Bukan Kisah Cinderella

Bukan Kisah Cinderella
Pertama Bertemu


__ADS_3

Terangnya mentari sudah mulai meghilang dan tergantikan oleh sang jingga. Terangnya siang akan tergantikan oleh gelapnya malam.


Adinda telah selesai mengajar dan memutuskan untuk langsung pulang ke kost. Bersyukur dirinya, karena tidak bertemu dengan sang duda keren.


Semenjak Lira bercerita tentang sang duda, rasanya canggung untuk bertemu. Hati perempuan yang memang tabiatnya mudah terbawa perasaan menjadikan Dinda ada rasa deg-degan dalam mengajar. Ada rasa yang tidak bisa dilukiskan ketika mengetahui Irsyad berada di rumah dan tidak bekerja. Perlu diketahui bahwa ini bukan rasa cinta hanya sebuah rasa yang tidak bisa


dilukiskan.


 ***


Setiap hari dilalui dengan aktivitas seperti biasa, menyusun


skripsi, mencari referensi, membaca buku dan juga mengajar Nadia.


Tak terasa sudah satu bulan Adinda mengajar Nadia. Dirinya semakin dekat setiap harinya dengan si cacing kecil kurang air – Nadia. Adinda bahkan sudah seperti pengasuh yang setiap hari ketika mengajar, Nadia akan menempel terus kepadanya dan parahnya terkadang Adinda dilarang pulang dan diminta untuk menemani bermain.


Sang nenek selalu memberikan pengertian bahwa bu guru harus pulang karena hari akan beranjak malam. Adinda harus tetap meninggalkan Nadia walau terkadang Nadia menangis dengan kepulangan Adinda. Menginap, itu sangat tidak mungkin karena kondisi rumah besar tersebut  ada seorang pria yang berstatus duda di dalamnya yang bisa saja akan menimbulkan fitnah di tengah-tengah masyarakat


sekitar.


 ***


Bu Maryam hari ini sangat kerepotan karena Nadia mengalami demam disertai batuk dan pilek. Bahkan ditengah terik matahari pun Bu Maryam melajukan mobilnya untuk membawa Nadia ke sebuah klinik terdekat dari komplek tempat tinggal. Seharian Nadia tidak mau lepas dari gendongan sang nenek bahkan


untuk ditidurkan di kasur saja, Nadia akan menangis.


“Assalamu’alaukim.”


“Wa’alaikumsalam.”

__ADS_1


Bu Maryam keluar dari dalam rumah dengan Nadia


digendongannya.


“Astagfirullah, maaf ibu lupa. Tadi ibu mau mengabarkan


kalau hari ini Nadia gak ngaji dulu.”


“Oh, tidak apa-apa. Nadia sakit apa sayang?” Adinda mengelus kepala Nadia yang tengah menyenderkan kepalanya ke dada sang nenek.


“Maaf ibu mau minta tolong dulu. Ibu belum sholat dzuhur


bahkan ini sudah setengah 3, Astagfirullah. Nadia gak mau lepas bahkan sama bibi aja gak mau. Kira aja sama neng mau, ya.”


“Iya boleh.”


Tidak disangka oleh Dinda bahwa ternyata Nadia mau bahkan dengan sukarela mengulurkan tangannya untuk digendong oleh Dinda.


Bu Maryam langsung bergegas untuk melaksanakan sholat dzuhur karena sebentar lagi akan memasuki waktu sholat ashar. Setelah selesai dari sholatnya, Bu Maryam langsung menemui Adinda dan berniat kembali mengambil Nadia. Tapi ternyata Nadia tidak mau lepas dari gendongan Adinda.


“Aduh maaf ya, neng. Bapaknya belum pulang sih, kalau sudah pulang pasti mau sama bapaknya. Ibu sudah sakit punggung ini harus digendong terus Nadia nya. Neng habis ini ada jadwal lagi gak? Maaf ibu merepotkan.”


“Tidak. Setelah ini Adinda kosong jadwalnya.”


Adinda mengelus-elus kepala Nadia dengan sayang dan itu tidak luput dari perhatian bu Maryam. Bu Maryam tersenyum dengan kebaikan hati Adinda karena nampak tidak ada keterpaksaan bahkan yang ada ketulusan. Dalam hatinya ingin sekali Irsyad bisa menikah dengan Adinda.


“Assalamu’alaikum.”


Tiba-tiba terdengar suara ucapan salam dari luar. Adinda

__ADS_1


terperangah karena kaget dengan suara itu. Ah, itu suara pria mungkin saja itu ayahnya Nadia pikirnya.


Bu Maryam lantas berjalan hendak membuka pintu tapi sebelum sampai pintu, orang itu sudah masuk. Adinda yang berada di ruang keluarga jelas mendengar percakapan kedua orang tersebut yang tengah berada di ruang keluarga.


“Wa’alaikumsalam. Tumben pulang cepet, A?”


Ah, benar saja pria itu adalah ayahnya Nadia atau si duda


yang katanya duda keren. Selama sebulan mengajar Nadia tidak pernah bertemu dan hari ini dapat dipastikan bertemu.


“Aa pulang cepet denger kabar Nadia sakit, mah. Mr. Lee hari ini gak ada jadwal lagi jadi Irsyad ijin gak ikut lembur wajib dan Alhamdulillah dikasih ijin. Sekarang Nadia nya mana, mah?”


“Ada di ruang tengah lagi sama gurunya.”


Irsyad langsung menuju ruang tengah dan mendapati seorang wanita menggunakan gamis hitam dengan kerudung berwarna peach sedang menggendong anaknya.


“Hy, Sayang ayah, gedong ayah yuk.”


Irsyad terlampau cuek kepada Adinda, dia tidak menyapa


Adinda yang tengah menggendong anaknya bahkan seolah tidak menganggap bahwa ada orang lain di sana.


“Maaf akan lebih baik bapak mandi dulu baru setelah itu


gendong Nadia.” Adinda berbicara dengan sopan walau jantungnya deg-degan lebih cepat dari biasanya karena baru kali ini melihat ayah dari anak yang dididiknya.


Benar, Irsyad duda dengan anak 1 tapi itu tak terlihat bahkan bagi orang yang tidak mengenal Irsyad pasti beranggapan bahwa Irsyad seorang


bujangan.

__ADS_1


***


Terimakasih kepada yang sudah membaca. Saya berniat posting cerita baru lagi dengan judul Berawal dari London (Kisah Istri Simpanan). Tapi nunggu pembacanya cerita ini naik dulu


__ADS_2