BUKAN SEKEDAR DIKSI

BUKAN SEKEDAR DIKSI
Ruang Keluarga


__ADS_3

"Yumm!" panggil laki-laki yang menghampiri Yumma


Yuma merasa kaget saat namanya di teriaki seorang laki-laki, yang memakai tote bag berwarna hitam bertuliskan deposit.


"Sorry bikin Lo kaget, Oh ya Tia ada?"tanya laki-laki yang menghampiri nya


"Eh bang Dito, Dia bilng nunggu di parkiran bang." balas yumma


"Oh gitu, Thanks." ucap Dito pergi sambil melambaikan tangannya


Sepeninggal kakak kelasnya Yumma pun berjalan meninggalkan kelasnya tersebut. dengan membawa ransel kuning di pundak nya.


Pikiran yuma sama seperti cuaca hari ini, begitu mendung dipenuhi awan-awan hitam seperti sebuah pertanyaan yang dia tanyakan pada dirinya sendiri.


Yumma masih memikirkan soal kepengurusan OSIS, karena sekolahnya berbeda seperti sekolah pada umumnya, yang mana semua kuasa di pegang guru dan para siswa tahun ke tiga selalu berperan penting untuk semua kegiatan yang berlangsung.


Itulah sebabnya baru diadakan pemilihan pergantian saat Yumma sudah berada di kelas 11. karena, saat penerimaan siswa baru yaitu angkatan adik kelasnya masih dikelola oleh senior tahun ketiganya, yang mana senior tahun kedua seperti Yuma dan kawan-kawannya hanya membantu jika di perlukan sesuai titah angkatan Raffa dan kawannya.


Yah Yumma pun baru menyadarinya sepertinya kedekatan Tia dan kakak kelasnya itu berlangsung saat temannya itu diperintahkan untuk membantu penerimaan siswa baru, bahkan bukan hanya Tia, Dimas pun ikut andil membantu dalam acara tersebut.


Hanya dirinya yang tidak terlibat atau tidak diperintahkan senior nya untuk membantu acara tersebut.


saat yuma keluar dari gerbang depan tak sengaja melihat indah dan beberapa temannya yang lain, seperti kebiasaan nya yuma pun melambaikan tangan ke beberapa teman yang di kenalnya.


Yuma sudah meninggalkan gerbang berwarna hijau tua itu, bahkan sudah sampai setengah jalan ke rumahnya, Yumma pun baru saja mengucapkan rasa bersyukurnya karena saat pulang tidak berpasan dengan Ann dan kedua temannya yang selalu mengajaknya untuk sekedar adu mulut.


Baru saja Yuma mengucapkan rasa syukurnya namun kenyataannya, dia malah diguyur hujan yang tiba-tiba datang dengan derasnya.


Yuma tidak sempat mencari tempat peristirahatan untuk sekedar berlindung dari serasnya hujan. Bajunya sudah mulai basah, melihat bajunya yang terlanjur basah Yumma memutuskan untuk terus berlari demi sampai rumahnya.


Seperti biasa sebelum Yumma menginjakkan kakinya di depan rumahnya, Yumma selalu bertemu dengan berapa tetangganya, terlihat tetangganya itu sedang membeli goreng-goreng yang berada di warung, seperti yang kaliam ketahui, cuaca seperti ini sangat enak ketika mengemil makanan seperti bakwan dengan cabai hijau sebagai toppingnya.


"sini dulu yum, mampir!" ucap tetangganya yang ia sempat temui tadi pagi di kedai bubur ayam.


"enggak Bu makasih mau lanjut aja." ucap Yumma menimpali jawaban tetangganya itu


sang tetangga yang mendengar jawaban dari Yumma hanya bisa mengganggukan kepalanya, sambil memakan gorengan di tangan kirinya.


"Eh Mpok, aneh ya hujan-hujan gini maksain pulang, rumah dekat juga bukannya nunggu berapa saat." bisik-bisik yang yuma dengar sebelum ia pergi.


seperti biasa Yumma tak ambil pusing, lagi-lagi dia menghiraukan perkataan dari tetangganya, dengan langkah yang tidak begitu cepat sambil mengatur deru nafas yang kelelahan karena lari. Yuma pun sudah tepat berada di depan pintu rumahnya bahkan uniknya hujan yang membasahi dirinya pun ikut berhenti setelah Yuma sampai.


"Kak, lain kali hubungi papa, kalau hujan gini nanti kan bisa dijemput." ucap ayahnya setiba Yumma masuk


"iya kak, nanti sakit. Kalo engga bisa nunggu reda dulu." sahut bundanya


"Eh iya Yah Bun, yumma kehujanan di jalan ko tadi, Yumma kira bisa nyampe sebelum hujan tapi hehe." jelas Yumma


"Iya tuh kak, Nanti sakit."potong ayahnya.


Yumma baru sadar ibunya yang sedang berkutik di dapur membuat bakwan dari penciuman yang dia rasakan, mengenai adiknya, entahlah yumma tidak tahu dimana keberadaan nya. Dirinya hanya melihat ayahnya yang sedang duduk di sofa bersama secangkir kopi hitamnya.


Yuma mempunyai ide ingin mengganggu ayahnya saat dia melihat ayahnya menekuk kopi.


"Tenang Yah, menggigilnya Yumma gak kaya ayah yang bikin panik satu rumah." canda Yumma pada ayahnya


Mendengar perkataannya Yumma, ibunya pun hanya bisa tertawa, bahkan yuma menutupi kekehannya. Mereka berdua tertawa bukan tanpa sebab, karena mereka selalu ingat saat ayahnya sekedar sakit biasa saja, selalu bikin heboh, menggigil seperti anak kecil.


Yumma pun sempat berpikir kenapa sifat ibunya seperti tertukar dengan ayahnya. Yang mana saat ibunya sakit tidak banyak suara, tidak meraung kesakitan "Aduh... Aduh..." seperti yang Ayah nya sering lakukan saat sakit.


"Kapan ayah kaya gitu, kamu salah liat kali." jawab Ayah ketus tidak mau mengakui kebenarannya.


"Kak, lain kali kamu rekam biar ayahmu tidak bisa mengelak." balas ibu sambil tertawa


"Ihh kamu yah Mah." ayah kesal pada ibunya. Melihat Ayahnya kesal Yumma dan ibu semakin bahagia.


Cukup selesai mengganggu ayahnya, Yumma akhirnya menyimpan tasnya sementara di sembarang tempat. Karena dia ingin memasuki kamar mandi untuk mencuci kakinya terlebiih dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Panggilan Telepon


Ann


Jadi seperti itu Om. rame-rame juga bareng Nico dan Dimas.


^^^Burhan^^^

__ADS_1


^^^...... ...... ^^^


Thanks yah Om. Selamat Malam salam untuk Tante Om


^^^Tut...tut^^^


^^^Panggilan di tutup^^^


"Siapa Pah." tanya Dahlia pada suaminya


"Anak cewekmu." Jawabnya


Sempat berpikir sejenak namun Dahlia mangerti siapa yang dimaksud oleh suaminya tersebut.


"Ayo nak makan bareng!" panggil Dahlia yang melihat anaknya menuruni tangga.


Namun Rafa tidak menghiraukan perkataan dari ibunya bahkan dia lebih memilih ke dapur melewati saja meja makan tempat orangtuanya duduk.


"Bi,Bibi. bisa tolong bikinin mie instan?"


"Yah Den, cuma ada mie goreng gpp?" ucap bibi pembantu tersebut


"Plus telur yah Bii." balas Raffa


Burhan yang melihat kelakuan Rafa tersebut tidak bisa menahan amarahnya Dia meneriaki dan mengingatkan Raffa agar bersifat lebih sopan terhadap orang tua.


"Raffa! Lain kali kalau orang tua manggil samperin! Udah di sekolahin sampe SMA juga masa gak ngerti-ngerti sopan santun sama orangtua." bentak Burhan


"Bi jangan di dengerin." teriak Burhan menghentikan pergerakan pembantu tersebut yang akan membuka mie instan berwarna putih itu.


Dahlia mencoba menenangkan Burhan agar tidak terpancing emosi dengan cara mengelua tangan suaminya.


Sang pembantu terlihat bingung harus menuruti perkataan siapa. Dirinya sangat tidak enak jika tidak menuruti perintah dari anak yang sedari kecil selalu di urusnya, Namun dia juga tidak bisa menolak perkataan tuannya.


"Den!" ucap pembantu tersebut pada Raffa yang berada disampingnya.


"Gak baik makan terus mie instan Nak. Sini bareng mamih, liat tuh ada makan kesukaan kamu!" ucap Dahlia mengajak putranya untuk makan bersama.


Lagi-lagi Rafa mengabaikan perkataan dari orang tuanya, iya lebih memilih menaiki tangga kembali. tidak memperdulikan teriakan dari sang ayah yang ada di bawah.


"Bii!" teriak Dahlia pada pembantu nya


Teriakan tersebut membuat pembantunya menghampiri perempuan yang memakai Dres Kuning bunga itu, dia pun sudah sampai di hadapan tuannya yang sedang menyantap makanan yang di masakanya tadi.


"Tolong bawaan makanan ini ke kamarnya si Raffa." titah Dahlia


"Oke siap." balas pembantunya dengan telaten ia pun mengambil beberapa sayur yang begitu banyak di depannya.


"Sekalin bawakan Teh /Susu hangat Bii. Bukannya tadi kehujanan." ucap Dahlia


"Oh kalau itu, ga usah khawatir nyonya. Tadi, bibi langsung buatin wedang jahe." ucap pembantu sambil pamit untuk mengantarkan makanan


"Den! Den!" ucap bibi sambil mengetuk pintu kamar berwarna Coklat itu


"Masuk aja Bii, gak Raffa kunci kok." ucap Raffa yang berada di kamar dengan nuansa abu-abu


Mendengar teriakan dari dalam kamarnya pembantu itu pun membuka pintu dia melihat rapat sedang tiduran hanya memainkan ponsel. Entahlah membantunya tidak begitu tahu apa yang sedang dimainkan anak tuannya.


"Den! Ini Aden makan dulu, bibi udah bawain makan enak loh." goda pembantu nya.


" hemmmm...." Raffa tidak menja wab ucapan wanita tua di sampingnya hanya meliriknya sebentar


"Yah Aden gak suka masakan bibi yah, Aden udah gak suka lagi." curhat bibi yang merayu anak yang di urusnya udah cukup dewasa.


"Eh engga bukan gitu Bii, Raffa suka kok, masakan bibi gak ada duanya." jawab Raffa yang tidak suka melihat keluhan dari orang yang selalu ada untuk nya.


"Tapi buktinya den Raffa gak mau makan." tuduh perempuan tua bernama Inah tersebut.


"Bukan gitu bii, tapi Raffa udah gak mood makan." balas Raffa


Mendengar perkataan dari anak laki-laki yang memakai kaos hitam dengan logo kepala tengkorak, bibi itu memutuskan untuk duduk di samping ranjang Raffa, dan makanan yang ia bawa pun ia simpan dulu di meja yang ada di sebelah ranjang.


"Aden sayang bibi kan, dengerin bibi yah. Apapun kekesalannya, Aden harus tetap makan, cacing di perut Aden harus di isi. Aden bisa sakit kalo ga selalu makan karena kekesalan." ucap pembantu itu sambil menepuk punggung tangan kanan Raffa


"Tapi bi, percuma saja, mau sehat ataupun sakit tidak ada bedanya." bala Raffa


"Aden salah, Waktu dan kesehatan adalah dua aset berharga yang tidak diharagai sampai keduanya hilang."ucap bi Inah dengan suara lembut dan tatapan mata yang hangat

__ADS_1


Berapa mencerna kata-kata dari wanita tua yang ada di depannya. iya bahkan memikirkan kembali kata-kata yang diucapkan oleh pembantunya tersebut.


"Aden juga gak akan menyangka,mana tau senyum Aden adalah kebahagiaan untuk orang lain." tutur pembantunya yang kesikian kalinya


Dan kesekian kali juga Rafa mencermati perkataan wanita tua di depannya sambil mengalihkan pandang pada atap kamarnya.


"jadi Aden mau makan kan, mau bibi suapi?" ucap bibinya sambil membawa makanan yang sempat di simpan nya tadi.


"Raffa udah gede bi. Hehee. Raffa bisa makan sendiri kok. Makasih ya Bii." balas Raffa dengan memamerkan gigi putihnya.


sepeninggal pembantunya Raffa dengan lahap memakan habis makanan yang dibawa oleh pembantunya, saat rapat sedang enak-enak menyantap makanannya dia diganggu dengan dering suara di ponselnya.


Pesan baru dari Annez


Arr!!!!!!


jangan lupa


Gue gak suka penolakan


Gak ada tapi-tapian


^^^✓telah di baca ^^^


Pesan baru dari Dimaze kece 😎


Asu lo Arr


Gara-gara Lo, Rambut keren gue bau!


Baunya gak ilang-ilang bego


^^^Lo tanya aja si Beo^^^


Gue serius Arr, baunya ga ilang bantal gue korbannya


^^^Sampo apa emng yang Lo pake, ^^^


^^^Gue gak ada masalah tuh^^^


Heheee 😬


Gue lupa gak pake sampo


^^^✓ 22.21 telah terbaca ^^^


Rafa lebih memilih membalas chatting dari Dimas, karena jika dia tidak membalas Dimas akan membuat Rafa kesusahan, seperti tiba-tiba tengah malam selalu me misscall atau bahkan mengirim spam chat.


Itulah sebabnya dia lebih memilih membalas pesan dari Dimas yang tidak akan menanyakan banyak hal dan membuat dirinya kesusahan.


Raffa baru tersadar saat melihat kontak nama temannya itu, iya pun hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Dimas yang bisa-bisa nya menamai dirinya sendiri di ponselnya. Raffa tidak tahu kapan temannya itu mengubah namanya, seingatnya, Raffa hanya menamainya dengan nama lengkapnya yaitu Dimas Arya.


Entahlah setelah mendengar nasihat dari orang yang dari kecil mengurusnya, raffa sepertinya sedikit bahagia hati sedikit hangat, terlihat saat dirinya secara tidak sadar tersenyum akan hal kecil.


Namun Rafa langsung mengubah mimik wajahnya karena menyadari dirinya tersenyum. Ya senyumnya begitu manis, namun pria itu tidak pernah menyadari nya, bahkan jarang memamerkannya pada siapapun, bahkan seperti nya pembantu nya pun tidak tahu menahu soal itu.


setelah menyelesaikan makanannya, raffa memutuskan keluar dari kamarnya, iya terlihat riang menuruni anak tangga sambil memegang piring dan gelas bening.


Sebenarnya dia hanya ingin menyegarkan dahaganya karena air yang diminumnya kurang, namun dia sekalian membawa piring dan gelas yang tadi diantarkan pembantunya agar tidak merepotkan sang bibi tersebut.


Rafa pun kembali menaiki anak tangga dengan membawa segelas air di tangan kanannya, setelah sampai di dalam kamar dengan nuansa abu-abu Rafa buru-buru menyimpan segelas air minum yang di bawanya, entahlah apa yang merasuki nya karena tiba+tiba saja dia melemparkan dirinya sendiri pada ranjang yang berwarna gelap dengan corak krem yang membuat kesan menarik.


Seseorang sedang memanggil


^^^... .... .... ^^^


"Apa! Yang bener Lo!" teriak seseorang di dalam kamarnya karena kaget mendengar obrolan lewat benda pipihnya.


...----------------...


GUYS MAAF BARU POST


Selamat Malam guys


Next gak nih


Pengen post 2-3 chapter per hari tapi kalain seperti nya kurang suka sama cerita nya 🥲

__ADS_1


__ADS_2