Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Pikiran Menikah Lagi


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat. Adinda merasa hatinya tidak nyaman belakangan ini tapi juga ada rasa yang bisa membuat dirinya tersenyum sendiri.


Pagi itu dimana ketika dirinya menginap di rumah Bu Maryam ternyata berdampak hingga seminggu berlalu. Adinda terus terpikir dengan Irsyad yang pada pagi itu menggunakan koko berwarna coklat muda dengan sarungnya. penampilan yang menyejukan menurut Adinda itu ternyata berhasil meluluhkan hati Adinda.


Irsyad memang bukan pria yang memiliki wajah keturunan luar negri. Wajah Irsyad asli Indonesia. Hanya saja Irsyad pria dengan struktur tubuh tinggi, wajah sedikit oval dan badan yang standar, artinya gemuk tidak kurus pun tidak. Wajah Irsyad pun tidak mulus dikarenakan ada beberapa jerawat yang tumbuh di wajahnya. Hingga wajahnya nampak sedikit merah. Kulitnya pun tidak terlalu putih standar kulit Indonesia. Gelap tidak, putih pun tidak.


Irsayd memang banyak digandrungi oleh beberapa wanita, tapi hampir semua mundur ketika mengetahui status Irsyad adalah duda dengan anak satu. Beberapa karyawan baru di tempatnya bekerja, ada yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa Irsyad tampan dan berwibawa.


Kali ini seorang wanita berhijab dengan status guru dari anaknya juga ikut tertarik. Belakangan ini Adinda entah mengapa ada perasaan ingin kembali bertemu dengan Irsyad apabila mengajar Nadia. Tapi sangat disayangkan, selama satu minggu ini keduanya tidak pernah bertemu.


“Bu, A Isryad memang selalu pulang malam ya?”


Entah mengapa topik perbincangan Adinda kali ini malah ingin membahas Irsyad bukan Nadia.


“Pulangnya sebenarnya sore dan sampai rumah habis maghrib.”


“Oh, Soalnya hanya ketemu pas Nadia sakit aja.”

__ADS_1


“Iya waktu itu pulang cepat karena meminta izin sama bos nya. Hari-hari biasanya pulang sore karena harus lembur wajib. Si Aa juga harus ikutin beberapa perintah bos nya jadi ya gitu kadang juga ada pulang malam.”


“Memangnya posisinya sebagai apa?”


“Sebagai asisten direktur. Jadi Direktunya itu punya dua asisten. Satu asisten orang asing dan satunya orang Indonesia dan itu si Aa.”


Adinda hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Tidak kembali bertanya karena memang jantungnya semakin menggila ketika membahas Irsyad.


Sedangkan di tempat lain, Irsyad semakin teringat dengan isi tausiyah yang membahas tentang menikah. Belakangan ini Irsyad beberapa kali menonton tayangan sebuah aplikasi video dengan kata kunci tausiyah menikah. Tingkat Halu Irsyad semakin menjadi saja. Beberapa kali Irsyad memikirkan tentang kembali memiliki pendamping hidup. Irsyad pun ternyata bimbang karena di hatinya masih bercokol nama Eva. Di lain sisi dirinya juga duda dengan anak satu, maka sudah bukan memikirkan diri sendiri tapi juga anaknya. Bila ada niatan untuk menikah lagi maka hal pertama yang harus dipikirkan adalah putrinya.


Dalam pikiran Irsyad entah mengapa wajah Adinda yang sedang mengelus-elus punggung putrinya menjadi sebuah bayang-bayang yang belakangan membayangi pikiran Irsyad. Walau pun dalam pandangan Irsyad Adinda itu sombong, tapi menurutnya Adinda ini cocok untuk dijadikan ibu untuk Nadia tapi mungkin tidak dengan istri. Menurutnya sikap Adinda bertolak belakang dengan sikap dirinya.


 Irsyad sedang di kantin pabrik sedang menikmati makan siang di jam istirahat.


“Biasa aja.”


“Lu banyak ngelamun waktu Eva gak ada. Jadi maklum sih gua aneh karena sekarang lu ngelamun lagi.”

__ADS_1


“Gak papa sih.”


“Lu kaya laki kurang belaian.”


“Jelas gua kurang belaian. 3 tahun gua puasa.”


“Makanya nikah lagi. Cari perawan biar dua kali lo rasain perawan.”


“Jey otak lu perlu gua bersihin.”


“Gua gak kotor, Cuma kasih saran.”


“Terserah lu dah. Gua juga masih terbayang Eva.”


“Terserah sih. Mumpung masih muda dan anak lo juga mumpung masih kecil.”


“Lu ternyata kaya emak gua.”

__ADS_1


Irsyad cepat-cepat menghabiskan makannya. Percakapan kali ini kurang nyaman. Dirinya merasa khawatir ada orang lain yang mendengar karena baginya pembicaraan tersebut adalah pembicaraan yang tidak sepatutnya didengar oleh banyak orang.


__ADS_2