
Tak pernah disangka dalam sejarah hidupnya bahwa Adinda akan menyukai seorang duda. Selama ini dirinya selalu menyugesti hatinya bahwa pria yang belum pernah menikah dirasa lebih pantas menjadi pendamping hidupnya. Penampilan yang sederhana dengan baju koko saja bisa meluluhkan hati seorang Adinda.
Adinda ingin bercerita kepada mamah nya. Hatinya sudah semakin kacau dan ini berpengaruh pada skripsi. Adinda menjadi lalai hanya dengan sebuah rasa yang belum pasti. Karena Adinda memnag belum pasti yang akan menjadi pendamping hidup seorang Aiman Irsyad putra.
Menelpon mamahnya malam ini menjadi solusi untuk bercerita mengenai perasaannya.
“Mah, teteh ngajar ngaji seorang anak kecil usia 3 tahun. Anak tersebut mamahnya sudah meninggal karena mengalami pendarahan ketika melahirkannya. Kasihan ya, mah?”
Di seberang telpon sang ibu menyahut.
“kamu harus banyak bersyukur karena masih punya ayah dan ibu yang masih lengkap.”
“Iya, mah Alhamdulillah. Hanya saja teteh rasanya punya masalah setelah dua bulan ini ngajar anak itu.”
“Masalahnya apa, teh?”
“Aku suka sama ayahnya.”
“Astagfirullah. Kamu suka sama duda, teh?”
“Duda rasa perjaka mah.”
“Ssstttt... ngomong kamu, teh. Ngomong masalah perjaka, emang kamu tau apa itu perjaka?”
__ADS_1
“Maksud teteh kaya orang yang belum pernah menikah gitu, mah.”
“Jangan lihat penampilan, teh.”
“Gak tau, mah. Teteh tiba-tiba suka sama A Irsyad waktu lihat A Irsyad pake baju koko habis solat waktu itu.”
“Oh... jadi namanya Irsyad, teh. Walah suka sama A Irsyad ternyata.”
“Ih... mamah malah ngeledek teteh.”
“Emang kamu siap nikah sama duda, teh?”
“Entahlah, mah.”
“Inget loh, teh. Kalau teteh mau sama dia, teteh harus siap gak hanya dengan dia tapi juga harus siap nerima anaknya. Intinya menikahi duda dengan anak gak akan sama menikah dengan yang perjaka. Emang Irsyad nya suka sama, teteh?”
“Boleh kalau ada calonnya.”
“Teteh sebenarnya bingung, mah. Apa teteh harus berhenti jadi guru ngaji anaknya atau teteh mengutarakan ingin menikah dengannya. Intinya teteh gak mau zina hati.”
“Istiqarah, teh. Mintalah petunjuknya sama Allah. Allah pasti kasih teteh solusi.”
“Terima kasih, mah. Ayah mana, mah?”
__ADS_1
“Ada lagi nonton Tv, mau ngobrol sama Ayah? Atau mau cerita juga sama Ayah?”
“Gak. Ceritakan sama mamah.”
“Oke anak mamah anu geulis. Jangan terlalu banyak dipikirkan mending pikirkan skripsi kamu sudah sampai mana?”
“Alhamdulillah semoga dua minggu lagi beres dan semoga acc buat ikut sidang gelombang satu.”
“Aamiin. Mamah mendoakan selalu teteh di sini. Jangan lupa tiga minggu lagi pulang adik mamah mau nikah.”
“Oke siap.”
Telpon ditutup setelah mengucap salam. Setelahnya Adinda ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Benar kata ibunya, Allah tidak pernah memberikan masalah tanpa solusi. Solusinya adalah meminta petunjuk untuk diberikan pilihan terbaik. Lambat laun pasti akan ada jawabannya yang terpenting sabar dan tidak terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Menikah tidak seperti perjalanan menyusun skripsi yang kesalahannya masih bisa diperbaiki tapi menikah adalah menyatukan dua keluarga. Menyatukan dua isi kepala yang berbeda serta siap hidup bersama hingga maut menjemput.
***
Sesampai di rumah setelah lelahnya seharian bekerja, Irsyad melihat Nadia dengan baju muslim barunya.
“Wah, anak ayah pake baju baru.”
“Iya, yah. Ata bu uyu ayus utup uyat.”
__ADS_1
“Bukan utup uyat tapi menutup aurat, sayang.”
Irsyad langsung memangku Nadia dan memberikan kecupan di pipinya berkali-kali. Selama ini tidak dirinya minim memberikan pengetahuan agama pada Nadia tapi Dengan Adinda bahkan Nadia beberapa kali memberikan nasehat kepada ayah nya itu.