Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Bagaimana Kalau Dikenalkan?


__ADS_3

Setiap sore dari Senin hingga Jum'at adalah jadwal Adinda mengajar Nadia. Ingatlah bahwa Nadia bukan manusia dewasa yang dengan mudah diarahkan untuk mau belajar. Nadia hanya anak berusia 3 tahun yang berusaha diberikan pengajaran agama sejak dini. Bu Maryam sudah kapok memberikan pengajaran terkait dunia tanpa penyeimbang agama. Maka saatnya kini proses penyeimbang itu diterapkan kepada Nadia.


"Nadia sayang, kenapa gak mau belajar?" tanya Dinda.


Nadia mendelikkan matanya ke arah Adinda.


"Cape, bu uyu." Nadia menjawab dengan wajah ditekuk tapi itu membuat Adinda tertawa.


"Ha...ha... sekarang kalau gak mau belajar terus mau apa?"


"Au obo, antuk."


"Boleh bobo, bu guru juga gak larang Nadia buat bobo. Belajar dulu sebentar mau?" bu guru punya hadiah untuk Nadia."


"Au... au... Iya au, bu uyu. Apa adiah nya bu uyu?"


"Rahasia dong, harus belajar dulu."

__ADS_1


Ah, bukan hal mudah setiap hari harus membujuk Nadia, Tapi sebagai orang psikolog Adinda pasti tahu cara membujuk si cantik Nadia. Berbagai metode Adinda gunakan agar Nadia mau belajar. Belajar sambil bermain, itulah metode utama yang digunakan oleh Adinda. Anak usia 3 tahun bukan masa untuk belajar tapi masa bermain dan mengenal. Tidak memaksa itulah yang Adinda terapkan. Karena memaksa membuat anak semakin enggan untuk belajar bahkan bisa menyebabkan sang anak mengalami tatrum.


Sudah 5 hari Adinda mengajar Nadia. Setiap hari yang ada di rumah itu hanya Bu Maryam, Nadia dan seorang pembantu yang setiap sore akan pulang. Pembantu tersebut hanya datang ketika pagi dan pulang setelah sore.


Nampak sekali Nadia adalah anak yang kesepian. Jangan heran kalau Nadia akan memaksa sang nenek untuk membawanya bermain ke tetangga di perumahan tempat mereka tinggal.


"*Kalau siang bertiga dengan pembantu, malam juga bertiga dengan ayahnya Nadia."


"Sepi dong ya. Kasian Nadia gak tahu sosok ibu dan tidak mendapat kasih sayang sang ibu. Semoga Teh Eva Allah tempatkan di tempat terbaik karena wafat ketika berjuang melahirkan Nadia."


"Ayah Nadia yang ada di foto kelurga itu ya?" Tanya Dinda dengan menunjuk sebuah foto keluarga yang terpajang besar di dinding ruang tamu.


"Iya itu anak ibu juga ayah Nadia. Sedangkan yang satu lagi itu Aini anak ibu yang kedua. Aini saat ini kuliah di Yogyakarta. Yang satu lagi itu suami ibu tapi sudah meninggal dua tahun yang lalu lebih tepatnya satu tahun setelah Eva meninggal*."


Itu adalah percakapan Dinda dengan Bu Maryam ketika awal bertemu. Mengapa rumah tersebut sepi karena memang 3 penghuni tidak ada. Teh Eva dan suami Bu Maryam pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali. Sedangkan Aini pergi untuk menuntut ilmu.


Bu Maryam selalu memperhatikan ketika Adinda mengajar Nadia. Adinda begitu lembut dan penuh perhatian terhadap cucu nya. Walau baru 5 hari mengajar tapi nampak sekali bahwa Adinda penuh ketulusan. Nadia pun walau terkadang enggan untuk belajar tapi selalu tertawa ketika dengan Adinda. Bahkan di hari ke-5 Nadia sudah dekat dengan Adinda.

__ADS_1


"Enin, bu uyu ana?"


Enin itulah panggilan Nadia pada Bu Maryam. Dalam bahasa sunda nenek itu nini. Maka dari kata nini itu diambil depannya nin lalu ditambah E di depan jadilah Enin.


"Bu uyu belum datang, sayang, nanti sore datangnya. Sekarang Nadia tidur siang dulu, ya."


Hari masih siang saja Nadia sudah menanyakan Adinda. ketulusan Adinda ternyata mampu menghipnotis Nadia.


Ya, Adinda lebih tepatnya dicari untuk diajak bermain tapi ketika akan memulai belajar Nadia malah merengek gak mau. Dasar anak-anak perlu beribu cara untuk meluluhkannya.


"Bu uyu ama ah."


"Kalau nunggu bu gurunya sambil tidur gak akan kerasa lama. Mending tidur dulu sebelum bu guru datang."


Nadia menganggukan kepalanya dengan kaki mungilnya mulai berjalan menuju kamarnya.


Setelah Nadia tidur Bu Maryam berpikir bagaimana kalau Irsyad dikenalkan dengan Adinda.

__ADS_1


__ADS_2