimana bisa anak-ku nempel sama wanita sombong kaya dia.”


“Ngapain juga mikirin dia. Mamah juga sama seneng banget sama dia. Dia punya pelet apa?”


Irsyad bermonolog di kamarnya, tak henti mengumpat tentang Adinda. Baru pertama bertemu tapi api permusuhan seolah membentang. Itu bagi Irsyad, tapi berbeda dengan Adinda. Tidak ada permusuhan bagi Adinda. Adinda menghindar bukan karena sombong tapi syariat Islam mengajarkan agar interaksi wanita dan pria mencakup pada hal yang penting atau urgent. Maka hal-hal yang tidak penting perlu untuk dihindari.


“Harus menghindar dari dia khawatir dipelet.”


Dasar si Irsyad monolognya sangat tidak masuk akal. Katanya orang berpendidikan tinggi dan cerdas tapi ternyata menghadapi sikap Adinda saja mikirnya yang di luar akal. Tahu rasa kalau tersihir dengan sikap baik Adinda.


***


Waktu sudah masuk maghrib, Irsyad bangun dari rebahannya dan memilih untuk mengambil wudhu serta melaksanakan sholat maghrib di kamarnya. Irsyad memang sudah mau sholat tapi sangat disayangkan belum mau ke masjid.


Adinda sangat bersyukur ketika akan sholat maghrib, Nadia sudah mau lepas dari gendongannya dan Adinda memilih untuk membaringkan Nadia di kamarnya. Adinda sholat bergantian dengan Bu Maryam. Setelah sholat Bu Maryam mengajak Adinda untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang. Kasihan bila harus mencari makan di luar padahal matahari sudah masuk ke peraduannya dan berganti dengan gelapnya malam.


Adinda tidak menolak karena memang dirinya juga merasa lapar. Ternyata butuh tenaga yang ekstra dalam mengasuh Nadia ketika sedang sakit. Lagi pula kurang sopan sebagai tamu menolak sebuah jamuan.

__ADS_1


Ketika Bu Maryam dan Adinda tengah makan, Irsyad menuju dapur untuk mengambil minum. Irsyad hanya mendelik menatap Adinda dengan kurang suka.


“A, mau makan lagi gak?”


“Gak, ah. Masih kenyang yang tadi juga mah.”


“Nadia di mana, mah?”


“Ada di kamarnya. Jangan berisik dan jangan diganggu susah lagi nanti, A.”


Irsyad langsung menuju kamar Nadia untuk mengecek kondisi Nadia. Nadia terlihat mengkhawatirkan dengan badan yang panas, ingus yang tampak mengering di ujung lubang hidung serta terlihat hidung tersumbat hingga menyebabkan sulit untuk bernafas.


“Mau apa kamu ke sini?” Tanyanya dengan ketus. Irsyad tidak menyadari ternyata suaranya cukup keras dan ternyata itu membuat Nadia terbangun.


“Mau ambil tas. Saya mau pulang.”


Adinda melihat Nadia yang membuka matanya dan siap-sipa akan menangis. Tidak lebih dari 10 detik Nadia mengeluarkan suara tangisannya.


“Ini semua gara-gara kamu.”


Irsyad malah menyalahkan Adinda tidak menyadari bahwa itu kesalahnnya.

__ADS_1


Bu Maryam yang mendengar tangis Nadia bergegas ke kamar Nadia.


“Kata mamah juga apa tadi, A.”


“Bukan salah  Aa sih ini. Adinda ke sini jadi aja Nadia nangis.”


“Maaf, Dinda hanya ingin ambil tas.”


“Bu uyu... hiks... hiks...”


Adinda yang dipanggil bukan yang lain. Irsyad merasa sangat kesal kenapa Adinda lagi dan lagi. Adinda orang asing dan dirinya adalah ayahnya.


Adinda bergegas menghampiri Nadia dan berusaha untuk menggendongnya.


“Iya, apa yang sakit sayang?” Adinda mengelus-elus punggung Nadia dan mengecup Nadia berkali-kali. Dirinya berusaha menimang-nimang Nadia berharap Nadia bisa cepat tidur dan dirinya bisa cepat pulang.


“Kayanya Adinda menginap di sini saja deh?” saran Bu Maryam.


***


 

__ADS_1


__ADS_2