
Seperti biasa Yumma pulang ke rumah pada saat matahari mulai memerah, seolah ia berpamitan pada loka, perlahan jingga kemerahan itu mulai jauh meredup tenggelam di ujung barat.
"Eh yumma, baru pulang Yum?" tanya tetangganya
"Eh iya Bu, permisi." Yumma jalan sambil membungkukan badannya, tanda ia pamit meninggalkan tetangga nya.
"Heran ya anak gadis sekarang kok baru pulang jam segini, anak-anak lain juga pulangnya sore, masa ini menjelang magrib. yakin itu yang dibilang nuntut ilmu? dasar nggak tahu waktu."
Kalimat itu yang Yumma dengar dari bisikan-bisikan tetangganya. Namun Yumma tidak ambil pusing dia terus melangkah menuju rumahnya.
Meskipun langkah Yumma sudah terbilang jauh, namun ia masih mendengar sayup-sayup jawaban dari tetangga nya yang lain.
"Sut! dia banyak tugas kali jeng, ponakan saya juga beberapa waktu pulang larut kaya gitu." Yumma tersenyum mendengar jawaban tetangganya, sepertinya dia bahagia mendengar jawaban itu yang masih berpikiran positif dan membelanya.
"kalau ponakan kamu, ya Kita paham, ngerti Mpok, orang rumahnya jauh. Lah ini, sekolah cuma di ujung sana, ya kali magrib pulangnya." senyum manis Yumma kini menjadi senyum yang dipaksakan.
"sore Bun, yumma pulang." teriak yumma menghampiri bundanya.
"ini udah malam kak, makan dulu kak nanti sakit."titah bundanya
"mandi dulu aja deh Bun, ga enak nih badan Yumma. Bau keringat juga." menghirup aroma tubuhnya lalu tertawa sendiri,"Ayah mana Bun?" tanya lagi.
Bunda nya memanyunkan bibir ke pojok kanan ruangan tempat ayahnya berada, biasa ayah lagi sama buku TTS nya, kata bunda nya. Dan Yumma hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon tandai iya mengerti apa perkataan dari bundanya.
"De ambilin handuk, kakak lupa." teriak yumma pada adiknya
Yumma mandi di kamar mandi yang pintunya masih pakai dengan gorden tebal, karena hanya ada satu kamar mandi di rumahnya, yang letaknya bersebelahan dengan dapurnya
"Nyusahin banget deh Lo, Lo yang mandi gue yang repot." kesel adiknya yang merasa terganggu oleh teriakan-teriakan kakaknya.
"Bilang apa barusan! Jangan sekali-kali lagi ngomong Gue Elo ke orang yang lebih tua Arka." potong ayahnya memberi nasehat pada anak laki-lakinya.
"iya Yah lupa." jawab Arka meninggalkan ponselnya lalu bergegas mengambil handuk untuk diserahkan kepada kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti malam-malam biasanya sebelum tertidur yumma selalu membuka handphone untuk mengecek sosial medianya, entah untuk mengecek grup osisnya ataupun hanya sekedar scroll benda pipihnya.
setelah cukup lama dan dirasa membosankan yuma akhirnya meletakkan ponselnya di kasurnya kemudian ia bangun dan mengambil buku bersampul daun itu lalu ia menuliskan sesuatu.
^^^Kamis, 20.30^^^
Aku wanita beruntung yang bisa dicintai oleh pria sebaik kamu
Aku bahagia aku selalu diingat walaupun aku jauh
Terima kasih atas semua nikmat dan sehat yang kau berikan ya Tuhan, bahkan kau memberi sahabat yang sangat luar biasa baiknya
Terima kasih telah memberiku keluarga yang begitu harm-
Belum selesai curhatan hatinya yang ia tulis yumma terhenti karena mendengar bisik-bisik pertengkaran di luar kamarnya.
"minta sana sama ayahmu bunda melulu." teriak bunda.
"kenapa kalau urusan uang selalu aja bunda."menghela napas nya gusar
"kamu itu kerjanya minta uang mulu, udah makan enak kayak gini juga harusnya kamu bersyukur Arka Sastreka." ucapnya lagi
"tapi Bun, aku kan cuma minta uang untuk LKS Bun." bela adiknya
__ADS_1
"LKS LKS aja alasanmu, bunda muak dengernya."
Yuma hanya menghela nafas mendengar teriakan dari bundanya yang berada di luar. sebenarnya keluarganya baik cukup harmonis namun jika berurusan dengan uang semuanya seperti perang dingin, selalu ada pertengkaran setelahnya.
Lagi-lagi yuma hanya menghembuskan nafasnya kasar ternyata apa yang ia tulis dibuku sepertinya tidak seperti itu, malah kebalikannya.
"Bun udah kasihan Arka, lagian itu bukan mau nya Arka tapi memang sekolahnya. kayak Yuma nggak gitu aja waktu SMP." ucap suaminya
Bunda pun hanya bedeehem membalas perkataan suaminya.
"Seperti nya enak yah jadi ayah, lebih banyak diam di rumah lah istrinya kerja." sindir Bunda
"Jadi sebenarnya yang kepala keluarga siapa! bunda atau ayah?" ucapnya lagi
Ayah hanya diam saja mendengar sindiran-sindiran bunda karena ayah merasa dirinya salah, tapi tidak sepenuhnya salah, karena memang kenyataannya begitu.
"kadang bunda lelah Yah, rasanya ingin kabur dari beban yang begitu berat." ucapnya
"Apa mungkin bunda merantau lagi ke negeri orang? Biar ayah berpikir gimana rasanya ditinggalin bunda."
"sepertinya yang lebih capek itu bunda, ayah mungkin nggak akan tahu rasanya beras habis,Gas habis,belum bekal sekolah anak-anak, belum listrik dan lain-lainnya." ceramah bunda
Setelah pertengkaran-pertengkaran di luar kamarnya tidak terdengar lagi akhirnya ia membereskan bukunya dan memasukkan ke dalam tas.
Sebenarnya ia malas untuk meninggalkan kamarnya namun lain halnya dengan dahaganya yang minta diisi, dengan langkah berat akhirnya ia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa harus aku? kenapa nggak papa aja yang urus bisnis sendiri, lagian Raffa nggak minta itu semua " ucap Raffa
"Anak papa cuma kamu sayang. Kalau bukan kamu terus siapa lagi?" ucap Dahlia sambil mengelus rambut anak laki laki-nya
"Emang papa inget aku? Lalu belasan tahun kemana aja." balas Raffa
"Sedangkan Raffa sebagai anak mamih sendiri, apa pernah mami ajarin Raffa? Apa mamih pernah ada waktu buat Raffa?"geram Raffa.
"Raffa kan udah SMA sekarang, Raffa harus nya bisa ngertiin mamih, Anak-anak itu lebih butuh mamih di banding kamu Nak." ucap Dahlia lembut
"Udahlah Sayang ngapain juga ngurus anak yang nggak mau diurus. nggak mikirin orang tua banting tulang Tapi dia selalu melawan mulu kerjanya."bentak Burhan
"Jangankan dia mau ambil alih pekerjaan papa Mih, prestasi aja dia nggak punya, terbukti nggak ada piala satu di rumah ini. secara kamu seorang guru pintar berprestasi dan papa seorang pembisnis." Geleng papa
Raffa hanya melirik papanya dengan tatapan yang tajam tanda ia tak suka dengan pembicaraan papanya.
"Di bilangin orang tua bukannya mencerna kata-katanya malah natep sinis, dasar anak kurang ajar."ketus Burhan
"Kapan papa bisa nge banggain kamu di hadapan temen2 papa!"ucap Burhan sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kamu jangan selalu bergantung pada si Nicholas ingat jika bukan gara-gara si Nicholas kamu nggak akan pernah bisa berada di kelas unggulan seperti saat ini Raffa."
"pah ..." Dahlia mengikut badan suaminya untuk mencoba menghentikan pembicaraan suami nya.
Raffa mengepalkan kedua tangannya tanda dia terpancing emosi atas ucapan dari sosok laki-laki di depannya.
"Apa! mau ngelawan kamu? "bentak Burhan sambil mendekatkan badannya mencoba ingin memukul anak laki lakinya.
"Pah udah pah..."menarik suaminya yang ingin mencoba memukul anak semata wayangnya.
"Kamu jangan belain anak terus nanti dia manja. suatu saat dia selalu nyari perlindungan." ucap Burhan pada istrinya
__ADS_1
Rafa semakin garam mendengar ucapan orang tuanya dia masih coba mengontrol emosinya terlihat dari kepalan tangannya yang besar dan berurat.
"hahahaa... Gue gak minta masuk kelas unggulan wahai Tuan. Lantas mengapa anda menyalahkannya pada saya."ucap Raffa
"jika prestasi dan kepintaran diukur dari piala mengapa anda tidak belinya saja, bukankah Anda bisa membeli sebanyak-banyaknya."ucap Raffa
"satu lagi,saran dari anak kecil bodoh ini, jika anda ingin mendapatkan banyak pujian sesuai yang anda mau. Anda bisa membeli piala bukan begitu wahai papa?" ketus Raffa meninggalkan orangtuanya
"RAFFA AUSTIN FIDAI !" teriak Papanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rafa memilih memainkan game untuk mengusir kemarahannya, walaupun waktu sudah menunjukkan larut malam, namun iya tetap memainkan game itu hingga dirinya terasa terganggu oleh notifikasi pesan ponsel nya.
Pesan baru dari Nicolas
Arr..
Gue harap Lo gak lupa
*Mengirim beberapa foto *
^^^O^^^
^^^K^^^
Raffa mengganti aktivitas rebahannya dengan berjalan ke arah tumpukan buku yang tak jauh dari ranjangnya, ya walaupun sepertinya iya terpaksa melakukan itu setelah membaca pesan dari temannya.
10 menit telat berlaku Raffa keluar dari kamarnya sambil membawa kunci motornya, sebenarnya ia hanya ingin memindahkan motornya yang ia parkir di sembarang ke tempat yang semestinya.
Namun perkataan papanya membuatnya sedikit kesal. bagaimana tidak kesal jika papanya menuduh Raffa ingin kelayapan keluar malam, seperti anak-anak lain.
"Bagaimana bisa dibanggain kalau kerjanya selalu keluar malam." teriak Burhan.
"Itu, anak yang selalu kamu banggain sayang!" tanya Burhan ke istrinya
"sepertinya kamu salah membanggakan anak."sindir suaminya, "kau lihat sendiri sayang, ini adalah mimpimu yang terlalu besar pada gulma seperti dia."
"jadi tolong jangan bermimpi lagi, kau salah jika berharap pada gulma, gulma hanya menjadi benalu pada tumbuhan lainnya."
Raffa jengah mendengar perkataan ayahnya yang selalu memandangnya rendah dan pada akhirnya dia memutuskan kembali ke kamarnya dengan perasaan jengkel kesekian kalinya.
"Pah, cukup pah, nggak semuanya bisa di ukur dengan prestasi." betak Dahlia pada suaminya
"tapi... sayang." balas Burhan
"caramu salah! tidak semua orang bisa menerima ketika pintu mereka di didobrak paksa."tutur Dahlia
"Tapi sayang... jika itu pintunya emas aku mungkin tak akan mendobraknya. tapi, lihatlah anak itu seperti pintu tak layak pakai, untuk apa aku mempertahankan nya!" ucap Burhan pergi menjauhi istrinya.
Cuaca malam ini sepertinya dingin terlihat langit sangat peka tanpa bulan ataupun gemintang yang menghiasnya. namun berbeda dengan hati Raffa yang panas, kesal dengan pandangan orang tuanya.
Demi mengisi keheningan malamnya sambil menunggu kantuk yang belum datang. Rafa lebih memilih menghabiskan waktunya bersama ponsel untuk menscrolling sosial medianya.
Wajah Raffa menampakkan ketidak setujuan dengan postingan salah satu akun yang bernama Recehan Remaja di sosmed yang ia baca pada ponselnya.
Raffa memberikan tanggapan dan kritik pada postingan tersebut, " Tidak semua pohon selalu dirawat, malah lebih banyak yang memetik bunganya bahkan menodongkan parang untuk memotong tangkai atau dahannya."
Dering ponsel seorang gadis di ruangan yang hampir seluruhnya berwarna kuning mengalihkan aktivitas rebahannya, terpaksa gadis itu membuka ponsel untuk melihat notifikasi tersebut, tapi betapa kagetnya ketika dia melihat ada seseorang yang mengomentari postingan nya.
__ADS_1
Gadis itu kaget bukan karena seseorang mengomentari ketidak setujuan dari banyaknya komentar yang sependapat, akan tetapi gadis tersebut kaget ketika ia mengetahui siapa yang memberikan komentar tersebut, yang tak lain adalah pria yang ia kenal, juga sama bersekolah bersama dirinya.
Bahkan dirinya dibuat kaget kembali karena secara tak sengaja dirinya melihat foto temannya di posting oleh pria yang menjadi kakak kelasnya, yang cukup dikenal karena aktif dalam keorganisasian.