
“Nikah dengan aku, Adinda!”
Saya mengucapkan itu dengan sebuah keberanian yang sudah aku persiapkan beberapa hari lalu. Saya memang tidak memiliki rasa kepada Adinda. Mamah yang merekomendasikan Adinda untuk menjadi calon istri.
Kata mamah Adinda itu orangnya care, lembut, penyayang dan juga bagus dalam persoalan agama. Mamah ingin sekali memiliki menantu seperti Adinda itu. Awalnya saya menolak, karena rasanya saya tidak pantas untuk berdampingan dengan Adinda. Saya merasa saya adalah pria yang modern sedangkan Adinda adalah wanita yang kolot.
Berbeda sekali dengan Eva. Eva adalah penyeimbang saya. Eva wanita modern dengan pergaulan yang apik, artinya mudah bergaul baik dengan pria maupun wanita, tapi masih menjaga batasan. Berbeda sekali dengan Adinda yang sepertinya terlihat hanya berteman dengan wanita saja tanpa ada pria. Bagaimana akan mudah berkomunikasi dengan saya setelah menikah kalau sekarang saja segalanya dibatasi?
Di lain sisi saya juga kurang suka pada Adinda yang sikap nya ternyata semena-mena. Dia berani mengusir saya ketika berada di kamar Nadia. Bagaimana dengan rumah tangga saya nanti.
Kalau mamah bukan menekankan persoalan Nadia. Mungkin saya akan memilih rekan kerja saya yang akan menjadi pengganti Eva agar komunikasi dalam rumah tangga nyambung dan juga berjalan dengan baik.
Lagi-lagi Nadia yang menjadi pertimbangan hingga saya mengalah dan mengikuti saran mamah. Untuk persoalan rumah tangga saya ikuti alurnya saja. Intinya kumaha engke wae.
“Bercanda, pak?”
Dia bilang saya bercanda? Saya sudah mengumpulkan keberanian dan diskusi sama mamah, ini malah dibilang bercanda.
“Apakah saya terlihat seperti para komika?”
“Tidak,” jawabnya.
“Apakah saya terlihat seperti para tukang bodor di televisi?”
“Tidak. Bagi saya ini mendadak.”
__ADS_1
“Mumpung kamu belum punya calon.”
“Koq bisa tahu?”
“Dari mamah.”
“Temui orang tua saya, pak. Maaf saya permisi.”
“Mau kemana kamu?”
“Saya mau pulang karena kedatangan saya k sini untuk mengajar Nadia dan Nadia nya tidur. Jadi saya tidak memiliki tugas apa-apa lagi, pak.”
“Kamu belum jawab permintaan saya.”
“Saya sudah jawab, temui orang tua saya.”
“Maksudnya?”
“Saya tidak bisa menikah dengan orang yang belum saya kenal. Saya belum mengenal kamu lebih dalam.”
“Terus buat apa ngajak saya nikah kalau begitu?”
Nampak sekali bahwa Adinda ini kesal dengan ucapan saya barusan. Ya, saya akan menikah dengan Adinda tapi saya perlu mengenal Adinda lebih dalam lagi. Saya gak mau salah pilih. Apalagi di zaman sekarang banyak wanita yang menutup auratnya dengan rapat tapi banyak bermaksiat. Memang bukan salah hijab yang dipakainya tapi tingkah lakunya. Saya pun demikian ingin mengenal prilaku Adinda lebih dalam lagi.
“Saya ingin kita menjalin kasih terlebih dahulu untuk lebih saling mengenal satu sama lain sebelum menuju pernikahan.”
__ADS_1
“Maaf, pak saya tidak bisa melakukan hal demikian itu. Tidak ada jaminan orang yang menjalin kasih atau berpacaran bisa mengetahui banyak tentang pasangannya. Kita bisa saling mengenal setelah menikah nanti.”
“Saya takut rumah tangga bubar, Din.”
Banyak rumah tangga bubar karena tidak saling mengenal lebih dalam pasangannya. Saya tidak ingin rumah tangga saya bubar. Cukup dua kali menikah saja dengan Eva dan satu wanita lagi yang kemungkinan wanita
itu adalah Adinda.
“Terserah, anda.”
Tak lama mamah datang dengan membawa minuman dingin dan toples kue kering. Mamah belum tahu kalau saya sudah mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Adinda sebagai menantunya.
“Mah, Aa sudah bilang mengenai percakapan kita minggu lalu dengan Adinda.”
Saya lihat Adinda pada wanita itu menundukan kepalanya. Saya pastikan Adinda gugup atau menyembunyikan kekesalannya.
“Percakapan yang mana?”
“Mamah suka pura-pura lupa.”
“Terus bagaimana?”
“Tanya langsung orangnya saja, mah.”
“Din, bisa bicara hanya berdua saja.”
__ADS_1
Entah saya tidak tahu. Mamah membawa Adinda ke dalam rumah. Saya juga tidak tahu keduanya akan membicarakan persoalan apa? Saya tetap memilih di bawah pohon mangga dengan Nadia di pangkuan saya yang tertidur.