
"Thanks ya Nic!" Senyum Yuma
Nicholas yang mendengar perkataan dari gadis di depannya hanya bisa menganggukan kepala. Klakson motor merah marun di tekannya, tandai berpamitan pada Yuma. Disini lain yuma terus melihat punggungnya laki-laki yang mengantarnya telah semakin jauh, setelah hilang dari pandangannya dia pun masuk ke dalam rumahnya.
Ayahnya geleng-geleng kepala, "Lain kali kalau ada tamu disuruh masuk dulu, Kak."
"Malu Kali Pa." teriak adiknya yang sudah berganti baju.
"Gue yang sial, Lo yang untung." gumam adiknya yang mengira pria yang mengantarkannya adalah pacarnya.
"Abis dari mana kamu? Lain kali kalau mau keluar bilang-bilang. Kunci pintu yang benar. Tuh Ponsel adek kamu jadi korban." ceros Bundanya menghidangkan berapa goreng pisang.
"Ilang, ko bisa Bun?" Mengkerutkan alisnya
"Lo yang ilangin malah balik tanya?" kesal Adiknya
"Arka!"ucap ayahnya memperingatkan. Tidak boleh berkata kasar kepada orang yang lebih tua
Yuma yang tidak percaya bahwa hp adiknya hilang. Langsung menanyakan nomornya kepada anak laki-laki yang lebih muda di depannya. Ayah maupun bundanya hanya bisa terheran-heran. Heran karena yuma tidak memiliki nomor sang adik, dan mungkin saja jika ditanya, adiknya pun tidak memiliki nomor kakaknya.
Tanpa banyak tanya lagi yuma pun segera menghubungi nomor tersebut. Benar saja seperti perkataan ibunya nomor itu sudah tidak bisa dihubungi. Ketidakpercayaannya tidak membuahkan hasil apapun. Tetapi mencoba terus menghubungi nomor itu. Namun, beberapa kali menghubungi pun hasilnya tetap sama.
"hp-nya nggak hilang Bun, soalnya cuma sendiri yang menyimpan dan mencharger hp-nya." ucap nya dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Arka bunda dan ayahnya hanya bisa saling pandang, tidak mengerti dengan perkataan Yuma. Langkah kaki yuma berjalan menghampiri kabel listrik yang sering digunakan untuk mencharger. Bahkan menjadi tempat terakhir dirinya menyimpan ponsel tersebut disana. Namun tetap saja hp tersebut tidak ada. Bahkan chargernya pun tak ada.
Arka yang berpikir kakaknya hanya mencari alasan. Tidak terima. Mencoba melampiaskan amarahnya lewat Benda yang dapat dia ambil, seperti bantal yang menjadi sandaran ayahnya pun ia lemparkan ke wajah kakaknya.
Beruntungnya hal itu malah menjadi jalan di mana Yuma dapat menemukan handphone yang keluarganya cari. Ponsel yang di carinya tersebut berada dalam lemari. Dia melihatnya saat dirinya tidak sengaja membuka lemari demi menghindari lemparan bantal yang akan menghantam dirinya.
Melihat ponsel yang ada dalam lemari, membuat yuma mengingat saat-saat dirinya pergi meninggalkan rumah. Awalnya memang benar ia mencharger ponsel tersebut. Namun ia menyadari, saat ingin memasukkan chargernya ke stop-kontak. Matanya secara tidak sengaja melihat Plektrum yang sering digunakan ayahnya. Melihat hal ia pun reflek mengambilnya dan ponsel yang masih ia genggam pun mungkin sama-sama tersimpan saat dirinya menyimpan benda kesayangan ayahnya tersebut di lemari.
Yuma, Arka ayah dan bundanya saling pandang lalu ketawa lepas. Bahkan ayahnya berbatuk karena ayahnya sedang meminum segelas teh. Tanpa mereka sadari, ya kejadian seperti itu pasti sering kalian alami juga. Bukan!
Dimana saat mencari sesuatu, sesuatu itu tidak pernah kita temukan. Namun saat tidak mencarinya, kita secara tidak sengaja malah menemukannya.
Jika saja ponsel adiknya hidup mungkin tidak ada drama pagi yang terjadi di ruang yang tidak terlalu besar itu. Yuma tidak kesal ataupun marah pada keluarganya karena telah menyalahkannya. Justru sebaliknya, yuma sangat bersyukur, melihat keceriaan yang terjadi dalam keluarganya seperti tawa bahagia.
Suara burung menjadikan suasana di rumah tersebut semakin hidup. Sinar matahari pun menambah kesan keindahan untuk rumah itu. Raffa lah yang tinggal di rumah besar tersebut, orang-orang mungkin mengatakan itu rumah Rafa, namun cowok itu selalu mengatakan dan mengelak itu bukan rumahnya, melainkan rumah orang tuanya.
Laki-laki dengan tinggi 177cm, tidak suka saat seseorang memuji-muji rumah yang ia tinggali. Karena ia merasa kenyataannya tidak seperti itu, rumah yang terlihat megah mewah. Bagi nya hanyalah pengecoh.
"Kamu mau jadi apa, Raffa!" Bentak Burhan melihat anak laki-laki yang duduk di depannya.
"Hemmm..." Raffa hanya berdehem tetap fokus pada ponselnya
"Gara-gara kamu nyawa orang hampir melayang Rafa!". Menumpangkan kaki kanannya sambil menggulung koran.
__ADS_1
"RAFFA!" bentak Burhan lalu pergi meninggalkan Raffa.
Sementara Dahlia yang melihat suaminya berjalan ke ruang kerja pribadinya, hanya bisa mengusap pundak sang suami. Wanita itu membawa kotak P3K lalu menghampiri putranya.
"Lain kali kalo bawa motor hati-hati. Kamu hampir menghilangkan nyawa seseorang." Hembus Dahlia kasar.
Dahlia menarik tangan Raffa, yang tiba-tiba akan pergi, sedangkan dirinya sedang mengobati luka anaknya. Rafa pun hanya ikut perintah mamanya tidak melawan.
"Terus ini wajahmu kenapa, berkelahi sama siapa lagi kali ini." Menempelkan kapas pada memar anaknya.
"Kalo Raffa bilang bukan Raffa yang menyerempet, Mama percaya." parau Raffa.
"Kesalahan apapun pasti mama maafin, tapi tolong kamu jangan jadi pembohong, Nak." ucap Dahlia yang sebelumnya diam tidak menjawab pertanyaan anaknya.
"Jika kamu tidak bisa menjadi orang baik.Jadilah orang yang jujur. Jangan berbohong pada seseorang Karena kepercayaan itu mahal." tutur Dahlia membuka antiseptic.
Rafa tersenyum kecut mendengar perkataan dari Wanita yang cukup berumur di depannya. Ekor matanya melihat sekeliling rumahnya. Beberapa lukisan di dinding. Patung dan liontin kecil yang terpasang rapi di lemari, lalu menatap potret seorang anak kecil laki-laki, dengan pigura hitam.
"Mama dan Papa liat langsung kejadiannya. Mama kecewa kamu akan mengelak." ucap Dahlia. Raffa menolak melihat wajah mamanya.
"Mama nyuruh Raffa jujur, apa Rafa harus berbohong atau mama percaya." batin Raffa lalu pergi meninggalkan mamanya.
Raffa memilih pergi meninggalkan mamanya diruang tunggu itu.Meskipun pengobatan yang dilakukan mamanya belum selesai. Dia tetap aja pergi, terlihat dia menaiki anak tangga, dengan pakaian yang masih sama iya kenakan saat berjogging.
__ADS_1