BUKAN SEKEDAR DIKSI

BUKAN SEKEDAR DIKSI
Hari Yang Bermasalah


__ADS_3

"Thanks." ucap Yuma kedua kalinya pada orang yang telah menolong nya. yuma hanya bisa pasrah karena pakaian yang dipakainya sedikit kotor dan basah.


Baru saja Yuma ingin mengatakan sesuatu pada orang di sampingnya, orang tersebut sudah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yuma mungkin kesal namun sekaligus berterima kasih karena telah membantunya.


Untung saja botol minum yang dibeli Yuma, terlihat masih baik-baik saja, berhubung yuma sudah lama meninggalkan teman-temannya. Yuma pun berpikir memutuskan untuk mendatangi teman-temannya yang mungkin sudah menunggu keberadaannya karena dirinya pergi cukup lama.


Yuma berjalan menjauh dari tempat ia terjatuh, sorot mata tajamnya masih melihat banyak sekali orang-orang yang sedang berolahraga namun kebanyakan memainkan ponsel dan berfoto. Yuma tidak peduli maupun berkomentar dengan orang-orang yang berfoto namun tetap saja ia tersenyum saat tidak sengaja melihat seseorang berfoto dengan gaya yang tidak wajar.


Sedangkan tangan kanannya yang sedikit kotor sisa dirinya terjatuh sedang memegang plastik bening bercorak smile. Berisi 3 botol air minum yang dibelinya. Kantung kresek yang dipegangnya pun ia angkat dan arahkan ke depan wajahnya setinggi mata. Seperkian detik pun ia pun menurunkan kembali. Sungguh kaget, betapa tidak disangkanya Tia dengan raut wajah kesalnya dan Indah dengan raut wajah yang ceria. Memiringkan kepalanya lalu tersenyum lebar kepada Yuma.


"lo malah bikin gue dehidrasi yum." sindir Tia yang sedikit kesal karena Yuma begitu lama sekali. tangan pun ia silangkan di badannya sambil menghembuskan nafasnya dan terakhir momoyongkan bibirnya.


"Baju Yumma kenapa ko.." ucap Indah memindai penampilan dari teman di depannya, sambil membenarkan kacamatanya barangkali dia salah lihat.


Lagi-lagi mungkin sudah menjadi kebiasaan yuma. Menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil mengeluarkan senyum dengan gingsul yang terlihat manis. Yuma sebenarnya tidak suka ketika orang membicarakan giginya, seperti mengatakan gigi gingsulnya manis. Yuma lebih suka mengklaim menamai giginya, dengan nama gigi yang tak rata bukan menyebutkannya dengan gingsul. Jika Indah mendengar perkataan Yuma mungkin sudah menjadi perdebatan diantara dirinya dan temannya yang selalu memakai kacamata.


"Baru aja gue mau ke sana!" Yuma menyodorkan botol minum kepada dua temannya. Lalu dia pun memegang botol minum miliknya.


"Memang sengaja ke sini. Sekalian pulang, lagian gue gak sanggup kalau muterin lapangan lagi." Tia membuka tutup botol air tersebut dan mengangkat bahunya seolah mengatakan tidak mau, lalu meneguk botol air yang ada di tangannya.


"Eh itu sep ... " tunjuk indah pada laki-laki yang berada tidak jauh di samping kirinya. Yuma dan Tia yang mendengar suara Indah yang meneriakkan nama seseorang akhirnya mencari orang tersebut dengan cara mengikuti sorot mata temannya.


Yuma akhirnya mengakui pernyataan Tia yang mengatakan bahwa temannya yang selalu memakai kacamata kucing itu penebak yang jitu. Karena awalnya yuma sempat keheranan mengapa perkataan dan dugaan indah selalu saja benar tidak meleset. Yuma yang terlalu fokus dengan pertanyaan di benaknya. Tidak mengetahui bahwa laki-laki yang tadi sempat di liriknya sudah berada di depannya.


"Menurut pandangan indah. Semua kebaikan Kakak selama sekolah adalah pencitraan! Namun jika Kakak menolong orang lain disini, akan indah ubah presepsi indah." ucap gadis berkacamata pada pria di depannya.


Seorang pria yang diajak bicara oleh Indah, seperti sebuah berlian yang berkilau di dalam lumpur. tentu saja berlian itu menarik perhatian indah. bagaimana tidak menarik, jika pakaian yang dikenakan nya begitu berbeda sekali dari orang-orang yang berada di tempat itu. Hal menarik lain dari pria itu ialah dia membawa sebuah tas berwarna hitam dan memakai pakaian yang panjang seperti style yang sedang marak di kalangan remaja sekarang.


Yuma yang melihat itu pun hanya tersenyum kepada pria yang tadi sempat ditanyain oleh temannya, Sedangkan Tia entahlah yuma tidak begitu memperhatikan dia, karena terhalang oleh indah yang berada di tengah-tengah antara dirinya dan Tia.


"Jadi gini kak, boncengan bertiga kan berbahaya. jadi maukah Kakak mengantarkan salah satu dari teman terbaik indah." Menekankan kata teman dan melirik pada Tia


"Lo....!" parau Tia menginjak kaki indah dan memalingkan wajahnya


"Tanpa Lo minta dan dengan senang hati pasti gue akan anterin pacar gue." jawab pria itu menyakinkan permintaan dari gadis berkacamata di depan nya.


Yuma yang melihat temennya yang selalu memainkan tangannya. Refleks beredem seolah ia sedang membenarkan kerongkongannya namun terhenti oleh ucapan pria di depannya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke sini mungkin nanti aku bisa jemput." tanyanya pada gadis yang sejak tadi hanya diam. Tote bag hitam yang merosot pun ia naikkan ke pundaknya.


Hal itulah yang membuat yuma dan indah menjadi senang menggoda Tia. Ya bagaimana tidak senang. Saat temannya yang terbilang super aktif mendadak diam membeku bahkan Yuma merasa lebih parah dari sifatnya. Berapa kali sorot matanya selalu berpindah-pindah seakan mengalihkan dari satu pandangan ke pandangan lainnya. Yuma tahu bahwa temennya sangat bahagia hanya malu mengekspresikannya saja. Yuma sedikit bergeser untuk melihat bagaimana ekspresi dari temannya.


Yuma sangat penasaran sekali, namun ya dia kembali lagi ke posisi awalnya karena teman yang dilihatnya mencoba mengalihkan pandangan.


"Gak niat kesini, kalau nggak dipaksa terus Yuma. Pasti aku nggak akan ke sini." ucapnya menuduh yuma, menyembunyikan fakta bahwa dirinya lah yang memaksa teman-temannya ikut.


Awalnya gadis dengan poni dan rambut di gelung asal itu. Tidak ingin berbohong dan menuduh Yuma, namun melihat ada pacarnya dengan reflek dia pun mengatakan hal itu.


Tia tidak ingin pacarnya berpikir dirinya yang mengikutinya. Karena Tia bersumpah, fakta dan kenyataannya. Memang benar dirinya tidak merencanakan apapun hanya ingin bersenang-senang bersama temannya sambil berolahraga.

__ADS_1


"Gue? loh..." ucap Yuma keheranan, namun melihat tatapan tajam Tia dengan senyum dipaksakannya cuma pun mengerti dan menyiakan perkataan Tia


"kalau gitu Indah duluan ya Kak, ayo yum?" Indah melangkah dan menarik lengan yuma agar mengikutinya.


"jangan mampir-mampir kak bahaya." teriak yuma dan indah menggoda temannya. Teriakan tersebut membuat Tia membalikkan penglihatannya ke belakang dan mengangkat tangannya yang terangkat membentuk peringatan.


Sementara yuma dan indah yang melihat peringatan tersebut hanya bisa tersenyum dan berlari ke arah parkiran dengan membawa botol minum di tangannya masing-masing.


...****************...


"Yum, kayanya gue kayak kenal dengan jaket yang lo pake." teriak indah kesekian kalinya. Karena yuma hanya mengatakan hah hah tidak mendengar perkataan dari indah yang berada di depannya mengendarai motor.


"Nggak, itu loh teman lo. pantas aja dia ngebat. ternyata memang ada maksud tertentu" ucap indah dengan suara yang sedikit keras dan tawa.


"Eh kenapa kok berhenti? lo mau nyari makan dulu?" yuma keheranan karena temannya menghentikan motornya. Rambut belakang dari indah pun selalu dia benarkan agar tidak mengganggu pandangan matanya.


"Ya udah kita dorong aja mungkin di depan sana ada barangkali ada tambal ban." tawar yuma pada temannya setelah melihat ban motor temannya mengalami sedikit kendala.


"Indah ga yakin kalau di depan ada tambal ban." ucapnya dengan keragu-raguan.


Yuma bingung dengan indah mengapa dirinya tidak langsung mendorong motornya. Terlebih lagi dirinya selalu melihat ke belakang (jalan-jalan yang sudah di lalui nya) dan mengatakan barangkali ada tambal ban yang buka.


"Kenapa? Ayo nyoba aja ke depan barangkali memang benar ada." ucapnya meyakinkan temannya. Standar pun ia lepaskan lalu mencoba mendorong motor temannya.


"Ya udah deh apa boleh buat." balas indah yang pasrah dan menuruti perkataan Yuma. Indah mengambil alih motor tersebut, masih dibantu dengan yuma yang mendorongnya dari belakang.


Tidak jauh memang motor yang didorongnya sudah berpindah beberapa langkah dari posisi awal mereka berhenti. Masih untung motor tersebut ada pergerakan maju untuk sampai pada tempat yang akan dituju. Namun secara tiba-tiba dua motor besar menghampirinya. Yuma merasa dirinya seperti berada di sebuah novel yang pernah ia baca. Wajar saja jika yuma berpikir seperti itu, karena baru mengalami hal tersebut secara nyata. Bukan apa-apa Yuma hanya takut saja ia pun bersembunyi di balik bahu temannya.


"Kalian Mau apa! Jangan mendekat." ucap Yuma dan indah serempak. masing-masing tangannya memegang botol minum.


Melihat kebodohannya Yuma segera berbisik kepada indah dan mengganti botol minum dengan batu yang ia ambil sembarang di pinggir jalan.


"Jangan mendekat atau lndah lempar!" Bentak indah walau dengan tangan bergetar memegang batu di tangan kanannya.


"Cukup-cukup Lo turunin batunya, ini gue Dimas." Dimas sedikit menjauh dan mundur beberapa langkah saat indah akan melemparkan batu yang berada di genggaman nya.


"Dimas bisa nggak sih gak ngagetin orang." ucap indah yang tidak terima dan kesal, jika saja seseorang di depannya telat mengatakan dirinya siapa mungkin batunya sudah dia lempar.


"Ban Lo bocor?" tanya Dimas pada indah perkataan tersebut membuat kepalanya di getak oleh teman yang berada di sampingnya masih memakai helm


"Udah jelas Lo liat motornya bocor, dan lo malah nanya lagi!" balas pria tersebut dengan suara yang tidak jelas karena masih menggunakan helm.


"Buruan Dim bantuin. Mungkin di depan sana ada tambal ban." pinta Yumma yang memunculkan kepalanya di punggung indah karena sebelumnya tidak terlihat.


"Kalau lo dorong kayak gini, yang ada lo nggak nyampe-nyampe karena setahu gue Tambal ban di depan itu jaraknya lumayan jauh." tutor Pria yang sedikit kesusahan membuka helmnya.


"Yang deket-deket emang nggak ada lagi?" balas yuma yang untuk memastikan lagi.


"Ada, tapi udah kelewat lagian itu toko tutup." ucap Dimas dengan raut wajah yang seperti mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


...Bunda ✨ Sedang berada dalam panggilan.......


...📞...


Hallo kak.. .... ....


^^^Hallo iya Bun iya, Yuma pulang ko^^^


"Bunda Yuma telepon?" tanya Indah melirik wajah Yuma lalu sedetik kemudian menatap pada Dimas.


"Dim gue harap lo nggak keberatan nganterin Yuma pulang. Kalau nungguin gue selesai nambang takut kelamaan." lirih Indah meminta tolong pada pria di depannya dengan binar mata yang indah walau keindahan matanya tertutup oleh kacamata yang dipakainya.


"Tapi, Lo gimana? Gini aja lebih baik yuma pakai motor gue." tawar Dimas pada indah. Jujur sekali Dima sulit untuk menolak permintaan dari gadis di depannya namun dia pun memikirkan cara dengan menawarkan hal lain pada gadis itu.


"Hehe... Anu gue gak bisa motor." gumam Yuma yang merasa merepotkan temannya lagi-lagi sambil menggaruk telinganya yang tak gatal.


"Bener yang dibilang Dimas. Jalan ini kurang aman apalagi Lo cewe sendiri. Kalo tadi di bundaran lu belok kiri walaupun jalannya muter dan agak jauh mungkin si Dimas bisa ninggalin lo sendiri." sanggah Nicolas yang menyingkirkan tangan Dimas di keningnya.


"Maaf Ndah. Gara-gara permintaan gue jadi gini." parau Yuma lagi lagi yang merasa tidak enak hati. Saran dan permintaan dari dirinya membuatnya merepotkan temannya.


"Gpp, lagian bukan Lo aja yang mau nyoba jalan sini. Kalau jalan ini lebih pintas kenapa engga kan." akuinya. Baju indah sedikit terangkat karena Indah menaikkan bahunya, seolah mengatakan dia baik-baik saja pada temannya.


"Demi kebaikan lo. Dimas tetap di sini nemenin lo dan bantu lo sampai tuntas. Masalah teman lo biar gue yang nganter." tutur Nicolas dengan menyimpan helmnya di motornya.


"Thanks bro." ucap Dimas mengeplak bahu temannya. sambil berbisik sesuatu di telinga Nicolas, mendengar itu Nicolas hanya tersenyum.


"Jangan di dengerin, Dimas emang gitu." ucap gadis berkacamata kucing itu.


Jujur sekali Yuma keheranan pada Indah mengapa dia bisa mengatakan hal seperti itu. Apakah dia tahu sesuatu yang dikatakan oleh Dimas?. Bahkan Yuma yang posisinya kini dekat dengan kedua laki-laki tersebut pun tidak mendengar apapun. Yuma hanya mengetahui satu hal yang mungkin tidak diketahui indah, yaitu saat dirinya akan menaiki motor.


Sebuah senyum dari dimas yang tidak dapat yuma artikan ditambah saat pria yang sedang bersama temannya itu memberikan sebuah simbol. Dimana jari jempol dan telunjuknya menyatu seolah membentuk O dengan jari-jari yang lain teracung. lalu setelah selesai dengan itu hanya jari kelingking yang teracung sisanya ditekuk dengan gerakan dari kiri ke kanan atau pun sebaliknya.


Saat yuma mencoba berpamitan pada temannya dengan melambaikan tangannya , motor yang dinaiki akhirnya menyala. Terdengar dari suara gerung mesinnya. Namun baru saja pria di depannya akan menjalankan motornya tiba-tiba motornya dihalang sehingga motor yang dinaiki Yuma tidak bisa melanjutkan perjalanannya


"Beraninya Lo lewat jalan sini. Lo turun dari motor sekarang, atau mau gue pake kekerasan!" ancam seseorang dengan nada tinggi.


...*************...


...BAYANGAN TIA DI BENAK KALIAN SEPERTI APA?? INI NIH MIMIN KASIH BOCORAN BAYANGAN TIA VERSI MINCE ...


...Tiaa cantik gak guys ?...


...Guys jadi siapa yang beruntung!!!...


...apakah Dito memang beruntung mendapatkan Tia? atau sebaliknya guys? tulis di kolom komentar ...


...


__ADS_1


...


__ADS_2