
Bu Maryam membawa Adinda ke kamarnya. Bu Maryam ingin pembicaraannya kali ini tidak di dengar oleh orang lain kecuali Adinda. Bu Maryam mengajak Adinda untuk duduk di pinggiran ranjang.
“Neng,” panggil Bu Maryam.
“Iya, bu,” jawabnya.
“Tadi A Irsyad bilang apa?”
“A Irsyad meminta Adinda untuk menjadi pengganti teh Eva.”
“Neng, jawab apa?”
“Saya meminta A Irsyad untuk menemui orang tua saya, bu?”
“Berarti belum dijawab iya atau tidak?”
Adinda menganggukan kepalanya. Dalam dirinya Adinda memang menyukai Irsyad. Hatinya senantiasa bergetar ketika nama Irsyad disebut. Bahkan bagai gayung bersambut, ketika Adinda meminta kepada Allah mengenai jawaban perasaannya, Irsyad mengutarakan bahwa ingin menjadikan Adinda sebagai pengganti Eva yang artinya menjadi istri juga ibu sambung untuk Nadia.
“Adakah harapan untuk A Irsyad?”
“Jujur,bu. Sebenarnya Dinda suka dengan A Irsyad. Waktu Adinda menginap waktu itu, Adinda mulai suka dengan A Irsyad. Tapi maaf, kemungkinan Adinda tidak bisa menerima A Irsyad.”
__ADS_1
“Kenapa, neng?”
Mata Bu Maryam mulai berkaca-kaca dan itu membuat Adinda merasa bersalah. Adinda pun berat untuk menolak Irsyad sebenarnya. Tapi ketika Irsyad ingin menjalin kasih terlebih dahulu Adinda langsung berniat untuk menolak. Adinda mencari pria sholih. Bagaimana Irsyad akan membimbingnya bila sekarang saja sudah mengajak pada sebuah kemaksiatan?
“Ada alasan tersendiri kenapa Adinda menolak, bu.”
Biar ini menjadi rahasia Adinda mengenai alasan penolakannya. Adinda tidak ingin Bu Maryam atau pun yang lainnya merasa tersakiti dengan alasan penolakannya.
***
Adinda Pov
Tiba-tiba bu Maryam menggeggam jemari tanganku dengan erat. Air matanya sudah menganak sungai di pipi yang sudah tak kencang lagi.
Aku menangis dan berusaha untuk menghapus air mata di pipinya dan Bu Maryam malah semakin terisak dengan sikapku ini.
“Ibu ingin Nadia memiliki seorang ibu yang akan menyayanginya. Dari bayi dia tidak pernah tahu sosok ibunya. Hanya dari foto dia tahu sosok ibunya. Kenapa Nasib Nadia seperti itu? Dia harus kehilangan sosok ibu bahkan ketika matanya belum lama melihat dunia.”
Bu Maryam semakin erat menggenggam jemari tanganku, bahkan yang paling memilukan tetesan air matanya jatuh membasahi tanganku. Hatiku semakin perih melihat orang tua ini memohon demi cucu nya.
“Kadang Nadia memanggil Aina tantenya dengan sebutan mamah, kadang juga tante dan itu membuat Aina sering menangis melihat nasib Nadia yang tak memiliki seorang ibu. Tak ada setetes air ASI yang masuk ke mulut mungilnya. Ibu Eva pun sama meminta Irsyad menikah lagi.”
__ADS_1
“Kenapa Adinda, bu.”
“Ibu percaya bahwa Adinda akan dengan tulus merawat Nadia. Nadia nempel banget sama kamu, bahkan seolah-olah kamu ibunya. Ibu udah sepuh dan udah gak bisa maksimal untuk merawat Nadia. Ibu juga udah sering sakit-sakitan kadang juga mudah cape.”
“A Irsyad memang masih mencintai Eva, tapi lambat laun pasti bisa cinta sama neng juga.”
“Bukan itu masalahnya, bu?”
“Lalu apa?”
“Dinda perlu istiqarah dulu, bu.”
“Lakukanlah.”
Bu Maryam memeluk ku dengan erat. Tangisnya semakin pecah dalam pelukan ku.
“Neng, ibu mohon pertimbangkan dengan matang. Ibu memang egois memaksa kamu untuk mau menerima A Irsyad. Ibu hanya ingin kelak ketika ibu tutup usia akan ada yang dengan tulus membersamai keluarga ini.”
Aku pun menangis terisak. Aku ingat mamah di rumah dan teringat adik-adik yang masih kecil. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bila ayah atau ibu pergi untuk selama-lamanya dan bagaimana aku akan menenangkan adik-adik ku? Bagaimana aku akan menjawab pertanyaan ketika mereka bertanya, ‘Mamah mana?’ atau bertanya, ‘Ayah mana?’. Tak pernah kubayangkan wanita yang sudah tidak muda lagi ini menangkan Nadia?
“Mamah...!!!”
__ADS_1
Ku dengar teriakan dari luar kamar Bu Maryam dan itu suara Irsyad.
“Mamah, Nadia muntah-muntah...!!!”