BUKAN SEKEDAR DIKSI

BUKAN SEKEDAR DIKSI
Buku Catatan


__ADS_3

Yiruma Sastri Wiguna pergi ke sekolahnya dengan berjalan kaki, walaupun jarak rumah ke sekolah tidak begitu jauh namun, telah menjadi kebiasaan Yumma selalu berangkat lebih awal dibanding siswa lainnya.


Saat di pertengah perjalanan menuju sekolahnya, Yumma bertemu dengan ayahnya yang akan pergi ke pasar, dengan titah ayahnya akhirnya Yumma ikut menumpang di kendaraan roda dua tersebut.


Baru saja Yumma mendaratkan bokongnya pada motor yang di bawa ayahnya itu, yuma mendengar sayup obrolan satu tetangga rumahnya, yang sedang membeli bubur ayam di samping jalan.


Yuma mencoba menghiraukan sayup-sayup obrolan itu, namun tidak sepenuhnya hilang malah, terjadi seperti sebuah film yang tiba-tiba berputar di kepalanya.


"Aduh, liat deh manja bener yah dia, sekolah cuma melangkah aja minta dianterin orang tuanya." ucap tetangganya yang memakai daster bunga itu.


"gayanya juga sok artis banget, putihnya pasti perawatan mahal, dasar nggak liat perekonomian keluarga."


Yuma melihat tetangganya menatap dirinya dengan tatapan meremehkan, ya walaupun yuma tidak begitu yakin karena jaraknya yang terbilang jauh di kiri jalan.


Tidak butuh waktu lama Yuma akhirnya sampai di gerbang utama pintu sekolahnya, dia tidak lupa untuk menyalami tangan ayahnya untuk sekedar berpamitan.


Yuma berjalan beberapa langkah untuk memasuki gerbang depan, langkah tersebut membuat rambut indahnya seolah menari karena tertiup oleh angin pagi yang begitu segar.


"Eh... Baru dibuka mang? Aku kepagian yah datangnya."tanya Yumma pada pria berbaju putih itu.


"enggak ko Neng, mang tomi aja yang kesiangan bukanya, biasa bola." balas satpam yang bernama mang Tomi itu.


Yuma menggangguk tanda dia memahami perkataan dari satpam tersebut. Dia melihat sekeliling sambil menunggu satpam tersebut membuka gerbangnya.


"Eh. Mang, emang satpan satunya Kemana?" tanya Yuma


"Biasa neng risgn lagi." ucap Tomi


"Loh kenapa risgn bukanya baru masuk." tanya Yumma


"Gak tau neng, katanya si horor."balas Mang Tomi


"Yaudah Mang, mamang buka aja gerbang samping, lagian ini tinggal setengah aja."ucap Yumma


Satpam tersebut berlari untuk membuka gerbang seperti yang disarankan Yuma. Sementara disamping itu, Yuma berusaha membuka seluruh gerbang Namun ternyata tidak mudah seperti apa yang dia bayangkan.


Gerbang tersebut begitu berat dan sulit sekali terbuka, dengan sekuat tenaga akhirnya dia berhasil melakukannya.


Yumma dibuat kaget ketika melihat tangan seseorang berada di atas tangannya, yumma baru sadar, seperti nya dia tidak melakukan sendiri, ada seseorang yang membantunya sehingga gerbang tersebut bisa dia gerakan.


Pada akhirnya yumma tahu ketika mendengar suara orang laki-laki yang berbicara tepat di samping telinga kanannya.


"Kalo berdua lebih mudah bukan." ucap laki-laki tersebut.


Suara dari seseorang itu seperti suara yang yumma kenal. Untuk membuktikannya, Yuma memberanikan diri membalikkan badannya hingga masing-masing dari mereka berhadapan.


Sorot mata Yuma dan pria itu bertemu Yuma tidak sadar, jarak diantara dirinya dengan pria itu begitu dekat. saking dekatnya dia bisa mendengar deruh nafas pria tersebut.


Yumma bertanya pada dirinya sendiri, dia tidak mengerti, mengapa aroma parfum dari laki-laki tersebut membuat dirinya candu, seakan ada perasaan nyaman saat menghirupnya.


"Yummaa!" teriak seorang siswa yang membuat nya kaget.


Teriakan yang mengganggu pendengarannya itu, membuat yuma sadar akan ketemenungan nya.


Siswi itu mengajak yuma untuk segera masuk ke kelasnya untuk menyimpan tas ransel mereka.


Yumma dan siswi itu berjalan sambil berbincang menuju kelasnya, tak terasa mereka berdua sudah memasuki parkiran sekolah.


"cie... yang baru jadian, gue kaget loh dari kapan lo punya hubungan sama kak Dito?" cerocos Yuma pada temannya.


"hehehe... Anu yum."cengengnya Tia sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Anu apa, yang jelas!."desak Yumma yang mengerakan kedua alisnya naik turun.


"Eh mana si paling katanya, tumben belum kelihatan."tanya Tia pada Yumma.


Yumma kebingungan dengan pertanyaan Tia. dia tidak mengerti maksud pertanyaan Tia, bahkan yuma juga lupa bahwa Tia secara tidak langsung, sedang mengalihkan topik pembicaraan.


"hadeh... maksud gue tuh si Indah, Yum." jelas Tia pada Yumma

__ADS_1


Tia tidak menyebutkan nama temannya langsung, bukan semata-mata membenci Indah, akan tetapi Tia berpikir kalimat itu yang cocok mendeskripsikan Indah sahabatnya.


Menurut pandangan Tia, Indah itu gadis yang selalu menyebutkan, katanya sih bla bla bla, menurut artikel, novel dll.


Tia menjelaskan maksud dari pertanyaannya tadi, pada Yumma. Hingga Yuma mengerti maksud dan pembicaraan Tia, bahwa yang di bilang si paling katanya ialah indah sahabat dekatnya.


Seakan Dejavu yumma merasakan dua kali dikagetkan oleh seseorang, yang pertama tentu saja di kagetkan oleh Tia, dan yang keduanya oleh indah.


Beruntungnya kekagetan yang Yumma rasakan, tidak dirasakan sendiri lagi, melainkan Tia yang menjadi pelaku akhirnya merasakan kembali bagaimana kagetnya.


"Hallo TiYum..., Tau gak sih, Katanya kalau ada sesuatu yang tidak mengenakan saat memulai apapun, maka hari itu juga terbilang hari buruk untuk orang tersebut, itu sih yang indah baca menurut artikel.


Yumma dan Tia saling pandang seakan mereka berbicara walau tanpa mengeluarkan suara, orang-orang mungkin menyebutnya ini dengan teknik telepati.


Tiba-tiba Tia dan Yumma tertawa bersamaan, selang beberapa saat ketika mereka saling melirik satu sama lain.


"Kannnnn." kompak Yumma dan Tia.


Indah dibuat keheranan dengan kelakuan Yuma dan Tia, yang tiba-tiba tertawa setelah kedatangan dirinya.


Indah tidak tahu saja bahwa Yuma dan Tia sedang menertawakan dirinya. Entah apa yang mereka bertiga bicarakan. Sehingga, ketiga gadis itu terlihat seperti sedang mengikuti lomba lari, saling berkejaran dan mendahului satu sama lain, hanya untuk membuktikan siapa yang lebih cepat sampai ke kelas pertama kali.


Tia terlihat berada di depan Yumma dan Indah berada di belakang yumma hingga dia terus saja memanggil "Yumma yumm... Tas Yum!"


Yuma tidak berhenti berlari walaupun teman di belakangnya terus memanggil namanya, yuma berpikir dia hanya mencari alasan untuk membohonginya.


Yumma mulai kesal karena indah terus saja memanggil namanya, dengan panggilan yang begitu lantang, dengan terpaksa untuk menghentikan panggilan tersebut, akhirnya Yuma menengok temannya sambil terus berlari, tanpa membalikan badannya.


Dugh... suara dua benda saling bertubrukan, "Aduh..." re-ngeng Yumma. Yumma mengira dirinya menabrak tembok/tiang-tiang sekolah.


Buku-buku dalam tas gendongan yuma seperti sebuah muntah yang dikeluarkan oleh seseorang hingga terlihat berserakan.


Yumma ditertawakan oleh kedua temannya, dia sedikit kesal, karena bukannya membantu namun kedua temannya itu malam mentertawakan dirinya.


"Masih ngantuk yah Yum."gelak tawa Tia


"Menurut buku yang Indah baca tuh, kalau dipikir-pikir Yumma kaya banteng hobi banget menyeruduk orang." indah membenarkan kaca mata kucingnya itu disertai senyumnya yang memperlihatkan gigi rapihnya.


Tersadar dengan, apa yang kedua temannya katakan, yumma akhirnya mengingat kembali saat dirinya jatuh, iya dia seperti menabrak seseorang bukan sebuah dinding atau tiang penyangga.


Keyakinan Yumma pun meningkat ketika mendengar kekehan suara pria yang menertawakan dirinya. Yuma mengenal pria tersebut, karena dirinya pernah memberikan botol minum padanya tempo lalu.


"hehe... Maaf yah." cengenges Yumma di sertai senyum yang memperlihatkan gigi gingsulnya.


Iya, laki-laki tersebut adalah Rafa, dia menganggukkan kepalanya sebagai respon bahwa ia mengerti dan memaafkan yuma yang telah menubruk dirinya.


Kekehan mereka tidak berhenti begitu saja karena setelah Raffa menganggukkan kepalanya, secara tiba-tiba rambut gaya Two Block nya itu dihiasi kotoran burung yang jatuh.


Tia bedeehem mencoba membersihkan kerongkongannya dari sesuatu yang terasa menyangkut di tenggorok, hal seperti itu sering dilakukan ketika tenggorok seseorang terasa gatal. Namun Tia melakukannya dengan sengaja karena hanya ingin menggoda serta untuk menghentikan tertawaan temen-temannya.


Rafa meninggalkan ketiga gadis itu, tanpa mengatakan sepatah kata pun, Raffa berjalan ke lorong sebelah kanan untuk pergi ke toilet karena dia akan membersihkan kotoran di rambutnya terlebih dulu sebelum masuk ke kelasnya.


Rafa menjadikan ponsel miliknya seperti cermin untuk melihat dan menunjukkan di mana letak kotoran tersebut.


Baru saja Raffa akan membersihkan kotoran tersebut, pundaknya ditepuk oleh temannya.


"Lo Kalo pakai minyak rambut yang benar Arr." ucap Dimas pada temannya itu.


Raffa kebingungan dengan ucapan temannya itu, dia tak habis pikir kotoran yang menimpanya tadi, dikira sejenis minyak rambut yang ia pakai.


Sifat sotau temennya itu, membuat sang teman mengambil kotoran yang berada di rambut Raffa. Kerendoman Dimas ternyata tidak cukup sampai di situ saja, dengan inisiatif sendiri Dimas mengambil kotoran itu untuk di oleskan pada kedua telapak tangannya dan berakhir pada rambutnya.


"Arr... tumben selera minyak rambut lo nggak enak baunya." tanya Dimas keheranan


"Lo bego, emang kapan gue bilang itu krim rambut," tuduh Raffa


"Lah terus? Itu kan di rambut lo, ya kali kotoran si Beo." cerocos dimas.


Raffa lagi-lagi di buat ketawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya, Raffa berlari setelah mengucapkan "itu Lo pinter," Pada temannya itu

__ADS_1


Dimas masih mencerna perkataan Raffa, setelah mengerti apa maksud ucapan temannya, tentu saja dimas kesal dan mengumpat pada Raffa. Namun Raffa telah hilang di balik pintu.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.15 dan Rafa sudah memasuki kelasnya beberapa menit yang lalu tidak lama setelah dirinya duduk di kursi. Pak romli seorang guru laki-laki yang memakai baju warna khaki pun datang ke dalam kelasnya.


"Pagi anak-anak! sudah siap?" ucap pak romli dengan suara keras.


"Pagi pak, siap!" jawab anak kelas 11-A serempak.


"Oke anak-anak sebelum bapak lanjut pada materi baris dan deret aritmatika bapak ingin kalian untuk mengumpulkan buku tugas yang bapak kasih pada pertemuan sebelumnya tentang matrik." ucap pak Romli dengan suara tanpa jedanya.


"Nico! coba kemari kerjakan soal nomor satu. yang lain tolong kumpulan buku catatan kedepan, lalu tugas baru buat kalian, pelajari sendiri bagaimana cara menyelesaikan soal baris dan deret aritmatika hal 95." Pak Romli memakai kacamatanya.


"Tapi pak, kan belum bapak ajari." protes Bella yang duduk disebelah kiri Ann


"Ya makanya kalian pelajari sendiri, bagaimana cara menyelesaikannya, nanti setelah bapak selesai mengecek tugas kalian ini, tenang bapak juga akan menjelaskan kepada kalian. Bapak hanya ingin melihat kemampuan kalian sampai sejauh mana." terang Pak Romli pada siswa-siswinya.


"Ohhh... Okey pak." serempak semua muridnya


Nicolas mulai mengerjakan soal matematikanya di papan tulis berwarna putih itu. Secara cekatan dirinya mulai menuliskan angka-angka.


Terdapat dua buah matriks P dan Q yaitu :


P\=[4 a]


[0 3] dan


Q\= [10 B]


[0 6]


Jika PQ\=QP maka a/b\= ...


Jawab



Cukup lama Nico mengerjakan soal-soal di papan tulis, akhirnya Nico selesai juga, tak lama dia bergegas pergi untuk menduduki kursinya kembali.


Seperti biasanya Pak Romli memuji Nico, "kalian semua harus mencontoh Nico, dia perfect tinggi tampan dan pintar pula." gurunya memberikan dua jempol pada Nicholas.


Pak Romli sempat keheranan, karena merasa ada sesuatu yang kurang saat dirinya memeriksa catatan para murid-muridnya.


"Anak-anak apa ada yang gak masuk?" tanya Romli pada semua muridnya.


Kelas yang sedang melakukan pembelajaran matematika pun seketika rame, mereka segera melihat ke belakang kiri dan kanan untuk memastikan apakah benar yang dikatakan oleh gurunya tadi


"Eh... masuk semua ko pak 30 orang."


"Tapi bapak menghitung buku kalian ada 29 bukan 30."


"Bapak lupa ga hitung punya si Nicolas kali pak." ucap Ann diikuti gelak tawa nak yang lain


"Justru itu bapak udah hitung termasuk sama buku nya si Nicolas." bantah pak Romli


Anak-anak yang semulanya rame mulai merasa merasa takut sekaligus kaget setelah mendengar perkataan gurunya.


Bagaimana tidak takut karena guru matematikanya tersebut termasuk guru yang paling killer di sekolahnya.


Guru itu bernama Romli yang terbilang tidak memiliki ampunan, terlihat tegas sekali dalam hal mengajar serta kedisiplinan.


Ya, seperti saat ini jika dia sudah menemukan ketidak beresan dari satu murid, semua murid akan kena batunya. Satu persatu di antara mereka, disuruh mengerjakan soal, yang terkadang para murid itu sudah lupa cara pengerjaannya, atau ditanya-tanya tentang perkalian, jika tidak bisa ya selama pembelajaran akan berdiri di depan murid yang lain.


Makanya para siswa dan siswi selalu turut dan tertib jika pelajaran matematika, bahkan mereka semua tidak berani keluar atau sekedar nongkrong di luar kelasnya.


Jika ada murid yang datang terlambat memasuki kelas matematikanya, di hari itu juga murid tersebut seperti mendapatkan ujian seolah dirinya memasuki labirin besar yang rumit.


Terkadang tidak semenakutkan itu, sama seperti seorang yang bisa keluar dari labirin ada juga perlu bantuan orang lain. Nah seperti itulah nasib siswa dan siswi saat mendapatkan soal dari guru killer nya itu.


Entah mengapa Ann Tidak seperti biasanya dirinya tanpa gugup, kegugupan tersebut bertambah ketika dia mendengar namanya dipanggil oleh guru yang memakai kacamata itu.

__ADS_1


"Annelizah Gempita!" teriak Romli


__ADS_2